Contoh Khutbah Jumat Lengkap dengan Pembuka dan Penutup Latin

Contoh Khutbah Jumat Lengkap dengan Pembuka dan Penutup Latin

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Kamis, 29 Jan 2026 13:51 WIB
Contoh Khutbah Jumat Lengkap dengan Pembuka dan Penutup Latin
Khutbah Jumat. (Foto: Raka Dwi Wicaksana/Unsplash)
Solo -

Khutbah Jumat merupakan bagian penting dari pelaksanaan sholat Jumat yang berfungsi sebagai nasihat dan pengingat bagi kaum muslimin agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Allah SWT menegaskan kewajiban sholat Jumat dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 9: "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk sholat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." Ayat ini menunjukkan bahwa sholat Jumat harus didahulukan dari segala urusan dunia.

Oleh karena itu, keberadaan teks khutbah Jumat yang tersusun sesuai tuntunan syariat menjadi sangat penting, khususnya bagi khatib pemula. Berikut disajikan contoh khutbah Jumat lengkap dengan pembuka dan penutup dalam versi latin yang dapat dijadikan sebagai referensi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Sholat Jumat Wajib bagi Laki-laki

Menurut laman Pondok Pesantren Mahad Amaliyyah Qurani, sholat Jumat diwajibkan bagi laki-laki Muslim yang telah baligh karena sholat ini merupakan ibadah wajib berjamaah yang ditetapkan oleh Allah SWT melalui Al-Quran dan Rasulullah SAW, khususnya untuk kaum laki-laki yang memenuhi syarat. Sedangkan wanita, tidak diwajibkan melaksanakannya.

ADVERTISEMENT

Al-Quran memerintahkan kaum beriman untuk berhenti dari jual-beli dan segeralah menuju pengingatan kepada Allah ketika adzan sholat Jumat dikumandangkan. Inilah yang dipahami sebagai kewajiban sholat Jumat bagi laki-laki yang baligh dan mampu melaksanakannya secara berjamaah di masjid.

Selain itu, kewajiban ini juga berkaitan dengan peran sosial laki-laki dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, di mana mereka digerakkan untuk memperkuat ukhuwah islamiyah, beribadah bersama, dan menunjukkan tanggung jawab keagamaan secara publik. Sementara itu, perempuan diberi kelonggaran untuk tidak menghadiri sholat Jumat karena tanggung jawab sosial dan peran mereka di rumah, meskipun bila hadir dan melaksanakannya tetap mendapatkan pahala.

Syarat Khutbah Jumat

Berikut ini merupakan syarat Khutbah Jumat baik bagi Khatib maupun Khutbah itu sendiri yang dilansir dari laman NU Online.

a. Syarat Khatib Jumat

  1. Berjenis Kelamin Laki-laki
    Khatib yang menyampaikan khutbah Jumat harus seorang laki-laki.
  2. Baligh dan Berakal Sehat
    Khatib harus sudah mencapai usia baligh serta memiliki akal yang sehat, sehingga mampu bertanggung jawab atas ucapan dan perbuatannya.
  3. Dalam Keadaan Suci
    Khatib wajib suci dari hadas besar dan hadas kecil, serta terbebas dari najis, baik pada badan, pakaian, maupun tempat yang digunakan untuk berkhutbah.
  4. Menutup Aurat
    Khatib harus mengenakan pakaian yang memenuhi ketentuan syariat dalam menutup aurat secara sempurna.
  5. Menyampaikan Khutbah dengan Berdiri
    Khutbah disampaikan dalam posisi berdiri bagi khatib yang mampu melaksanakannya.
  6. Memahami Ketentuan Khutbah
    Khatib harus memahami rukun dan syarat khutbah Jumat serta mampu membedakan keduanya agar khutbah yang disampaikan sah secara syariat.

b. Syarat Khutbah Jumat (Isi dan Pelaksanaannya)

  1. Dilaksanakan pada Waktu Zuhur
    Khutbah Jumat harus dilakukan pada waktu Zuhur dan disampaikan sebelum pelaksanaan sholat Jumat dimulai.
  2. Rukun Khutbah Berbahasa Arab
    Seluruh rukun khutbah, seperti hamdalah, shalawat kepada Nabi, wasiat ketakwaan, pembacaan ayat Al-Quran, serta doa, wajib disampaikan dalam bahasa Arab.
  3. Terdiri atas Dua Khutbah
    Khutbah Jumat dilaksanakan dua kali, yaitu khutbah pertama dan khutbah kedua.
  4. Diselingi Duduk di Antara Dua Khutbah
    Khatib diwajibkan duduk sejenak dengan tenang sebagai pemisah antara khutbah pertama dan khutbah kedua.
  5. Dilaksanakan Secara Berkesinambungan (Muwalah)
    Tidak boleh ada jeda yang terlalu lama antara khutbah pertama dan khutbah kedua, serta antara khutbah dengan pelaksanaan sholat Jumat.
  6. Dapat Didengar oleh Jamaah
    Khutbah harus disampaikan dengan suara yang dapat didengar oleh jamaah sholat Jumat yang sah, minimal oleh 40 orang menurut sebagian pendapat ulama.
  7. Diawali dengan Takbir dan Tahmid
    Khutbah dimulai dengan mengucapkan takbir dan memuji Allah SWT (tahmid), khususnya pada awal khutbah pertama.
  8. Memuat Wasiat Ketakwaan
    Khatib wajib menyampaikan nasihat atau ajakan untuk bertakwa kepada Allah SWT sebagai bagian dari isi khutbah.
  9. Membaca Ayat Al-Quran
    Minimal satu ayat Al-Quran harus dibacakan pada salah satu dari dua khutbah.
  10. Membaca Doa untuk Kaum Mukminin
    Pada khutbah kedua, khatib memanjatkan doa yang ditujukan bagi kaum mukminin dan mukminat.

Rukun Khutbah Jumat

detikers, berikut adalah rukun dari khutbah Jumat menurut Buku Panduan Khutbah Jum'at untuk Pemula karya Irfan Maulana.

1. Membaca Puji-pujian kepada Allah

Rukun pertama khutbah Jumat adalah membaca pujian kepada Allah SWT. Pujian ini wajib menggunakan lafaz yang berasal dari akar kata "hamdun" serta menyebut lafaz jalalah "Allah" secara jelas.

Contoh bacaan yang sah:

  • Alhamdu lillāh
  • NaαΈ₯madu lillāh
  • Lillāhil-αΈ₯amdu

Contoh bacaan yang tidak sah:

  • Asy-syukru lillāhi (tidak memakai akar kata hamdun)
  • Alhamdu lir-RaαΈ₯mān (tidak menyebut lafaz "Allah")

Dalam Kitab Bajuri dijelaskan bahwa minimal pujian adalah adanya kata "hamdun". Jika tidak ada lafaz tersebut, maka khutbah tidak sah. Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan bahwa pujian harus mengandung lafaz "Allah" dan "hamdun" atau yang satu akar kata dengannya, seperti alhamdulillah, ahmadu-Llāha, dan sejenisnya.

2. Membaca Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW

Rukun kedua adalah membaca shalawat, dengan syarat menggunakan lafaz "al-shalātu" atau kata yang satu akar dengannya. Untuk penyebutan Nabi, tidak harus menggunakan nama "Muhammad" Boleh menggunakan sebutan lain seperti Rasulullah, Ahmad, an-Nabi, al-Basyir, an-Nadzir. Namun harus menggunakan isim dhahir (nama jelas), bukan isim dhamir (kata ganti), menurut pendapat yang kuat.

3. Membaca Wasiat Ketakwaan

Rukun ketiga adalah wasiat atau nasihat yang berisi ajakan melakukan ketaatan kepada Allah, atau menjauhi perbuatan maksiat. Contoh wasiat yang sah:

  • Ittaqullāh (bertakwalah kepada Allah)
  • AαΉ­Δ«'ullāh (taatilah Allah)
  • InzajirΕ« 'anil-ma'āshΔ« (jauhilah maksiat)

Tidak cukup hanya mengingatkan tentang tipu daya dunia, jika tidak disertai ajakan taat atau menjauhi maksiat. Menurut Syekh Ibrahim al-Bajuri, cukup salah satu antara ajakan taat atau larangan maksiat, tidak harus keduanya sekaligus.

4. Membaca Sepenggal Ayat Al-Quran

Rukun keempat adalah membaca minimal satu ayat Al-Quran yang memiliki makna sempurna dan dapat dipahami, seperti:

  • Ayat janji
  • Ayat ancaman
  • Ayat hikmah
  • Ayat kisah

Tidak sah membaca ayat yang tidak memiliki makna utuh, seperti potongan ayat yang belum memberi pemahaman sempurna. Membaca ayat Al-Quran lebih utama dilakukan pada khutbah pertama, agar menjadi pasangan dengan doa pada khutbah kedua.

5. Membaca Doa untuk Kaum Muslimin dan Muslimat

Rukun kelima adalah mendoakan kaum mukmin, dengan syarat doa tersebut bernuansa ukhrawi (akhirat).

Contoh doa yang sah:

  • Allāhumma'ghfir lil-muslimΔ«na wal-muslimāt
  • Allāhumma ajirnā minan-nār

Doa yang hanya bersifat duniawi, seperti meminta harta atau jabatan, tidak mencukupi sebagai rukun khutbah. Menurut Syekh Zainuddin al-Malibari, doa ini lebih utama dibaca pada khutbah kedua, sebagaimana praktik ulama salaf dan khalaf.

Contoh Khutbah Jumat dengan Pembuka dan Penutup Latin

1. Contoh khutbah Jumat berjudul "Pentingnya Menjaga Iman"

(Sumber: Materi Khutbah Jumat Sepanjang Tahun karya Muhammad Khatib)

Al-αΈ₯amdu lillāhilladzΔ« amaranā bi tarbiyatil-aulād, wa an'ama 'alaynā bini'matil-Δ«mān wal-islām, wa hadānā ilā sabΔ«lir-rasyād.

Asyhadu an lā ilāha illallāhu waαΈ₯dahΕ« lā syarΔ«ka lah, syahādatan ad-dakhiruhā li yaumil-ma'ād.

Wa asyhadu anna MuαΈ₯ammadan 'abduhΕ« wa rasΕ«luh, ad-dā'Δ« bi qawlihΔ« wa fi'lihΔ« ilā dāris-salām al-mu'abbad.

Allāhumma αΉ£alli wa sallim wa bārik 'alā sayyidinā MuαΈ₯ammad as-samΔ« al-mumajjad, αΉ£alātan tasyfΔ«nā bihā minad-dā'i wal-asqām, wa tuzΔ«lul-fasād.

Wa 'alā ālihΔ« wa aαΉ£αΈ₯ābihΔ« wa man tabi'ahum bi iαΈ₯sān ilā yaumid-dΔ«n.

Amma ba'du, fa yā 'ibādallāh, uṣīkum wa nafsī bitaqwāllāhis-ṣamad, la'allakum tadkhulūna jannata rabbikum ma'alladzīna an'amallāhu 'alaihim min khairil-'ibād.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada kesempatan yang berbahagia ini, tidak lupa saya berwasiat, khususnya kepada diri saya pribadi dan umumnya kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa. Yaitu dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Hanya dengan takwa kita akan memperoleh kebahagiaan dan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, ketakwaan hendaknya terus kita tingkatkan dari hari ke hari agar tujuan hidup kita diridhai oleh Allah SWT.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Iman yang kita miliki merupakan anugerah Allah SWT yang sangat besar dan tidak ternilai harganya. Iman adalah satu-satunya harta yang dapat menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Saat ini, mungkin kita merasa bangga dengan harta, kedudukan, atau keluarga yang kita miliki. Namun semua itu tidak akan mampu menyelamatkan kita jika tidak disertai dengan iman.

Allah SWT telah mengingatkan betapa pentingnya menjaga iman, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, maka tidak akan diterima dari seorang pun di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun ia menebus dirinya dengan emas sebanyak itu. Bagi mereka azab yang pedih dan mereka tidak memperoleh penolong. (QS. Ali 'Imran: 91)

Oleh karena itu, iman yang telah tertanam di dalam dada ini harus kita jaga dan pertahankan, meskipun nyawa menjadi taruhannya. Sebab hanya imanlah yang akan kita bawa ketika menghadap Allah SWT kelak.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Iman kepada Allah SWT sejatinya telah tertanam sejak kita berada di alam arwah. Pada saat itu, kita telah bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Allah SWT berfirman:

"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (QS. Al-A'raf: 172)

Kesaksian ini kemudian diuji ketika kita lahir ke dunia melalui berbagai cobaan, seperti harta, jabatan, musibah, wanita, dan berbagai kenikmatan lainnya. Tujuannya untuk memastikan apakah iman itu tetap terjaga atau justru luntur oleh godaan dunia.

Saat ini, ujian iman semakin berat. Godaan bisa muncul di mana saja. Di tempat ibadah, kita bisa tergoda untuk berbuat riya'. Di tempat kerja, muncul godaan untuk berbuat curang atau korupsi. Dalam berdagang, muncul keinginan untuk menipu. Bahkan melalui tontonan dan hiburan, seringkali kita tergoda oleh hal-hal yang mengarah pada maksiat. Jika semua godaan itu kita turuti, maka iman kita bisa melemah, bahkan hilang.

Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah,

Perlu kita ingat bahwa kualitas iman sangat berpengaruh terhadap ketaatan dan akhlak kita. Jika iman terjaga dan meningkat, maka ibadah dan akhlak pun akan semakin baik. Sebaliknya, jika iman melemah, maka ketaatan kepada Allah juga ikut melemah. Oleh sebab itu, seluruh ibadah dan amal kebaikan harus dilandasi oleh iman.

Menjaga iman ibarat memelihara tanaman. Ada empat unsur penting agar tanaman tumbuh subur, yaitu tanah, air, sinar matahari, dan pupuk. Tanah melambangkan lingkungan tempat kita hidup. Air adalah siraman rohani. Sinar matahari adalah hidayah Allah SWT. Sedangkan pupuk melambangkan ibadah.

Lingkungan sangat berpengaruh terhadap keimanan seseorang. Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan agar kita memilih lingkungan yang baik, sebagaimana sabdanya: "Pilihlah tetangga sebelum memilih rumah." Lingkungan rumah, tempat kerja, pendidikan, dan masyarakat harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, karena banyak orang yang awalnya baik, namun berubah karena pengaruh lingkungan yang buruk.

Agar iman tidak kering, ia harus terus disiram dengan siraman rohani, seperti melalui khutbah Jumat, majelis ilmu, dan nasihat agama. Jika iman jarang mendapatkan siraman rohani, maka ia akan layu dan kering, sehingga hati dan pikiran pun ikut mengeras.

Selain itu, iman juga perlu dipupuk dengan ibadah yang dilakukan secara ikhlas, khusyuk, dan tawadhu'. Ibadah adalah wujud nyata dari iman. Iman tidak akan berarti tanpa dibuktikan dengan amal perbuatan.

Hadirin Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dari uraian khutbah ini dapat kita simpulkan bahwa iman yang kokoh adalah iman yang diucapkan dengan lisan, diyakini dalam hati, dan diwujudkan dalam perbuatan. Ketiganya harus berjalan seiring dan saling melengkapi. Jika salah satunya hilang, maka iman tidak akan sempurna.

Demikian khutbah Jumat yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah dan keteguhan iman kepada kita hingga akhir hayat.

Amin ya Rabbal 'alamin.

Bārakallāhu lΔ« wa lakum fil-Qur'ānil-'aαΊ“Δ«m, wa nafa'anΔ« wa iyyākum bimā fΔ«hi minal-āyāti wadz-dzikril-αΈ₯akΔ«m.

Wa taqabbala minnī wa minkum tilāwatahu, innahū huwas-samī'ul-'alīm.

AqΕ«lu qawlΔ« hādzā, wa astaghfirullāhal-'aαΊ“Δ«ma lΔ« wa lakum, wa lisā'ir-il-muslimΔ«na wal-muslimāt, wal-mu'minΔ«na wal-mu'mināt, fa astaghfirΕ«hu.

InnahΕ« huwal-ghafΕ«rur-raαΈ₯Δ«m.

2. Contoh khutbah Jumat berjudul "Manfaat Sholat Jumat"

(Sumber: 35 Khutbah Jum'at Terpopuler karya Marolah Abu Akrom)

Bismillāhi wa biαΈ₯amdih, assalāmu 'alaikum wa raαΈ₯matullāhi wa barakātuh.

Al-αΈ₯amdu lillāhi wa kafā, wa salāmun 'alā 'ibādihilladzΔ«naαΉ£αΉ­afā. Asyhadu an lā ilāha illallāhu waαΈ₯dahΕ« lā syarΔ«ka lah, wa asyhadu anna MuαΈ₯ammadan 'abduhΕ« wa rasΕ«luh, lā nabiyya ba'dah. Allāhumma αΉ£alli wa sallim 'alā sayyidinā MuαΈ₯ammad, wa 'alā ālihΔ« wa aαΉ£αΈ₯ābihΔ« wa man tabi'ahum bi iαΈ₯sānin ilā yaumid-dΔ«n. Amma ba'du, fa yā 'ibādallāh, uαΉ£Δ«kum wa iyyāya bitaqwāllāhi wa ṭā'atih,

la'allakum tufliαΈ₯Ε«n.

Qālal-lāhu ta'ālā fil-Qur'ānil-karīm: a'ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm.

Yā ayyuhalladzΔ«na āmanΕ« ittaqΕ«llāha αΈ₯aqqa tuqātih, wa lā tamΕ«tunna illā wa antum muslimΕ«n. Allāhumma aαΉ£liαΈ₯ ummata MuαΈ₯ammadin αΉ£allallāhu 'alaihi wa sallam, wa farrij 'an ummati MuαΈ₯ammadin αΉ£allallāhu 'alaihi wa sallam, warαΈ₯am ummata MuαΈ₯ammadin αΉ£allallāhu 'alaihi wa sallam, wanαΉ£ur waαΈ₯faαΊ“ nahḍatal-waαΉ­ani fil-'ālamΔ«n, bi αΈ₯aqqi MuαΈ₯ammadin αΉ£allallāhu 'alaihi wa sallam.

Kaum muslimin, sidang jamaah Jumat yang berbahagia, rahimakumullah.

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Rabbul 'Izzati. Pada hari Jumat yang mulia ini, kita kembali diberi kesempatan dan kekuatan oleh Allah SWT untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan sholat Jumat secara berjamaah di masjid yang kita cintai ini.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada suri teladan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Semoga kita semua yang hadir di masjid ini kelak pada hari kiamat termasuk umat yang mendapatkan syafaat beliau. Aamiin.

Mengawali khutbah singkat ini, sebagaimana biasanya khatib berwasiat kepada diri pribadi khatib dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yaitu melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Kaum muslimin, sidang jamaah Jumat yang berbahagia, rahimakumullah.

Entah sudah berapa puluh bahkan ratus kali kita mengikuti sholat Jumat seperti ini. Seharusnya, banyak manfaat dan hikmah yang dapat kita rasakan. Namun sangat disayangkan, tidak sedikit umat Islam yang belum benar-benar merasakan keutamaan sholat Jumat, karena menganggapnya sekadar ibadah rutin yang biasa-biasa saja.

Padahal, tentu kita tidak ingin kehadiran kita di rumah Allah ini berlalu tanpa membawa pahala dan ampunan. Rasulullah SAW telah menyampaikan bahwa sholat Jumat dari satu Jumat ke Jumat berikutnya merupakan sarana penghapus dosa. Dalam hadits shahih disebutkan:

"sholat lima waktu, sholat Jumat ke sholat Jumat berikutnya, menjadi penghapus dosa di antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar."

(HR. Muslim)

Sebagai manusia, kita tentu tidak luput dari dosa dan kesalahan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjaga sholat lima waktu dan melaksanakan sholat Jumat dengan baik, Allah SWT berkenan menghapus dosa-dosa kecil yang kita perbuat. Adapun jika seseorang terjerumus dalam dosa besar, maka tidak cukup hanya dengan sholat, tetapi wajib disertai dengan taubat yang sungguh-sungguh serta memperbanyak istighfar kepada Allah SWT.

Kaum muslimin, sidang jamaah Jumat yang berbahagia, rahimakumullah.

Alangkah bahagianya kita jika dosa-dosa yang telah kita perbuat diampuni oleh Allah SWT. Di antara tanda-tanda dosa yang telah diampuni adalah hati yang terasa tenang, ringan dalam melakukan amal shalih, terjaga akhlaknya, serta tumbuh keinginan untuk selalu bermanfaat bagi sesama. Semua ini merupakan nikmat besar yang tidak mudah diperoleh, kecuali oleh orang-orang yang hatinya bersih dari dosa.

Agar sholat Jumat yang kita laksanakan benar-benar menjadi sarana penghapus dosa, maka marilah kita perhatikan dan amalkan beberapa adab berikut ini:

  1. Mandi sebelum berangkat sholat Jumat.
  2. Memakai pakaian yang bersih dan terbaik serta menggunakan wewangian.
  3. Datang ke masjid lebih awal sebelum khatib naik mimbar.
  4. Melaksanakan sholat sunnah tahiyyatul masjid saat tiba di masjid.
  5. Memperbanyak zikir dan membaca Al-Quran sambil menunggu khutbah.
  6. Mendengarkan khutbah dengan khusyuk dan tidak melakukan hal yang dapat mengurangi pahala Jumat, seperti berbicara atau bermain gawai.
  7. Melaksanakan sholat Jumat dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
  8. Setelah sholat Jumat, tidak terburu-buru keluar masjid, melainkan memperbanyak zikir dan doa dengan khusyuk.

Demikian khutbah singkat ini dapat khatib sampaikan. Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua. Apabila terdapat tutur kata yang kurang berkenan, khatib memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Bārakallāhu lΔ« wa lakum fil-Qur'ānil-'aαΊ“Δ«m, wa nafa'anΔ« wa iyyākum bimā fΔ«hi minal-āyāti wadz-dzikril-αΈ₯akΔ«m.

Wa taqabbala minnī wa minkum tilāwatah, innahū huwas-samī'ul-'alīm.

AqΕ«lu qawlΔ« hādzā, wa astaghfirullāhal-'aαΊ“Δ«ma lΔ« wa lakum, fa astaghfirΕ«h.

InnahΕ« huwal-ghafΕ«rur-raαΈ₯Δ«m.

Demikian contoh khutbah Jumat lengkap dengan pembuka dan penutup latin yang dapat dijadikan referensi. Semoga bermanfaat dan memudahkan para khatib dalam menyampaikan khutbah sesuai tuntunan syariat, serta menambah kekhusyukan dan keutamaan ibadah sholat Jumat.

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(sto/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads