Dirjen Hubdat Rakor Kesiapan Mudik Lebaran 2026, Antisipasi Pemudik Tinggi

Dirjen Hubdat Rakor Kesiapan Mudik Lebaran 2026, Antisipasi Pemudik Tinggi

Agil Trisetiawan Putra - detikJateng
Sabtu, 14 Feb 2026 19:41 WIB
Kemenhub mulai persiapan mudik Lebaran 2026 jalur darat.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, saat memimpin rapat koordinasi kesiapan mudik lebaran 2026 di Terminal Tirtonadi, Kota Solo, Sabtu (14/2/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
Solo -

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Hubdat), Kementerian Perhubungan, bersama instansi terkait menggelar rapat koordinasi kesiapan mudik Lebaran tahun 2026 di Terminal Tirtonadi, Kota Solo. Rapat digelar untuk mempersiapkan segala sesuatu keperluan pelayanan pada arus mudik di Jawa Tengah (Jateng).

Dalam rapat tersebut dijelaskan, pergerakan arus mudik akan mulai terjadi pada Kamis (12/3). Diperkirakan puncak arus mudik pertama terjadi pada Jumat (13/3), dan puncak arus mudik kedua pada Rabu (18/3).

Sementara arus balik akan mulai terjadi pada Senin (23/3). Dengan puncak arus balik pertama pada Selasa (24/3), dan puncak arus balik kedua pada Sabtu (28/3).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, mengatakan pihaknya telah melakukan survei kesiapan jalan tol fungsional Jogja-Bawen, Terminal Tipe A Tingkir Salatiga. Survei dilakukan di jalan Tol dan arteri, termasuk rest area.

ADVERTISEMENT

Ia menuturkan, untuk rest area di sepanjang jalan Pantura sudah siap. Pihaknya bersama kepolisian dan pemerintah daerah juga menyiapkan alternatif rest area seperti masjid, dan kantor pemerintahan. Sehingga jika rest area di tol penuh, bisa menggunakan rest area di jalur arteri.

"Terkait jalan, masih ada beberapa yang masih diperbaiki. Baik itu di jalan arteri, Pantura, maupun jalan tol. Saya lihat itu masih ditangani, dan dari Balai Besar Jalan Nasional meyakinkan bahwa H-10 semua pekerjaan jalan sudah selesai," kata Aan kepada awak media di Terminal Tirtonadi, Kota Solo, Sabtu (14/2/2026).

Dari survei sebanyak 143,92 juta orang akan melaksanakan mudik tahun ini. Angka tersebut turun 1,75 persen jika dibandingkan hasil survei tahun lalu, yaitu sebanyak 146.49 juta.

"Melihat survei ada penurunan 1,7 persen. Tapi melihat realisasi tahun lalu ada peningkatan dari survei. Survei tahun lalu itu 146 juta tapi realisasinya 150 juta (pemudik). Kemungkinan dari angka prediksi survei tahun ini juga realisasinya akan tinggi sehingga perlu kita waspadai. Jangan sampai kita lengah, tetap kita melakukan persiapan yang luar biasa," ucapnya.

Dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri masih memperkirakan pada bulan Maret masih ada potensi turun hujan. Sehingga diharapkan masyarakat untuk lebih waspada saat libur lebaran.

Program Angkutan Mudik Gratis tahun ini juga masih akan dijalankan untuk mengurangi kepadatan arus lalulintas.

Sementara dalam Surat Keputusan Bersama (SKB), akan ada sejumlah pembatasan yang akan dilakukan selama arus mudik lebaran nanti. Seperti pembatasan angkutan barang sumbu 3 atau lebih. Aan menjelaskan, pembatasan angkutan barang akan diberlakukan tanggal 19-29 Maret.

Adapun angkutan barang yang diperbolehkan melintas hanya yang membawa bahan bakar, bahan kebutuhan pokok, pupuk, hewan ternak, dan bantuan korban bencana alam. Sementara yang dikecualikan yang membawa tambang, material bangunan, dan hasil galian.

"Pembatasan angkutan barang bukan melarang tapi mengatur, ini regulasinya untuk mengatur karena ada peningkatan kegiatan masyarakat pada masa libur lebaran. Kita harus melakukan upaya salah satunya pembatasan angkutan barang, yang sering kali sumber pelambatan maupun potensial terjadi kecelakaan," terangnya.

Setiap daerah akan menyiapkan kantong parkir untuk kendaraan angkutan barang yang dilarang untuk melintas. Hal ini dilakukan agar kendaraan tersebut tidak beroperasi.

Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan sistem ganjil genap saat arus mudik lebaran nanti. Aan mengatakan, pemberlakuan ganjil genap akan dilakukan situasional.

"Di SKB kita lakukan, tapi itu situasional dari penilaian Kepolisian apakah perlu ganjil genap. Tapi secara data, pembatasan angkutan barang, ganjil genap, hingga kontra flow itu harus dilakukan. Penentuan SKB berdasarkan kajian dan data," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jawa Tengah (Jateng), Kombes M. Pratama Adhyasastra, berujar sejumlah ruas jalan yang masih dilakukan perbaikan berada di Kendal, Kaligawe, hingga Demak. Dia berharap Balai Besar Jalan Nasional bisa menyelesaikan tepat waktu.

Diprediksi, pihak kepolisian akan menambah pos pada arus mudik lebaran 2026 ini. Tahun lalu, Polda Jateng membuat 219 pos yang terdiri dari Pos Pelayanan, Pos Pengamanan, dan Pos Terpadu. Pos Pusat berada di Kali Kangkung sebagai pengendalian di seluruh pos Polda Jateng.

"Di samping jalan tol dan arteri, kita juga membuka jalur alternatif untuk mengurai jika ada kepadatan. Kemungkinan pos akan bertambah, untuk memberikan pelayanan kenyamanan saudara kita yang mudik saat lebaran," kata Pratama.

Jalur Selatan sendiri akan menjadi opsi jalan alternatif jika Pantura sudah padat. Namun hal itu akan diberlakukan tentatif melihat situasi di lapangan.

Pihak kepolisian juga terus bekerjasama dengan stakeholder untuk menyediakan bahan bakar selama arus mudik, dan rest area.

"Apalagi jarak dengan tahun baru pendek, kita prediksi akan tumpah di lebaran," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Api Abadi Mrapen Padam, Kenapa?"
[Gambas:Video 20detik]
(apu/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads