Longsor di Ngetrep Blora, Jalan Desa Ambles-Warga Mengungsi

Longsor di Ngetrep Blora, Jalan Desa Ambles-Warga Mengungsi

Achmad Niam Jamil - detikJateng
Senin, 12 Jan 2026 15:20 WIB
Longsor di Ngetrep Blora, Jalan Desa Ambles-Warga Mengungsi
Longsor di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Senin (12/1/2026). Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng
Blora -

Tanah longsor terjadi di Dukuh Ngetrep RT 08 RW 03, Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora. Akibatnya, warga yang terdampak terpaksa mengungsi.

"Untuk yang terdampak di lokasi itu sekitar 5 KK (kepala keluarga). Yang 4 rumah sudah dipindahkan. Mudah mudahan tidak sampai merembet ke perkampungan warga lainnya," ucap Kepala Desa Tutup, Kokok Sungkowo saat ditemui di lokasi, Senin (12/1/2026).

Kokok juga telah melakukan pendataan untuk relokasi rumah yang terdampak. Dia bilang bahwa warga yang terdampak akan diberikan bantuan material. Warga juga bergotong royong untuk melakukan pemindahan satu rumah warga yang belum mengungsi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nanti kita bersama masyarakat gotong royong untuk pemindahan," ujarnya.

Kokok menyebut selain tanah longsor, jalan utama desa di lokasi tersebut juga terdampak. Jalan itu kini tidak bisa dilalui kendaraan.

ADVERTISEMENT

"Jalan utama sebenarnya. Jalan utama untuk akses warga Dukuh Ngetrep itu ada 2 jalur. Yang satu jalur dari timur dan jalur dari barat. Ini sementara kita tutup, nanti lewatnya di jalur di sebelah barat, muter gitu," jelasnya.

Tanah longsor tersebut kini dalam penanganan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Blora.

Pantauan detikJateng, dinas terkait menurunkan 2 ekskavator untuk melakukan pemancangan trucuk bambu. Ada 5 KK terdampak, 4 di antaranya sudah mengungsi. Longsor juga mengakibatkan jalan desa ambles sehingga tidak bisa dilalui kendaraan.

Subkor Pembangunan dan Rehabilitasi Bidang Sumber Daya Air (SDA) Wahyu Benyamin Arivin mengatakan bahwa tanah longsor sudah terjadi sekitar 2 tahun.

"Sebetulnya kejadian ini sudah lama Mas. Jadi ini juga efek nggih. Jadi dulu saya masih ingat 2 tahun yang lalu di akhir tahun ya waktu itu saya melakukan pemeriksaan. Waktu itu sudah ada bencana nggih, sudah ada tanah turun dan sebagainya. Kita sudah laporan," bebernya.

Wahyu mengatakan kala itu tanah longsor belum dapat ditangani secara maksimal mengingat keterbatasan anggaran pemerintah. Kini pihaknya melakukan penanganan kedaruratan.

"Ini sementara kita lakukan penanganan kedaruratan. Jadi kita laksanakan untuk kegiatan minimal ini jalan bisa dilewati dulu, nggih," jelasnya.

Wahyu menyebut Balai Besar Pemali Juana melakukan pengukuran guna menghitung kebutuhan untuk penanganan. Rencananya penanganan dilakukan secara berkala. Pertama akan dilakukan penanganan di bawah yang berdekatan dengan Sungai Lusi.

"Ini baru dilakukan pengukuran. Kita berdoa saja semoga nanti dari kementerian lewat BPWS Pemali Juana bisa memberikan anggarannya nggeh. Rencana kira lakukan di bawah, karena titik-titik di atasnya itu bidang gelincir, nanti dilaksanakan penanganan di bawah. Ya harapannya setelah itu ada lanjutannya untuk penanganan ke atas," ucap Wahyu.

Menurut dia, tanah mengalami ambles ini jika dihitung dari bibir sungai sekitar 10 meter. Beny menyebut kebocoran drainase menjadi pemicu penurunan tanah secara bertahap dalam dua tahun terakhir.

"Permasalahannya yang kita lihat itu karena pertama kali adalah dari drainase, kebocoran drainase berada di atas nggih. Selama ini kadang-kadang drainase kurang diperhatikan. Jadi air yang dari atas kemudian ada kebocoran drainase, turun ke bawah, akhirnya menjadikan tanah di bawahnya itu menjadi gembur," ujarnya.

Seorang warga terdampak, Taminah mengatakan longsor susulan kali ini membuat warungnya terpaksa dibongkar. Sehari-hari dia juga tinggal di warung itu. Dia kini mengungsi ke rumah tetangga yang lebih aman.

"Kalau longsor ini sudah lama, 3 tahunan. Mulai longsor lagi mulai 3 bulanan lebih. Kalau ambruknya ini baru kemarin pas ada hujan deras," jelasnya.

Warungnya yang sudah tidak bisa ditempati akhirnya dibongkar warga secara gotong royong.

"Iya dibongkar. Baru kemarin (Senin) dibongkar. Selama dibongkar ya saya mengungsi di rumah tetangga," jelasnya.

Dia berharap pemerintah memberi bantuan agar bisa membuka warung lagi.

"Penginnya ya dibenerin lagi. Buat jualan. Saya jualan ada kopi, ada sembako, ada makan juga, ada lontong, nggeh begitu," ucapnya.

Menurut warga sekitar, Eko, longsor susulan yang menyebabkan tanah ambles kali ini terjadi secara bertahap.

"Sekitar 3 hari terakhir hujan deres, tanahnya ambles bertahap," kata Eko di lokasi.

Halaman 2 dari 2
(dil/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads