Lupa Membaca Niat Puasa Ramadan, Bagaimana Hukumnya?

Lupa Membaca Niat Puasa Ramadan, Bagaimana Hukumnya?

Nur Umar Akashi - detikJateng
Senin, 23 Feb 2026 10:47 WIB
Lupa Membaca Niat Puasa Ramadan, Bagaimana Hukumnya?
Niat puasa. (Foto: Getty Images/Kikujiarm)
Jogja -

Niat adalah komponen vital ibadah, apa pun jenisnya, termasuk puasa Ramadan. Tanpa niat, ibadah tak ubahnya kegiatan biasa yang tidak bernilai agama. Lalu, bagaimana jika lupa membaca niat puasa Ramadan?

Tidak bisa dipungkiri, manusia bukanlah makhluk sempurna. Kita mungkin luput memasang alarm sehingga baru bangun ketika adzan subuh telah berkumandang. Lain kesempatan, akibat bekerja shift malam, seseorang bangkit dari kasurnya ketika Matahari telah meninggi.

Karena satu dan lain alasan itu, seorang muslim jadi tidak sempat membaca niat puasa Ramadan. Apakah puasa Ramadan-nya otomatis tidak sah? Simak pembahasan ringkas mengenai ketentuan hukum lupa membaca niat via uraian berikut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Poin Utamanya:

  • Niat adalah landasan setiap ibadah. Niat membedakan ibadah dan bukan ibadah.
  • Niat puasa, termasuk puasa Ramadan, wajib ada di hati. Mengucapkannya diperselisihkan ulama. Ada yang menyebut sunnah, sedangkan lainnya melarang karena dianggap bid'ah.
  • Lupa membaca niat puasa, tetapi sudah berniat dalam hati, maka puasanya sah. Namun, jika lupa berniat di hati, puasanya tidak sah berdasar hadits Nabi. Dalam situasi itu, sebaiknya tetap berniat pagi harinya sebagai bentuk kehati-hatian.

ADVERTISEMENT

Perlukah Niat Puasa Ramadan Dibaca?

Sebelum menyelami hukum lupa membaca niat, detikers perlu tahu letak niat dahulu. Dikutip dari buku Fiqih Kontroversi Jilid 1 oleh H M Anshary, niat letaknya di hati. Salah satu dalilnya adalah hadits qudsi:

"Sesungguhnya Allah SWT mencatat kebajikan dan kejahatan seseorang. Maka barang siapa yang berniat berbuat suatu kebajikan, tetapi tidak ia kerjakan, Allah SWT mencatat baginya kebaikan yang sempurna. Tetapi jika ia mengerjakan kebaikan itu, maka Allah SWT mencatat baginya sepuluh sampai seratus kebaikan dengan berlipat ganda.

Dan barang siapa yang berniat melakukan kejahatan, tetapi tidak sampai ia lakukan, maka Allah SWT mencatat baginya sebagai kebajikan yang sempurna. Tetapi jika seseorang berniat melakukan suatu kejahatan dan terlaksana, Allah SWT mencatat baginya satu kejahatan." (HR Bukhari)

Hadits ini menegaskan bahwa niat itu tempatnya di hati. Dan Allah SWT adalah Rabb Semesta Alam yang pasti tahu isi hati makhluk-makhluknya.

Lalu, apakah niat puasa Ramadan itu wajib diucapkan? Menurut keterangan dari laman Nahdlatul Ulama (NU) Online, hukumnya sebatas sunnah saja. Yang terpenting adalah sudah berniat di dalam hati.

Tertulis dalam kitab I'anah ath-Thalibin:

Ψ§Ω„Ω†ΩŠΨ§Ψͺ Ψ¨Ψ§ Ω„Ω‚Ω„Ψ¨ ΩˆΩ„Ψ§ يشΨͺΨ±Ψ· Ψ§Ω„Ψͺلفظ Ψ¨Ω‡Ψ§ Ψ¨Ω„ ΩŠΩ†Ψ―Ψ¨

Artiny: "Niat itu dengan hati, dan tidak disyaratkan mengucapkannya. Tetapi mengucapkan niat itu disunahkan." (I'anah ath-Thalibin hal 221)

Di sisi lain, ada ulama yang menganggap pengucapan niat tidak perlu. Dalam artian, bukan sunnah sama sekali. Bahkan, dianggap bid'ah sehingga mesti ditinggalkan. Contohnya adalah Ubaidullah al-Mubarakfuri. Ia berkata:

"Tidak ada dalil dari Al-Quran, hadits, atau keterangan sahabat Nabi bahwa niat dilafalkan ketika ingin berpuasa atau sholat. Bahkan itu sebatas pendapat sehingga hukumnya bid'ah secara agama. Dan seluruh bid'ah dalam agama adalah buruk dan harus ditinggalkan." (Mir'ah al-Mafatih, VI/475)

Wallahu a'lam bish-shawab.

Hukum Lupa Membaca Niat Puasa Ramadan

Usai membaca uraian di atas, sudah jelas bahwasanya lupa membaca niat puasa Ramadan bukanlah masalah. Puasanya tetap sah dengan catatan, seseorang sudah berniat di hati sebelum batas waktu.

Berdasar penjelasan Ahmad Muhaisin B Syarbaini dalam buku 33 Pertanyaan Populer Seputar Puasa Ramadhan: Disertai Dalil dan Penjelasan dari Kitab Para Ulama, waktu niat puasa Ramadan adalah sejak maghrib hingga batas masuk subuh.

Imam an-Nawawi berkata:

"Guna menunaikan fardhu puasa, disyariatkan untuk berniat pada malam hari. Dan menurut pendapat yang shahih (kuat) bahwasanya niat puasa itu tidak disyaratkan harus dilakukan pada pertengahan dari separuh akhir malam." (Minhaj ath-Thalibin hal 108)

Apa konsekuensinya jika lupa berniat di hati hingga lewat batas waktunya? Dalam situasi itu, puasa Ramadan tidak sah dan wajib diganti pada lain kesempatan. Dasarnya adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam:

Ω…ΩŽΩ†Ω’ Ω„ΩŽΩ…Ω’ ΩŠΩΨ¨ΩŽΩŠΩ‘ΩΨͺΩ’ Ψ§Ω„Ψ΅Ω‘ΩΩŠΩŽΨ§Ω…ΩŽ Ω‚ΩŽΨ¨Ω’Ω„ΩŽ Ψ§Ω„Ω’ΩΩŽΨ¬Ω’Ψ±Ω ΩΩŽΩ„ΩŽΨ§ Ψ΅ΩΩŠΩŽΨ§Ω…ΩŽ Ω„ΩŽΩ‡Ω

Artinya: "Siapa yang belum berniat di malam hari sebelum subuh, maka tidak ada puasa untuknya." (HR an-Nasa'i, Ibnu Majah, dan Abu Dawud)

Dirujuk dari laman NU Lampung, terdapat 'solusi' bagi umat Islam yang lupa menetapkan niat di hati. Solusinya adalah tetap berniat puasa pada pagi hari. Perbuatan ini mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah yang beranggapan niat pada pagi hari mencukupi.

Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan:

وَفِي Ψ§Ω„Ω’Ω…ΩŽΨ¬Ω’Ω…ΩΩˆΨΉΩ ΩŠΩΨ³ΩŽΩ†Ω‘Ω Ω„ΩΩ…ΩŽΩ†Ω’ Ω†ΩŽΨ³ΩΩŠΩŽ Ψ§Ω„Ω†Ω‘ΩΩŠΩ‘ΩŽΨ©ΩŽ فِي Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ψ£ΩŽΩ†Ω’ ΩŠΩŽΩ†Ω’ΩˆΩΩŠΩŽ Ψ£ΩŽΩˆΩ‘ΩŽΩ„ΩŽ Ψ§Ω„Ω†Ω‘ΩŽΩ‡ΩŽΨ§Ψ±Ω لِΨ₯ΩΨ¬Ω’Ψ²ΩŽΨ§Ψ¦ΩΩ‡Ω ΨΉΩΩ†Ω’Ψ―ΩŽ أَبِي Ψ­ΩŽΩ†ΩΩŠΩΩŽΨ©ΩŽ ΩΩŽΩŠΩΨ­Ω’Ψͺَاطُ Ψ¨ΩΨ§Ω„Ω†Ω‘ΩΩŠΩ‘ΩŽΨ©Ω ΩΩŽΩ†ΩΩŠΩ‘ΩŽΨͺُهُ Ψ­ΩΩŠΩ†ΩŽΨ¦ΩΨ°Ω ΨͺΩŽΩ‚Ω’Ω„ΩΩŠΨ―ΩŒ Ω„ΩŽΩ‡Ω وَΨ₯ΩΩ„Ω‘ΩŽΨ§ ΩƒΩŽΨ§Ω†ΩŽ مُΨͺΩŽΩ„ΩŽΨ¨Ω‘ΩΨ³Ω‹Ψ§ بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ فِي Ψ§ΨΉΩ’ΨͺΩΩ‚ΩŽΨ§Ψ―ΩΩ‡Ω ΩˆΩŽΨ°ΩŽΩ„ΩΩƒΩŽ Ψ­ΩŽΨ±ΩŽΨ§Ω…ΩŒ

Artinya: "Dalam kitab Al-MajmΓ»' disebutkan, disunnahkan bagi orang yang lupa berniat puasa di bulan Ramadhan untuk berniat pada pagi hari karena bagi Imam Abu Hanifah hal itu sudah mencukupi, maka diambil langkah kehati-hatian dengan niat. Niat yang demikian itu mengikuti (taqlid) Imam Abu Hanifah. Bila tidak diniati taqlid maka ia telah mencampurkan satu ibadah yang rusak dalam keyakinannya dan hal itu hukumnya haram (Al-FatΓ’wΓ’ Al-Fiqhiyyah Al-KubrΓ’, juz IV, hal 307)

Dengan demikian, puasa masih bisa terselamatkan. Wallahu a'lam bish-shawab.

Bacaan Niat Puasa Ramadan

Bagi detikers yang mengikuti pendapat sunnahnya mengucap niat puasa Ramadan, bacaan Arab lengkap Latinnya perlu dihafal. Artinya juga sudah seyogianya diketahui sehingga membantu menguatkan hati.

Diambil dari buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari dari Kandungan hingga Kematian tulisan Dr Muh Hambali MAg, begini lafalnya:

Ω†ΩŽΩˆΩŽΩŠΩ’Ψͺُ Ψ΅ΩŽΩˆΩ’Ω…ΩŽ غَدٍ ΨΉΩŽΩ†Ω’ أَدَاِؑ ΩΩŽΨ±Ω’ΨΆΩ Ψ΄ΩŽΩ‡Ω’Ψ±Ω Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ω‡ΩŽΨ°ΩΩ‡Ω Ψ§Ω„Ψ³Ω‘ΩŽΩ†ΩŽΨ©Ω Ω„ΩΩ„Ω‘ΩŽΩ‡Ω ΨͺΩŽΨΉΩŽΨ§Ω„ΩŽΩ‰.

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adaa-i fardhi syahri Ramadaana haadzihis sanati lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Sengaja saya berpuasa wajib bulan Ramadan besok hari tahun ini karena Allah Ta'ala."

Demikian pembahasan ringkas mengenai hukum lupa membaca niat puasa Ramadan. Semoga pertanyaan detikers terjawab, ya!

FAQ

1. Puasa tapi lupa baca niat apakah sah?

Membaca niat adalah perkara yang masih diperdebatkan kesunnahannya. Yang pasti, niat puasa harus ada di hati. Oleh karena itu, bila lupa membaca niat, tetapi sudah berniat di hati, puasa tetap sah.

2. Apakah sah niat puasa di pagi hari?

Untuk puasa Ramadan, niat wajib ditanamkan di hati selama rentang waktu maghrib hingga sebelum subuh. Alhasil, niat puasa pagi hari tidak sah. Namun, jika terpaksa, tetaplah berniat pagi hari sebagai langkah kehati-hatian.

3. Niat puasa boleh sampai jam berapa?

Dalam konteks puasa Ramadan, waktu berniat terbentang sejak maghrib hingga batas waktu masuk subuh.




(sto/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads