Longsor di Kalongan Ungaran Makin Parah Bikin Warga Waswas

Longsor di Kalongan Ungaran Makin Parah Bikin Warga Waswas

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Jumat, 27 Feb 2026 16:41 WIB
Kondisi longsor di Jalan Arjuna, Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jumat (27/2/2026).
Kondisi longsor di Jalan Arjuna, Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jumat (27/2/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng
Semarang -

Longsor di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang yang terjadi sejak tahun 2022 kian parah. Terkini, longsoran di jalur alternatif Ungaran-Mranggen tersebut merembet ke sisi selatan jalan dan mulai mendekati rumah warga.

Pantauan detikJateng di lokasi, tampak sejumlah banner dipasang untuk memberitahukan jika ada longsoran di wilayah tersebut. Pengguna kendaraan bisa memutar lewat Jalan Bima-Jalan Nakula yang ukurannya sedikit lebih sempit.

Data dari BPBD Kabupaten Semarang menyebutkan ruas jalan yang terdampak longsor sepanjang 300 meter. Terlihat di lokasi tersebut jalan sudah terputus total.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Longsoran yang mendekati rumah warga tersebut tidak merata, melainkan membentuk seperti huruf U. Pada bagian bawah atau daerah longsoran, terlihat tiang kabel telepon, pepohonan, dan potongan aspal yang tergerus akibat longsor.

Warga RT 4 RW 3 yang berada di sisi selatan jalan, Sunardi (46), mengatakan longsoran pertama terjadi di tersebut sejak empat tahun lalu. Namun, pergerakan tanah sudah terjadi sejak 2010 silam.

ADVERTISEMENT

"Mulai pergerakan tanah di sini itu 2010 sudah yang di bawah sana kan sudah mulai geser-geser. Kemudian parahnya bulan yang sama (Februari) 2022 itu longsor tapi jalan masih bisa," kata Sunardi saat ditemui detikJateng di lokasi, Jumat (27/2/2026).

Penampakan longsor yang meluas di Desa Kalongan, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jumat (27/2/2026).Penampakan longsor yang meluas di Desa Kalongan, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jumat (27/2/2026). Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng

"Kemudian beberapa hari ada (longsor) susulan jalan sebelah sana dekat RT 6 sudah terputus tidak bisa lewat lagi," sambungnya.

Sunardi menyebut longsor besar kembali terjadi di daerah itu pekan lalu. Ia menduga longsoran terjadi karena curah hujan tinggi.

"Kejadian ini kemarin 16 Februari. Soalnya kan hujan deras siang malam di tanggal 15, paginya sekitar jam 05.00-06.30 WIB kejadian," ungkap Sunardi.

Sunardi yang rumahnya terletak sekitar 40 meter dari ujung longsoran baru mengaku khawatir dengan kondisi ini. Namun, ia tak ingin direlokasi.

"Kalau khawatir pasti, tapi ndak, belum kepikiran soal relokasi. Maunya sih jangan, berharapnya jangan tambah lagi longsornya," tutur Sunardi.

Sebagai upaya mengurangi dampak longsor, menurut Sunardi, warga bakal bergotong royong menanam pohon dari ujung bawah titik longsor. Agenda itu rencananya akan dilakukan mulai akhir pekan ini.

"Penanaman pohon, istilahnnya satu juta pohon, bahasanya seperti itu. Rencananya mulai hari Minggu kalau tidak hujan. Ada pohon mahoni, trembesi, banyak lah macam-macam. Mulai dari bawah niku untuk penanggulangannya," jelas Sunardi.

"Karang Taruna yang bergerak. Jadi dana-dana kita cuma dana pribadi, belum ada uluran dari mana-mana. dari pemerintah belum, cuman kita izin dari petani, kelurahan, dari kerja sama dari pertanian," imbuhnya.

Sunardi juga berharap jalan ini dapat kembali tersambung. Namun menurutnya, pemerintah selalu terkendala dana untuk membangun kembali jalan alternatif Ungaran - Mranggen itu.

"Semua kan penginnya gitu (jalan kembali tersambung). Tapi pemerintah terkendala memang terkendala dari dana, setiap musyawarah seperti itu bilangnya," kata Sunardi.

Sementara warga RT 6 RW 3 yang rumahnya berada sekitar 100 meter sebelah barat sisi longsoran, Purwati (54), juga mengharapkan jalan itu bisa diperbaiki. Ia menyoroti seringnya terjadi kecelakaan di jalur pengganti.

"Sekarang dialihkan ke jalur alternatif yang di sana, cuma itu lebih ramai banyak kecelakaan. Kemarin aja sudah newaskan berapa orang itu yang di sana," ujar Sunarti.

Ia juga khawatir dengan longsor yang semakin luas. Berbeda dengan Sunardi, ia cenderung ingin direlokasi demi keamanan.

"Khawatir ya pasti, manusiawi. Tapi punyanya rumah di sini kan gimana. Pasrah sama yang yang di atas sambil berdoa moga-moga ya cukup di situ aja (longsornya)," tutur Sunarti.

"Penginnya juga ya kayak gitu, ada relokasi biar tenang. Lah tapi nggak tahu ini rencana pemerintah ya nggak ngerti mau gimana," sambungnya.




(afn/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads