- Mengenal Tuberkulosis Ginjal, Apa Bedanya dengan Tuberkulosis Paru-Paru?
- Penyebab Tuberkulosis Ginjal 1. Infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis 2. Penyebaran bakteri dari paru-paru ke ginjal melalui aliran darah 3. TB ekstrapulmoner yang menyerang organ selain paru-paru 4. Sistem kekebalan tubuh yang melemah 5. Faktor sosial dan sistem kesehatan 6. Resistensi obat tuberkulosis 7. Jalur penyebaran lain yang jarang terjadi
- Apa Gejala Tuberkulosis Ginjal? 1. Darah dalam urine 2. Nyeri atau rasa tidak nyaman di area panggul 3. Sering buang air kecil 4. Nyeri saat buang air kecil
- Cara Mengobati Tuberkulosis Ginjal 1. Terapi kombinasi obat antituberkulosis 2. Durasi pengobatan jangka panjang 3. Pemantauan oleh dokter spesialis 4. Pemantauan efek samping obat 5. Pentingnya diagnosis dan terapi yang tepat
Tahukah detikers jika tuberkulosis (TBC) tidak hanya menyerang paru-paru? Selama ini, TBC kerap dikenal sebagai penyakit dengan gejala batuk berkepanjangan dan gangguan pernapasan. Padahal, bakteri Mycobacterium tuberculosis juga dapat menyebar ke organ lain melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi serius di luar paru-paru.
Salah satu bentuk TBC ekstra paru yang masih jarang diketahui masyarakat adalah tuberkulosis ginjal. Penyakit ini menyerang saluran kemih dan ginjal bahkan sering kali berkembang secara perlahan tanpa gejala khas di tahap awal. Akibatnya, banyak penderita baru menyadari kondisinya ketika fungsi ginjal sudah terganggu dan keluhan mulai semakin terasa.
Lantas, apa sebenarnya penyebab tuberkulosis ginjal dan bagaimana cara mengobatinya secara tepat? Memahami faktor risiko serta penanganannya menjadi langkah penting agar penyakit ini dapat terdeteksi lebih dini dan tidak menimbulkan komplikasi serius. Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenal Tuberkulosis Ginjal, Apa Bedanya dengan Tuberkulosis Paru-Paru?
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan masih menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara berkembang. Hal ini dijelaskan dalam publikasi ilmiah berjudul Chronic Kidney Disease Related to Renal Tuberculosis: A Case Report yang ditulis oleh Junior dkk. dan dipublikasikan dalam jurnal SciELO Brasil.
Meski paling sering menyerang paru-paru, TB sebenarnya memiliki spektrum klinis yang luas dan dapat menyerang organ lain di luar sistem pernapasan. Dalam artikel ilmiah tersebut, dijelaskan bahwa TB ekstrapulmoner atau TB yang menyerang organ selain paru-paru, menyumbang sekitar 10 hingga 42 persen dari seluruh kasus TB. Dalam kelompok TB ekstrapulmoner tersebut, ginjal termasuk salah satu organ yang paling sering terdampak, setelah TB pleura dan kelenjar getah bening.
Sejalan dengan temuan ilmiah tersebut, laman Healthline juga menyebutkan tuberkulosis ginjal merupakan bagian dari TB urogenital, yaitu TB yang menyerang sistem kemih dan reproduksi. TB urogenital mencakup sekitar 30-40 persen dari seluruh kasus TB ekstrapulmoner, dan TB ginjal menjadi bentuk yang paling umum dalam kelompok ini.
Perbedaan mendasar antara TB ginjal dan TB paru-paru terletak pada lokasi infeksi, bukan pada jenis bakterinya, karena keduanya disebabkan oleh bakteri yang sama. Oleh karena itu, TB ginjal tidak dapat disamakan dengan TB paru-paru meskipun berasal dari sumber infeksi yang serupa.
Penyebab Tuberkulosis Ginjal
Berdasarkan publikasi ilmiah Chronic Kidney Disease Related to Renal Tuberculosis: A Case Report oleh Junior dkk, dalam jurnal SciELO Brasil, serta informasi dari laman Healthline, tuberkulosis ginjal dapat terjadi akibat beberapa faktor berikut:
1. Infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis
Penyebab utama tuberkulosis ginjal adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Dalam kasus tertentu yang lebih jarang, bakteri lain seperti Mycobacterium bovis juga dapat menyebabkan infeksi pada ginjal.
2. Penyebaran bakteri dari paru-paru ke ginjal melalui aliran darah
TB ginjal umumnya terjadi akibat penyebaran bakteri dari jaringan paru-paru yang terinfeksi ke ginjal melalui aliran darah, sehingga infeksi tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan.
3. TB ekstrapulmoner yang menyerang organ selain paru-paru
Ketika bakteri TB menyebar ke organ lain di luar paru-paru, kondisi ini dikenal sebagai TB ekstrapulmoner. Dalam spektrum ini, ginjal termasuk salah satu organ yang cukup sering terdampak.
4. Sistem kekebalan tubuh yang melemah
Bakteri TB dapat berada dalam kondisi tidak aktif di dalam tubuh dan kembali berkembang ketika sistem imun melemah, misalnya pada penderita HIV/AIDS atau kondisi kesehatan tertentu lainnya.
5. Faktor sosial dan sistem kesehatan
Kondisi sosial ekonomi yang rendah serta lemahnya sistem pelayanan kesehatan dapat meningkatkan risiko penyebaran dan keterlambatan penanganan TB, sehingga memperbesar peluang berkembangnya infeksi hingga ke ginjal.
6. Resistensi obat tuberkulosis
Meningkatnya kasus resistensi obat TB dapat menyebabkan infeksi berlangsung lebih lama dan sulit ditangani, sehingga risiko penyebaran bakteri ke organ lain, termasuk ginjal, menjadi lebih tinggi.
7. Jalur penyebaran lain yang jarang terjadi
Selain melalui aliran darah, penyebaran bakteri TB ke ginjal juga dapat terjadi melalui sistem limfatik atau melalui penularan seksual, meskipun kasus ini relatif jarang ditemukan.
Apa Gejala Tuberkulosis Ginjal?
Berdasarkan informasi dari laman Healthline, tidak semua penderita tuberkulosis ginjal mengalami gejala yang jelas. Pada sebagian kasus, gejala baru muncul ketika infeksi sudah berlangsung cukup lama. Beberapa gejala yang dapat dialami antara lain:
1. Darah dalam urine
Munculnya darah saat buang air kecil dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada ginjal akibat infeksi.
2. Nyeri atau rasa tidak nyaman di area panggul
Infeksi pada ginjal dapat menimbulkan nyeri tumpul atau rasa tidak nyaman di sekitar panggul.
3. Sering buang air kecil
Penderita dapat mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil meskipun jumlah urine yang keluar sedikit.
4. Nyeri saat buang air kecil
Rasa perih atau nyeri ketika buang air kecil juga dapat muncul akibat keterlibatan saluran kemih.
Gejala-gejala tersebut tidak selalu menandakan tuberkulosis ginjal, karena dapat menyerupai kondisi lain seperti infeksi saluran kemih. Kesamaan gejala inilah yang sering menyebabkan TB ginjal salah terdiagnosis atau terlambat ditangani. Oleh karena itu, konsultasi ke dokter sangat dianjurkan, terutama bagi individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau memiliki faktor risiko TB.
Cara Mengobati Tuberkulosis Ginjal
Masih mengacu pada sumber yang sama, pengobatan tuberkulosis ginjal pada dasarnya mengikuti protokol pengobatan TB secara umum, diantaranya:
1. Terapi kombinasi obat antituberkulosis
Pengobatan TB ginjal dilakukan dengan kombinasi beberapa obat antituberkulosis, yaitu isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol. Kombinasi ini digunakan untuk membasmi bakteri TB secara efektif.
2. Durasi pengobatan jangka panjang
Terapi TB ginjal biasanya berlangsung selama 6 hingga 9 bulan, tergantung pada kondisi pasien dan respons tubuh terhadap pengobatan.
3. Pemantauan oleh dokter spesialis
Pasien umumnya akan dirujuk ke dokter spesialis ginjal (nefrologi) dan spesialis penyakit infeksi untuk memantau perkembangan penyakit serta respons terhadap terapi.
4. Pemantauan efek samping obat
Beberapa obat TB dapat menimbulkan efek samping, seperti gangguan fungsi hati atau ginjal. Oleh karena itu, pasien perlu melaporkan setiap keluhan baru selama pengobatan agar dapat ditangani sejak dini.
5. Pentingnya diagnosis dan terapi yang tepat
Pemahaman dokter dalam mengenali TB ginjal sangat penting, terutama pada pasien dari daerah endemik TB yang menunjukkan gangguan saluran kemih tetapi tidak membaik dengan pengobatan infeksi saluran kemih biasa.
Demikian penjelasan mengenai penyebab tuberkulosis ginjal beserta cara mengobatinya yang perlu diketahui. Dengan memahami penyakit ini sejak dini, diharapkan detikers dapat lebih waspada terhadap gejala yang muncul dan segera mencari penanganan medis yang tepat agar kesehatan ginjal tetap terjaga.
Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(par/ahr)











































