Nasional

Pilu Bocah SD di NTT Bunuh Diri, Kemenkes Turun Tangan

Averus Kautsar - detikJateng
Rabu, 04 Feb 2026 13:53 WIB
Ilustrasi. Foto: Getty Images/MoMorad
Solo -

CATATAN: Depresi dan munculnya keinginan bunuh diri bukanlah hal sepele. Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh atau fisik. Jika gejala depresi semakin parah, segeralah menghubungi dan berdiskusi dengan profesional seperti psikolog, psikiater, maupun langsung mendatangi klinik kesehatan jiwa. Konsultasi online secara gratis juga bisa diakses melalui laman Healing119.id.

Seorang bocah 10 tahun di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia karena bunuh diri. Bocah itu juga menulis surat terakhir untuk ibunya. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun turun tangan untuk mendalami kasus ini.

Dilansir detikHealth, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, dr Imran Pambudi, MPHM mengatakan pihaknya tengah berkoordinasi dan melakukan pendalaman data dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) NTT dan Dinkes Kabupaten Ngada.

Salah satu yang diperiksa ialah sistem skrining kesehatan jiwa di wilayah tersebut.

"Pendalaman ini dilakukan untuk memastikan langkah tindak lanjut yang diambil berbasis data dan berorientasi pada penguatan sistem ke depan," kata dr Imran pada detikcom, Rabu (4/2/2026).

Imran mengatakan upaya pencegahan bunuh diri pada anak tidak bisa ditangani oleh satu sektor atau melalui satu pendekatan saja. Perlindungan anak membutuhkan kerja sama lintas sektor di tingkat daerah.

Lintas sektor itu meliputi sistem pendidikan, perlindungan perempuan dan anak, sektor sosial, serta peran aktif pemerintah daerah sebagai koordinator utama dalam menyatukan langkah pencegahan.

"Pendekatan ini penting karena faktor risiko sering kali muncul dalam konteks rumah, sekolah, dan lingkungan sosial, yang tidak selalu teridentifikasi melalui layanan kesehatan semata," ujar dia.

Imran menjelaskan aksi bunuh diri dalam konteks anak tidak dapat hanya dipahami dari aspek kesehatan jiwa saja. Perilaku tersebut bersifat multifaktorial yang dipengaruhi interaksi berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan.

Menurutnya, kondisi kemiskinan, kerentanan sosial ekonomi keluarga, keterbatasan akses pendidikan dan layanan dasar, relasi dalam keluarga, serta dinamika pergaulan dan lingkungan sekolah dapat menjadi faktor-faktor yang memperberat tekanan psikologis anak.

"Oleh karena itu, pendalaman data dan investigasi lapangan perlu dilakukan secara komprehensif dan lintas sektor, dengan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan," ucap Imran.

Dia menambahkan, tugas Kemenkes berperan dalam promosi dan peningkatan literasi kesehatan jiwa, deteksi dini, dan penyediaan layanan. Pihaknya juga akan terus melakukan koordinasi lintas sektor untuk melakukan pencegahan secara terpadu.

"Kami meyakini bahwa pencegahan bunuh diri pada anak membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa promosi kesehatan jiwa, deteksi dini, pendampingan yang konsisten, serta kehadiran sistem yang responsif sangat penting agar anak tidak menghadapi tekanan hidupnya sendirian," pungkasnya.



Simak Video "Video Top 5: iPhone 18 Pro Resmi Rilis hingga Kasus Bunuh Diri Naik Tiap Tahun"

(dil/ams)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork