Waspada! Kudus-Rembang Berpotensi Banjir dan Longsor hingga Februari

Waspada! Kudus-Rembang Berpotensi Banjir dan Longsor hingga Februari

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Selasa, 13 Jan 2026 17:15 WIB
Kepala BPBD Jateng, Bergas C Penangguhan, di Tol Semarang-Demak, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Senin (3/11/2025).
Kepala BPBD Jateng, Bergas C Penanggungan, di Tol Semarang-Demak, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Senin (3/11/2025). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng) menyebut seluruh daerah di Pantura timur Jateng berpotensi dilanda cuaca ekstrem pada periode Januari-Februari. Hal itu disebut berpotensi memicu banjir hingga longsor.

Kepala BPBD Jateng, Bergas C Penanggungan, mengatakan berdasarkan prakiraan BMKG, kondisi cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi dan durasi panjang membuat sejumlah daerah di Pantura timur rawan banjir dan tanah longsor.

"Di tengah intensitas hujan yang tinggi ini, potensi banjir dan longsor rawan terjadi di Pantura timur, seperti Kudus, Pati, Jepara, hingga Rembang," kata Bergas saat dihubungi, Selasa (13/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, puncak cuaca ekstrem di Pantura timur diperkirakan terjadi pada periode Januari-Februari. Setelahnya, kondisi cuaca diperkirakan bisa lebih normal.

ADVERTISEMENT

"Pemetaan BMKG menunjukkan Januari dan Februari ini puncaknya berada di Pantura timur. Artinya setelah fase ini terlewati dan penanganan bisa dilakukan dengan baik, cuaca diharapkan mulai lebih stabil," katanya.

Menanggapi maraknya bencana yang terjadi di Jateng, pihaknya pun telah mempersiapkan berbagai langkah untuk menghadapi potensi bencana alam ke depannya.

"Pertama kita mengidentifikasi cuaca ekstrem itu akan terjadi di mana. Tentunya kesiapan-kesiapan dalam rangka penanganan terjadinya cuaca ekstrem itu dilakukan. Baik itu di Jepara, Pati, maupun Kudus," ungkapnya.

"Dan itu kan sudah berjalan. Artinya dengan cuaca ekstrem yang seberat itu, korban jiwanya tidak besar. Kayak di Jepara tidak ada. Pengungsian juga tidak ada," lanjutnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng, Sumarno, meminta warga untuk waspada dengan curah hujan tinggi di Jateng.

"Mungkin mengingatkan masyarakat Jawa Tengah, ini informasi dari BMKG situasi cuaca tidak hanya di Jawa Tengah, di kawasan Pulau Jawa kita masih harus waspada, karena curah hujannya masih tinggi," kata Sumarno di Kompleks Gedung Pemprov Jateng.

Dalam penanganan bencana banjir-longsor di sejumlah daerah seperti di Kudus, Jepara, dan Pati, Pemprov Jateng pun mengirimkan logistik bantuan, serta bronjong dan sandbag untuk penguatan dinding sungai.

"Untuk situasi dari yang di Jepara, Kudus, Pati, ini teman-teman juga sudah bergerak untuk penanganan di sana terkait dengan logistik, penyiapan dapur umum dan sebagainya," ungkapnya.

"Mungkin yang kemarin menjadi perhatian adalah yang di Desa Tempur, di Jepara. Alhamdulillah kemarin alat berat sudah bisa masuk di sana," lanjutnya.

Ia juga mengatakan, Desa Tempur sudah tak lagi terisolasi dan perbaikan jalan sudah dimulai. Bantuan sandbag dan bronjong juga sudah bisa disalurkan.

"Perbaikan jalan kemarin sudah bergerak dan dari BBWS sudah support bronjong, hari ini mungkin proses untuk menindaklanjuti untuk jalan. Terus dari PU kita juga kemarin sudah kirim sandbag," ungkapnya.

"Karena ini kedaruratan bronjong, nanti mungkin mekanismenya dengan sandbag. Minimal nanti bisa dilewati untuk kedaruratan," lanjutnya.

Sementara untuk penanganan permanen, kata Sumarno, bisa dilakukan usai pasca penanganan darurat. Menurutnya, seluruh masyarakat harus waspada terhadap perubahan iklim yang menyebabkan maraknya bencana.

"Sekali lagi untuk masyarakat waspada, karena situasi ini dampak lingkungan yang harus menjadi perhatian kita semua, bahwa ini karena pemanasan global," ungkapnya.

"Ini kita harus peduli semua. Tidak hanya kita di pemerintah tapi juga masyarakat untuk peduli menjaga lingkungan kita," lanjutnya.




(apu/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads