Ratusan Santri Diduga Keracunan MBG, Ponpes Miftahul Huda Sebut Ada Lauk Berbau

Ratusan Santri Diduga Keracunan MBG, Ponpes Miftahul Huda Sebut Ada Lauk Berbau

Ardian Dwi Kurnia - detikJateng
Minggu, 11 Jan 2026 16:07 WIB
Suasana di Ponpes Miftahul Huda, Desa Ngroto, Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada Minggu (11/1/2025).
Suasana di Ponpes Miftahul Huda, Desa Ngroto, Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan pada Minggu (11/1/2025). (Foto: Ardian Dwi Kurnia/detikJateng)
Grobogan -

Ratusan santri dan guru Pondok Pesantren (Ponpes) Assalafi Miftahul Huda, Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan turut menjadi korban keracunan massal yang diduga dipicu menu makan bergizi gratis (MBG). Pihak ponpes menyebut para santri mulai mengalami gejala pada Jumat (9/1) malam dan puncaknya pada Sabtu (10/1) pagi.

Tim Media Ponpes Assalafi Miftahul Huda, Dzul Fikar mengatakan jumlah santri penerima manfaat MBG di pondoknya total sebanyak 1.172 orang.

"Penerima manfaat MBG di pondok, 537 (orang) tingkat SMK, 635 orang tingkat SMP. Iya (dari satu SPPG yang sama)," kata Dzul saat dikonfirmasi detikJateng, Minggu (11/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dzul menceritakan detik-detik para santri merasakan masalah kesehatan secara massal. Menurutnya, mereka mulai merasakan gejala ringan pada Jumat (9/1) malam.

"Jadi MBG itu (diterima) Jumat pagi. Sejak Jumat malam, itu sudah mulai ada gejala, tapi gejalanya gejala ringan," beber Dzul.

ADVERTISEMENT

Kondisi kesehatan para santri itu makin memburuk pada Sabtu (10/1). Dzul menyebut pihaknya kemudian segera mengadukan peristiwa ini ke Dinas Kesehatan.

"Yang parahnya itu kan di Sabtu pagi. Ketika para santri itu sedang melaksanakan pembelajaran di kelas, itu banyak santri yang muntah-muntah. Kemudian karena saking banyaknya itu, langsung kemudian menghubungi dari Dinas Kesehatan, kemudian didata semuanya," ungkap Dzul.

Dzul menjelaskan menu MBG yang diterima pada hari itu adalah nasi kuning dengan beberapa lauk. Berdasarkan keterangan yang dia peroleh, lauk dari makanan tersebut sedikit bau.

"Jumat kemarin itu dari SPPG itu menunya nasi kuning, telur suwir sama abon. Dari siswa SD sekitar ada yang dibawa pulang dan dimakan oleh orang tuanya. Kata orang tuanya itu entah dari abonnya atau telurnya, pokoknya antara dua itu ada sedikit berbau gitu," ujar Dzul.

"(Kata guru yang ikut makan juga) sama. Ada sedikit bau tapi kan tidak patek nglegewo ngono (tidak terlalu menyadari itu). Secara secara rasa sama tampilan ya masih normal, cuma baunya itu," sambungnya.

Dzul menyampaikan total ada lebih dari 300 orang yang mengalami gejala masalah kesehatan usai menyantap MBG tersebut. Tak hanya santri, beberapa guru juga mengeluhkan hal serupa.

"Total gejala kemarin 300 lebih. (Termasuk) ada guru tujuh orang, sekarang rawat jalan. (Yang dimakan guru) itu jatah siswa, biasanya kan sisa, sisanya dimakan guru," kata Dzul.

Dari jumlah tersebut, saat ini masih ada total 160 santri yang dirawat. Dzul menyebut sebagian dari mereka ada yang dirawat di pondok, sementara lainnya dirujuk ke puskesmas dan rumah sakit.

"Data update terbaru, untuk yang dirawat di pondok itu untuk putra ada 59, kemudian untuk putri ada 9 dengan total 68. Kemudian untuk yang dirujuk itu totalnya ada 92 santri, 15 putra dan 77 santri putri," ujar Dzul.

"Yang dirujuk itu ke Puskesmas 1 Karangrayung, Puskesmas Kedungjati 1, Puskesmas Godong 1, RSUD Getas Pendowo, Puskesmas Gubug 1, dan RSUD Purwodadi. Di luar data ini, santri sudah membaik. Adapun yang dirawat pondok jika keadaan menurun langsung dirujuk ke RS," tambahnya.

Dzul juga mengungkapkan pihak ponpes telah mengadakan pertemuan dengan berbagai pihak. Hasilnya, menurut Dzul, biaya perawatan akan ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan dan pihak SPPG bakal mempertanggungjawabkan hal ini.

"Kalau kami semalam dan tadi pagi itu sudah koordinasi dengan Pemda dan dari pihak MBG. Nanti untuk perawatan rencana akan ditanggung oleh Pemda, tadi kata Pak Wakil Bupati seperti itu, nanti dibiayai, biaya ditanggung oleh Pemda," beber Dzul.

"Kemudian untuk pihak dari SPPG juga, nanti juga akan bertanggung jawab untuk itu. Jadi tadi sudah ada pertemuan antara Pemda, terus dari Dinas Kesehatan, dari pihak SPPG, bersama Polres juga, kemudian Polsek dan Koramil," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan telah mendata jumlah orang yang diduga keracunan menu makan bergizi gratis (MBG) yang disajikan pada Jumat (9/1). Jumlah korban terbanyak dari kalangan santri pondok pesantren (ponpes).

"(Datanya) masih bergerak, terutama yang rawat inap karena ada yang pulang dan masuk," kata Kepala Dinkes Grobogan, Djatmiko saat ditelepon detikJateng, Minggu (11/1/2026).

Djatmiko menyebut ratusan orang ini diduga keracunan MBG yang disajikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sami Kaya Food yang beralamat di Jalan Raya Gubug-Kedungjati KM 2, Desa Kuwaron, Kecamatan Gubug.

"Jumlah penerima manfaat MBG 2.904 orang, yang terdampak 658 orang," terang Djatmiko.

Berikut data lengkap dari Dinkes Grobogan tentang jumlah orang dan sekolah yang diduga keracunan MBG di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan:

1. SMP Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngroto: 251 orang (152 putra, 92 putri, 7 guru)
2. SMK Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngroto: 151 santri putri
3. SDN 3 Ngroto: 18 orang
4. TK Ngroto: 5 orang
5. PAUD Ngroto: 4 orang (2 siswa, 2 wali murid)
6. SD Glapan: 34 orang (33 siswa, 1 guru)
7. SDN 1 Trisari: 33 orang (30 siswa, 3 guru)
8. SDN 2 Trisari: 24 siswa
9. SDN 1 Penadaran: 63 orang (57 siswa, 3 guru, 3 wali murid)
10. SDN 2 Penadaran: 32 orang (28 siswa, 4 guru)
11. SDN 3 Penadaran: 43 orang (40 siswa, 3 guru)



(aku/apl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads