Longsor di Jalan Arjuna, Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, sejak 2022 semakin bertambah luas hingga kini. BPBD menyebut jangkauan longsor itu mencapai 1,5 kilometer. Longsor itu juga disebut berpotensi merembet ke permukiman.
"(Penyebab) Menurut teman-teman teknis kan ada aliran air, kemudian mereka seolah-olah seperti mata air, kemudian tanah di seputarannya menjadi jenuh," kata Kepala BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro saat ditemui di kantornya, Sabtu (28/2/2026)
"(Tanah itu termasuk) Batu lempung formasi kerek, karakternya kan mudah lumer, istilahnya seperti itu, sehingga itulah yang menyebabkan munculnya longsor-longsor," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alex menjelaskan, tanah jenuh itu membuat tampungan air kemudian mencari jalan. Dalam proses itulah tanah bagian bawah ikut terseret dan tanah permukaan amblas karenanya.
"Kajian teknisnya dari teman-teman DPU itu ada tampungan seolah-olah kayak mereka (air) itu membuat satu tampungan sendiri. Jadi terus terus terus, nah ketika sudah jenuh pasti dia akan mencari jalan. Nah, itulah yang yang menyebabkan ketika mereka mencari jalan kemudian muncul lah gerakan-gerakan longsoran," ujar Alex.
Alex menyebut saat ini terjadi peningkatan longsor lebih dari 30 persen dari posisi awal. Lebar longsoran itu sekitar 250 meter dan menjangkau hingga 1,5 kilometer.
"Kalau kami melihat sih kurang lebih sekitar peningkatannya ya 30-an persen dari posisi awalnya, 30-40 persen. Jangkauan longsornya itu sampai 1,5 kilo, kemudian lebar longsoran itu kurang lebih sekitar 250-an meter, kemudian tinggi longsoran itu 60 meter," jelasnya.
Alex membenarkan bahwa longsor itu berpotensi merembet ke wilayah permukiman yang berada di sisi selatannya. Sebagai langkah antisipasi, pihaknya memasang alat early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini.
"Kami juga sudah melakukan pendataan, data dari Bu Kadus dikirim ke kami itu kalau khusus yang warga terdampak di sisi selatan itu ada 22 KK di RT 4 RW 3," tutur Alex.
"Memang kalau potensi itu (longsor merembet ke permukiman) pasti ada, cuma harapan kami kan saat ini kita antisipasi dengan pemasangan EWS, kemudian meningkatkan tingkat kewaspadaan masyarakat," imbuhnya.
Untuk memastikan kondisi yang terjadi, Alex juga mengaku telah berkoordinasi dengan Badan Informasi Geospasial. Hal ini dilakukan agar nantinya penanganan di lokasi tersebut tepat dan aman.
"Kami juga sudah berkoordinasi dengan Badan Informasi Geospasial untuk membantu menganalisa kondisi seperti itu. Harapannya itu bisa menjadi data awal baru, modal awal baru, untuk bagaimana kita menangani di sana," kata Alex.
Diberitakan sebelumnya, longsor di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang yang terjadi sejak tahun 2022 kian parah. Terkini, longsoran di jalur alternatif Ungaran-Mranggen tersebut merembet ke sisi selatan jalan dan mulai mendekati rumah warga.
Warga RT 4 RW 3 yang berada di sisi selatan jalan, Sunardi (46), mengatakan longsoran pertama terjadi di tersebut sejak empat tahun lalu. Namun, pergerakan tanah sudah terjadi sejak 2010 silam.
"Mulai pergerakan tanah di sini itu 2010 sudah yang di bawah sana kan sudah mulai geser-geser. Kemudian parahnya bulan yang sama (Februari) 2022 itu longsor tapi jalan masih bisa," kata Sunardi saat ditemui detikJateng di lokasi, Jumat (27/2/2026).
"Kemudian beberapa hari ada (longsor) susulan jalan sebelah sana dekat RT 6 sudah terputus tidak bisa lewat lagi," sambungnya.
Sunardi menyebut longsor besar kembali terjadi di daerah itu pekan lalu. Ia menduga longsoran terjadi karena curah hujan tinggi.
"Kejadian ini kemarin 16 Februari. Soalnya kan hujan deras siang malam di tanggal 15, paginya sekitar jam 05.00-06.30 WIB kejadian," ungkap Sunardi.
Simak Video "Video: Kecelakaan Karambol di Tol Gayamsari Semarang, 8 Orang Terluka"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/afn)











































