Kondisi aspal baru di Jalan Desa Karangturi, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga, tengah menjadi sorotan warganet. Hal itu setelah adanya potongan video berdurasi 33 detik yang diunggah di media sosial TikTok.
Dalam unggahannya akun TikTok @quotienttv menggambarkan bagaimana seorang warga mempertanyakan kondisi aspal yang mudah rusak. Dalam video itu terlihat perekam mengikis aspal menggunakan tangan.
Potongan video tersebut kemudian viral dan ditonton lebih dari 861 ribu warganet. Warga yang mengambil video tersebut juga nampak mengorek aspal menggunakan kaki telanjang. Dinarasikan aspal tersebut asal jadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Karangturi, Jumeri, memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa pekerjaan pengaspalan tersebut baru selesai sehari sebelumnya dan kondisi aspal memang belum sepenuhnya mengeras.
"Pekerjaan baru selesai kemarin, setengah hari, lah. Jam satu siang sudah ada yang datang ke lokasi untuk ngecek pekerjaan. Setahu saya, pekerjaan aspal itu sekali gelar langsung keras tidak ada, kecuali aspal curah," kata Jumeri saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (7/1/2026).
Menurutnya, aspal seperti ini umumnya membutuhkan waktu beberapa hari setelah terkena panas matahari agar benar-benar menyatu dengan material batu dan terlihat keras.
"Aspal ini biasanya beberapa hari setelah kena panas itu meleleh, menyatu dengan batu, baru kelihatan keras," ujarnya.
Jumeri menjelaskan, bagian aspal yang tampak mudah dikorek berada di pinggir jalan dan tidak terlintasi alat berat saat proses pemadatan.
"Itu yang disampar pinggiran itu jelas tidak kena alat berat, otomatis ambrol. Yang di video kan ngorek-ngorek di pinggir, otomatis pemadatannya kurang maksimal atau memang belum ada panas maksimal. Biasanya kan tiga sampai empat hari," jelasnya.
Ia juga meluruskan soal maksud perekam video. Menurutnya, yang bersangkutan sebenarnya tidak mempermasalahkan kualitas pekerjaan, melainkan mempertanyakan mengapa jalan tidak ditutup saat proses pengaspalan berlangsung.
"Tadi pagi anaknya yang ambil video saya suruh datang ke sini. Saya tanyakan, katanya tujuannya bukan memviralkan atau mempermasalahkan pekerjaan, tapi mempertanyakan kenapa pengaspalan jalan tidak ditutup. Tapi video itu diteruskan ke temannya, lalu ke temannya lagi sampai akhirnya viral," katanya.
Jumeri menambahkan, pengaspalan jalan tersebut menggunakan anggaran dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan nilai Rp 100 juta.
"Panjangnya 275 meter kali lebar 3 meter, anggarannya Rp 100 juta. Itu pembangunan dari anggaran provinsi," ungkapnya.
Pekerjaan dimulai pada hari Minggu dan rampung pada Selasa (6/1) siang. Meski belum sepenuhnya mengeras, jalan tersebut sudah bisa dilalui warga.
"Pengerjaannya mulai hari Minggu dan selesai kemarin siang. Tapi itu sudah bisa dilewati secara normal. Karena ini kan jalan kampung, jadi pengaspalan tidak ditutup sebenarnya tidak masalah," imbuhnya.
Ia menuturkan, usulan pembangunan jalan tersebut diajukan pihak desa sekitar bulan Maret dan akhirnya disetujui.
"Dari desa mengajukan programnya bulan Maret kalau tidak salah. Alhamdulillah disetujui," tandasnya.
(alg/afn)











































