Terisolasi gegara Jembatan Ambrol, Warga Tambaksari Sambat Ekonomi Lumpuh

Terisolasi gegara Jembatan Ambrol, Warga Tambaksari Sambat Ekonomi Lumpuh

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Kamis, 29 Jan 2026 17:37 WIB
Potret warga Tambaksari harus pulang-pergi pakai gethek di Kali Bringin, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Kamis (29/1/2026).
Potret warga Tambaksari harus pulang-pergi pakai gethek di Kali Bringin, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Kamis (29/1/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Robohnya jembatan penghubung di wilayah RW 7 Tambaksari, Kota Semarang, membuat aktivitas ekonomi warga nyaris lumpuh. Sementara itu harga kebutuhan pokok melonjak gegara akses yang terputus.

Pantauan detikJateng di Kali Bringin, Kelurahan Mangkang Wetan, tak ada lagi jembatan yang membentang di tengah sungai besar tersebut. Warga terlihat menyeberangi sungai menggunakan getek berbahan bambu dan jeriken plastik sebagai pelampung.

Anak-anak hingga orang dewasa tampak bergantian naik. Sebagian pedagang tampak membawa barang untuk dinaikkan ke getek sementara sepeda motornya ditinggal di tepi sungai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu warga Tambaksari, Hanafi (40), mengatakan lumpuhnya akses jembatan sejak Kamis (15/1/2026) lalu membuat hampir seluruh aktivitas ekonomi warga di RW 7 Tambaksari terganggu.

"Gara-gara itu (akses jalan sulit), ekonomi di wilayah RW 7 Tambaksari khususnya itu lumpuh karena ada robohnya jembatan," kata Hanafi kepada detikJateng di lokasi, Kamis (29/1/2026).

ADVERTISEMENT

Hanafi mengaku kesulitan ekonomi semakin memukul warga yang berprofesi sebagai nelayan. Mereka sudah tidak melaut hampir sebulan terakhir.

"Kalau saya sehari-hari nelayan, sementara ini hampir sebulan libur karena ada cuaca ekstrem dan gelombang besar. Pemasukan nggak ada kalau kayak gini," tutur dia.

"Biasanya kita pinjam uang, kadang kita jual barang seadanya, apa yang ada dijual, alat tangkapnya aja dijual. Nanti beli lagi waktu sudah nggak gelombang besar buat memenuhi kebutuhan sehari-hari," lanjutnya.

Beberapa nelayan terpaksa mencari nafkah dari pekerjaan lain, mencari utang atau pasrah dengan keadaan. Tampak beberapa warga yang menjahit jaring di depan rumahnya.

"Nelayan banyak yang libur karena gelombang besar. Jadi sekarang benar-benar tertekan, akses terputus, penghasilan nggak ada," ungkapnya.

Selama dua minggu ini, lanjut Hanafi, warga mendapat bantuan berupa sembako berisi minyak, beras, dan tiga mi instan. Bantuan itu harus dibagi untuk seluruh anggota keluarga.

"Bahkan ada yang satu rumah itu tiga keluarga cuma dapat satu sembako," ungkapnya.

Padahal akses jalan yang terputus membuat kebutuhan warga menjadi langka. Bahkan warga harus memanggul galon air minum dan gas LPG menyeberangi sungai.

"Air dari sumur bor itu kalau dikonsumsi rasanya agak asin, makanya sangat bergantung pada air galon kalau untuk konsumsi. Sedangkan air galon nyarinya susah. Susah harus ke sana, manggul," jelas Hanafi.

Kemudian jika memesan barang secara daring, ada kurir yang mengantar paket ke rumah tujuan dan menumpang getek. Namun, terkadang warga memilih paketnya dialamatkan ke tetangga kampung sebelah.

"Kalau hujan lebat, warga juga takut lewat. Apalagi anak-anak pulang sekolah nyeberang pakai gethek, itu rawan sekali, takutnya pas mau nyeberang nggak ada orang dewasa, atau banjir airnya besar, kan bahaya," ujarnya.

Ia menyebut, sudah ada peninjauan dari pemerintah kota, kecamatan, BBWS, hingga anggota DPRD. Namun hingga kini, belum ada kepastian kapan jembatan permanen akan dibangun.

"Kami sudah hampir tiga tahun berharap jembatan permanen dibangun. Sekarang kondisinya makin parah. Harapan kami satu, jembatan segera dibangun supaya ekonomi dan aktivitas warga bisa pulih," harap Hanafi.

Hal senada diungkapkan warga lainnya, Tuminah (53). Ia yang bekerja sebagai pedagang itu merasa kesulitan karena akses masuk-keluar kampung terputus.

"Sudah dua minggu nggak bisa lewat sama sekali. Mau ngantar dagangan ya nggak bisa. Biasanya saya antar sendiri, sekarang harus nyuruh anak atau suami, apalagi kaki lagi sakit," kata Tuminah kepada detikJateng.

Tuminah yang berjualan peyek gimbal dan jamu ini mengaku pendapatannya menurun drastis karena tak bisa menitipkan dagangannya. Selain akses sulit, harga kebutuhan pokok ikut melonjak karena biaya angkut bertambah.

"Harga-harga naik semua. Galon air isi ulang biasanya Rp 6 ribu sekarang jadi Rp ribu. Barang juga jadi lebih mahal karena dibawa pakai gethek, sayur tadinya Rp 10 ribu jadi Rp 13 ribu," ujarnya.

"Belum lagi kalau nyari di luar itu harus bawa diangkut pakai gethek, terus ke rumahnya jalan kaki, nggak bisa pakai motor to, kan ditaruh di sana," lanjutnya.

Tuminah juga menyebut pasokan gas semakin sulit didapatkan. Bahkan stok di tingkat agen disebut berkurang, sementara harganya menjadi Rp 22 ribu.

"Gas susah, katanya stok dikurangi. Biasanya satu pengepul bisa dapat banyak, sekarang cuma sedikit. Kalau mau nyari ya harus keluar jauh," keluh Tuminah.

Tak hanya itu, warga juga hanya bisa salat berjemaah di musala karena tak ada masjid di kampung tersebut. Saat pertama terkena banjir dan jembatan ambrol, warga bahkan berjalan kaki menerjang Kali Bringin.

"Anak saya berangkat kerja malam jam 23.00 WIB juga masih harus melewati sungai itu pakai gethek. Warga yang shift malam juga," jelasnya.

"Wis terisolasi banget-banget lah. Saya selama dua minggu belum pernah njambat (menyeberang jembatan)," tambahnya.

Halaman 2 dari 2
(ams/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads