Parah! 3 Ambulans Semarang Di-Prank Jemput Pasien, Ternyata Teror Tagih Utang

Parah! 3 Ambulans Semarang Di-Prank Jemput Pasien, Ternyata Teror Tagih Utang

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Selasa, 03 Feb 2026 18:41 WIB
Parah! 3 Ambulans Semarang Di-Prank Jemput Pasien, Ternyata Teror Tagih Utang
Ilustrasi ambulans. (Foto: Getty Images/ananaline)
Semarang -

Aksi orderan fiktif yang diterima tiga ambulans di Kota Semarang viral di media sosial. Mereka diduga jadi korban order palsu untuk menagih utang.

Video itu viral usai diunggah akun @informasi.semarang. Tampak ada tiga unit ambulans dan satu mobil pikap Lalamove yang berada di sepanjang jalan perumahan di Kecamatan Semarang Barat.

"Sebuah video beredar bahwa adanya orderan fiktif yang di alami 3 unit Ambulance dan 1 pick up Lalamove yang dilakukan oleh Oknum Cillector dari Pinjaman Online," tulis akun @informasi.semarang, Selasa (3/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disebutkan, pihak ambulans mendapat order pasien gawat darurat untuk diantarkan ke salah satu rumah sakit di Semarang. Sementara pikap Lalamove mendapat order untuk membawa sejumlah barang.

"Sesampainya di lokasi, kontak penelpon di konfirmasi namun yang disampaikan oknum ini "Tolong sampaikan untuk segera membayar hutang". Tetap waspada dan hati-hati lur, hindari pinjaman online apapun agar tak terjerumus," tulis akun itu.

ADVERTISEMENT

Salah satu Admin Ambulans Antasena, Aldy (25), membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut, peristiwa terjadi hari ini sekitar pukul 13.00 WIB. Ia mengatakan, order diterima dari seseorang bernama Adi Prasetya.

"Jadi, tadi penelepon atas nama Adi Prasetya. Dia membutuhkan ambulans untuk pengantaran pasien kontrol dari Jalan Puspowarno ke Rumah Sakit Columbia Asia," kata Aldy saat dihubungi detikJateng.

Ia mengatakan, pemesan mengirim data pasien lengkap, nama pemilik rumah, dan penanggung jawab. Alamat pun dikirimkan melalui fitur bagikan lokasi di WhatsApp sehingga pihaknya langsung bergegas berangkat menggunakan ambulans.

"Terus sampai di TKP, sampai di rumah yang di-shareloc, ternyata nggak ada yang pesan ambulans. Dan nomor yang tadi menghubungi ditelepon itu jawabannya itu kakak saya," ungkapnya.

Akhirnya pemilik rumah pun keluar dan mengatakan bahwa pesanan ambulans itu merupakan pesanan fiktif. Bahkan sehari sebelumnya, rumahnya juga didatangi sejumlah mobil Lalamove.

"Terus pemilik rumah keluar. Katanya 'itu fiktif, Mas. Kemarin sudah ada tujuh lalamove yang ke sini', malah gitu. Terus saya konfirmasi sama rekan saya. Nomor yang tadi menghubungi kita ditelepon sama rekan saya," ujar Aldy.

"Jawabannya 'suruh ngelunasin dulu utangnya itu. Suruh ngelunasin dulu Rp 14 juta. Kalau ndak nanti saya panggil damkar sama ambulans lain'," lanjutnya.

Ia menambahkan, bukan hanya ambulans Antasena yang menjadi korban. Dua ambulans lain milik rekan-rekannya juga mengalami hal serupa.

"Kalau di ambulans Antasena sendiri ini baru pertama kali. Tapi ambulans lain juga ada yang kena," katanya.

Akibat order fiktif tersebut, kata Aldy, pihak ambulans mengalami kerugian materiil dan tenaga. Sebab, ambulans swasta tetap melakukan respons cepat, sementara pembayaran dilakukan di akhir.

"Kita rugi BBM dan tenaga. Apalagi pas kondisi sepi order, malah keluar uang pribadi buat bensin. Namanya mobil kan OTW ke lokasi pasti butuh BBM. Terus kan mintanya cepat-cepat. Kita kesusu, lah," ujarnya.

Aldy lantas menyesalkan layanan ambulans yang justru dijadikan alat teror oleh debt collector (DC) pinjaman online (pinjol). Kendati demikian, Aldy menyebut pihaknya tidak akan melaporkan kasus ini ke polisi dan memilih menjadikannya sebagai pengalaman.

"Untuk masalah itu kita nggak mau tau ya, kita kan kerja di bidang ambulans, kalau ada panggilan butuh bantuan untuk antar ke rumah sakit pasti kita fast response. Apalagi berhubungan dengan nyawa," jelasnya.

"Yang disayangkan itu pelayanan ambulans dibuat main-main sama DC. Imbauannya buat warga hindari lah berurusan dengan DC, ruwet soale, kita kena imbasnya," sambungnya.




(alg/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads