Banjir merendam Jalan Couster, Kelurahan Tanjung Mas, Kota Semarang. Para pekerja pabrik di lokasi tersebut terpaksa menerjang air setinggi lutut hingga perut.
Pantauan detikJateng di lokasi, Jumat (9/1/2026) hingga pukul 10.29 WIB, genangan air setinggi lutut hingga perut orang dewasa masih menutup badan jalan. Aktivitas pekerja kawasan industri pun terganggu. Banjir yang berujung dari Gate I Pelabuhan itu terjadi saat jam kerja pagi.
Tampak sebagian pekerja melepas celana seragamnya dan berganti celana pendek untuk menerjang air. Mereka lalu berjalan kaki menenteng sepatu dan bawaannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banjir merendam area industri di Jalan Coaster, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jumat (9/1/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Sementara itu, petugas BPBD dan relawan sudah berada di lokasi untuk membantu para pekerja tersebut. Mereka menyediakan mobil hingga perahu karet untuk mengantar para pekerja ke pabrik.
Salah satu pekerja asal Bangetayu, Faruq (33), mengatakan banjir ini terjadi sejak dini hari setelah hujan deras. Menurutnya, Jalan Couster memang kerap dilanda banjir setiap hujan lebat.
"Katanya dari jam 01.30 WIB sudah setinggi lutut sampai perut lah. Memang sering banjir kalau hujan deras. Biasanya surut tergantung pompa yang ke sini," kata Faruq kepada detikJateng.
Banjir merendam area industri di Jalan Coaster, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jumat (9/1/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Ia mengatakan, pompa penyedot air sudah mulai dioperasikan sejak pukul 07.30 WIB. Namun hingga pagi hari, genangan masih cukup tinggi dan menyulitkan pekerja yang hendak masuk ke kawasan industri.
"Tadi pompa sudah ke sini dari jam 07.30 WIB. Harusnya jam 08.00 WIB pekerja sudah masuk. Tapi ini banjir, jadi jam 10.00 WIB juga belum masuk, mau nggak mau nerjang banjir," ujarnya.
Menurut Faruq, banjir berdampak langsung pada kondisi para pekerja. Ada sebagian perusahaan yang meliburkan karyawan, tetapi ada pula yang tetap mewajibkan masuk kerja.
"Dampaknya kalau kita libur ya jadi potong gaji. Menyulitkan sekali, saya harus bawa celana ganti. Airnya kotor, sering gatal-gatal juga," ungkapnya.
Ia memperkirakan banjir kali ini tidak akan berlangsung lama dan kemungkinan surut pada sore hari.
"Dulu pernah tanggul jebol sampai satu bulan (nggak surut). Katanya sekarang sih jebol, tapi saya nggak tahu pastinya," tambah Faruq.
Hal senada disampaikan Lia (35), pekerja perempuan yang juga terdampak banjir di Jalan Couster. Ia mengaku kesulitan menuju tempat kerja karena genangan air yang cukup dalam.
"Susah mau jalan ke tempat kerja. Nggak diliburkan, cuma satu PT ini saja yang nggak diliburkan," ujarnya.
Lia pun akhirnya menumpang mobil BPBD.
"Saya banjir gini dari rumah sudah bawa celana, bawa sandal. Biasanya kalau banjir mau ke pabrik naik jemputan mobil, kalau nggak ada ya menerjang jalan kaki," katanya.
Lia berharap perusahaan dan pihak terkait mempertimbangkan keselamatan pekerja, terutama di tengah musim hujan.
"Saran saya diliburkan dulu, diperbaiki dulu. Baru boleh masuk kerja," pungkasnya.
(dil/ams)













































