Ndalem Padmosusastro Solo Dirobohkan

Ndalem Padmosusastro Solo Dirobohkan

Tara Wahyu NV - detikJateng
Kamis, 22 Jan 2026 21:39 WIB
Ndalem Padmosusastro Solo Dirobohkan
Penampakan bangunan bersejarah Ndalem Padmosusastro di Timuran, Banjarsari, Solo, yang kini tinggal puing-puing, Kamis (22/1/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng
Solo -

Sebuah rumah bersejarah bernama Ndalem Padmosusastro yang berlokasi di Jalan Ronggowarsito 153, Timuran, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, hari ini dirobohkan. Rumah tersebut dikenal milik abdi dalem Keraton Solo era Paku Buwono IX bernama Ki Padmosusastro.

Pantauan detikJateng, bangunan tersebut kini hanya tersisa puing-puing kayu dan genting saja. Bangunan utama hanya menyisakan tembok berwarna putih tanpa atap.

Pegiat sejarah sekaligus Ketua Solo Society, Dani Saptoni, mengatakan bangunan yang dikenal sebagai Ndalem Padmosusastro ini disebut sebagai salah satu spesimen arsitektur Jawa yang mulai langka di pusat Kota Solo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bangunan tersebut memiliki keunikan tersendiri dibandingkan rumah-rumah bangsawan pada umumnya di Solo. Jika banyak rumah ningrat mengadopsi gaya campuran kolonial atau Indische, bangunan ini justru mempertahankan gaya tradisional murni," katanya dihubungi detikJateng, Kamis (22/1/2026).

ADVERTISEMENT

Dani mengatakan, sebelum dirobohkan, Ndalem Padmosusastro terakhir digunakan sebagai rumah makan. Di mana, rumah makan tersebut masih mempertahankan pendopo yang ada.

"Keunikan rumah itu adalah salah satu bangunan langka di tengah kota yang masih menjaga bentuk rumah Jawa tempo dulu. Bentuknya limasan kampung, ada pendapa, dan halamannya pakai regol. Ini total Jawa," ucapnya.

Dani menyebut, meski disebut Ndalem Padmosusastro, nyatanya tidak pernah ditinggali oleh Padmosusastro. Justru, kata dia, rumah yang ditinggali Padmosusastro berada di daerah Gajahan.

Penampakan bangunan bersejarah Ndalem Padmosusastro di Timuran, Banjarsari, Solo, yang kini tinggal puing-puing, Kamis (22/1/2026).Penampakan bangunan bersejarah Ndalem Padmosusastro di Timuran, Banjarsari, Solo, yang kini tinggal puing-puing, Kamis (22/1/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng

"Sepanjang pengetahuan dari riset yang kita lakukan, beliau tidak pernah. Wong rumah itu dipakai sama anaknya. Rumah di Jalan Ronggowarsito ini sebenarnya adalah rumah anak dari Padmosusastro yang dahulu menjabat sebagai perwira prajurit Kasunanan. Hal ini juga dibenarkan oleh kerabat yang pernah tinggal di sana," jelasnya.

Dikenal sebagai Seorang Pujangga

Lebih lanjut, Dani mengatakan Padmosusastro dikenal sebagai pujangga terakhir Surakarta. Padmosusastro, kata dia, juga dijuluki sebagai "Wong Mardiko" atau orang merdeka yang menekuni sastra.

"Berbeda dengan Ronggowarsito yang berada di bawah otoritas keraton, Padmosusastro adalah pujangga bebas di luar keraton. Beliau mengeksplorasi sastra Jawa modern yang tidak lagi terikat pakem-pakem lama istana," ungkap Dani.

"Beliau itu pujangga, bisa dikatakan sebagai pujangga Jawa terakhir yang memiliki gelar, sebutan bukan gelar ya. Beliau melegitimasi sebagai wong mardiko ingkang ngudi kusus sastran Jawi. Jadi, beliau adalah orang bebas yang menggeluti sastra Jawa," lanjutnya.

Ia mengatakan karya-karyanya pun sangat monumental. Salah satunya adalah Serat Totocoro yang hingga kini masih menjadi rujukan atau pakem bagi masyarakat Jawa dalam melaksanakan prosesi adat.

"Karya-karya beliau banyak diterbitkan oleh percetakan dan penerbit Tan Khoen Swie. Sampai beliau dengan pemilik perusahaan Tan Khoen Swie ini sangat bersahabat dekat," ucapnya.

Berdiri Sejak Tahun 1900

Dani melanjutkan, Ndalem Padmosusastro sendiri didirikan di akhir era Paku Buwono IX atau awal Paku Buwono X.

"Itu kemungkinan bangunan sekitar era akhir Pakubuwono 9 atau awal Pakubuwono 10. Mungkin tahun 1900-an ya," ucapnya.

Ia menjelaskan bangunan tersebut sebelumnya berbentuk limasan dilengkapi dengan pendopo. Terakhir sebelum dibongkar, bangunan tersebut juga dilengkapi beberapa gazebo.

"Dalamnya itu dalem limasan kampung, tetapi di depannya dilengkapi dengan pendopo dan ada halamannya. Terakhir dibuat kayak wedangan, ada gazebo," pungkasnya.




(apu/dil)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads