Wajah Mbah Tadi (55) tampak lesu memandangi sawahnya yang masih tergenang banjir hingga siang ini. Petani dari Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan itu gusar padinya bakal gagal dipanen.
Pantauan detikJateng di Desa Tinanding dan Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, persawahan yang terhampar luas sepanjang mata memandang itu masih tergenang air cukup tinggi.
Sebagian lahan tampak sudah terpanen, namun masih banyak juga yang belum. Saat didekati, sebagian bulir-bulir padi tampak sudah mulai menghitam. Bau-bau yang tidak biasa juga mulai tercium di hidung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mbah Tadi merupakan salah satu petani yang lahannya tergenang air banjir imbas jebolnya tanggul Sungai Tuntang, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak pada Senin (16/2/2026) kemarin. Menurutnya, saat ini padi-padi miliknya dan beberapa petani lain di lokasi itu mulai berbau.
"Sudah bau kecing (tidak enak), tapi belum busuk," kata Mbah Tadi kepada detikJateng, Kamis (19/2/2026).
Meskipun belum sampai busuk, Mbah Tadi menyebut dia dan para petani lain belum berani memanen karena lahannya masih tergenang air banjir. Jika dipaksakan, ia khawatir combine harvester (kombi) atau mesin yang biasa digunakan untuk memanen bakal tenggelam.
"Dereng wani (belum berani) panen, masih banjir, nanti kombinya kelem (tenggelam). Semua petani di sini panennya pakai kombi, harusnya minggu ini sudah mulai panen semua," ujar Mbah Tadi.
Mbah Tadi berharap banjir lekas surut agar padinya yang sudah berbau itu masih bisa dipanen. Ia mengaku pasrah bakal merugi karena kualitas gabah yang nanti akan dijual sudah menurun.
"Masih bisa dijual nek mambu kecing ngeten (kalau bau tidak enak seperti ini), tapi penjualane murah, rugi. Tapi daripada busuk ndak bisa dijual sama sekali, ndak laku," jelas Mbah Tadi.
"Kalau normal, per kilo bisa dijual Rp 7 ribu, tapi kalau sudah kecing seperti ini paling Rp 4 ribu, ya yang jelas di bawah Rp 5 ribu lah," sambungnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan lahan pertanian seluas 1.842 hektare di Grobogan terendam banjir akibat cuaca ekstrem pada Senin (16/2). Luasan ini masih bersifat sementara dan bakal diverifikasi lebih lanjut.
Setelah menerima laporan awal terkait luas lahan terdampak tersebut, Fransisco menyebut pihaknya bakal mengidentifikasi tingkat kerusakan tanaman guna memastikan apakah tanaman benar-benar mengalami puso (gagal panen).
"Petugas pengendali organisme pengganggu tanaman atau POPT nanti cek di lapangan bahwa ini puso apa tidak. Karena kalau dalam kondisi terendam kan agak sulit untuk mendeteksi," kata Fransisco.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan langkah pendampingan bagi petani jika hasil pengecekan menyatakan terjadi gagal panen. Menurut Fransisco, laporan gagal panen itu bakal diteruskan kepada PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sebagai penanggung jawab program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
"Nah, jadi setelah itu kemudian dia bersama teman-teman lapangan melaporkan kondisi itu ke Jasindo, sebagai penanggung jawab asuransi usaha tani padi," tutur Fransisco.
Menurut Fransisco, batas waktu pelaporan lahan pertanian yang terdampak banjir adalah satu minggu agar klaim asuransi bisa diajukan. Oleh sebab itu, ia berharap petani yang terdampak dapat segera melaporkan kondisi lahannya.
"Paling tidak seketika kejadian sudah difoto, lapor dulu secara SMS, WA, dan sebagainya. Kemudian baru petugas turun untuk mengecek lapangan kebenarannya," ujar Fransisco.
Fransisco tak menampik jika belum seluruh petani terdaftar dalam program AUTP, sehingga belum semuanya memiliki perlindungan asuransi. Pihaknya terus mendorong petani, terutama pada daerah yang berpotensi terdampak bencana, agar lekas mendaftarkan lahannya melalui penyuluh pertanian.
"Kita dorong masyarakat dengan kondisi daerah-daerah yang mungkin berpotensi untuk terjadinya bencana itu, untuk mendaftarkan diri. Karena kalau tidak itu kan tidak ter-cover," kata Fransisco.
(aku/apl)











































