Nama Somaliland mungkin masih terdengar asing bagi banyak orang. Padahal wilayah ini kerap muncul dalam pemberitaan internasional, terutama saat membahas konflik, kemiskinan, dan krisis kemanusiaan di Afrika Timur. Banyak orang mengira Somaliland adalah negara yang sama dengan Somalia, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.
Di peta dunia, Somaliland memang tidak tercantum sebagai negara merdeka. Namun dalam praktik sehari-hari, wilayah ini berjalan dengan pemerintahan, mata uang, dan sistem politiknya sendiri. Di sinilah sering muncul pertanyaan, apakah Somaliland sebenarnya negara terpisah atau masih bagian dari Somalia?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita simak penjelasan lengkap yang dihimpun dari laman ActionAid serta artikel Somalia and Somaliland: The Two Edge Sword of International Intervention oleh David Kenning berikut ini, detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Somaliland bukan negara yang diakui dunia, tetapi telah memerintah dirinya sendiri sejak 1991 dengan pemerintahan, mata uang, dan sistem pemilu sendiri.
- Perbedaan utama Somaliland dan Somalia terletak pada stabilitas dan pengakuan internasional, di mana Somaliland lebih stabil secara politik meski tidak diakui secara resmi.
- Di balik stabilitasnya, Somaliland menghadapi tantangan besar, mulai dari kemiskinan ekstrem hingga dampak perubahan iklim dan kerentanan perempuan serta anak perempuan.
Apa Itu Somaliland?
Somaliland adalah wilayah otonom yang terletak di bagian utara Somalia. Wilayah ini secara sepihak memproklamasikan kemerdekaan dari Somalia pada tahun 1991, setelah jatuhnya rezim diktator Siad Barre yang memicu perang saudara berdarah. Meski menyatakan diri sebagai negara merdeka, hingga kini tidak ada satu pun negara di dunia yang secara resmi mengakui kedaulatan Somaliland.
Meski tidak diakui secara internasional, Somaliland menjalankan pemerintahan sendiri secara penuh. Wilayah ini memiliki ibu kota di Hargeisa, mata uang sendiri bernama Somaliland shilling, aparat keamanan, serta sistem pemilu yang relatif demokratis.
Secara historis, Somaliland memiliki perjalanan yang berbeda dengan Somalia. Pada akhir abad ke-19 hingga 1960, wilayah ini merupakan protektorat Inggris, sementara Somalia berada di bawah kekuasaan Italia. Setelah merdeka dari Inggris pada 1960, Somaliland sempat berdiri sebagai negara selama lima hari sebelum bergabung dengan Somalia. Penyatuan ini kemudian memicu ketegangan panjang yang berujung pada deklarasi kemerdekaan Somaliland pada 1991.
Sejak 1991, Somaliland berhasil membangun stabilitas politik relatif tanpa banyak campur tangan internasional. Konstitusi Somaliland bahkan disahkan melalui referendum publik pada 2001 yang menandai proses politik yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Apa Bedanya Somaliland dan Somalia?
Sekilas, Somaliland dan Somalia terlihat sama karena mayoritas penduduknya memiliki latar belakang etnis, bahasa, dan agama yang serupa. Namun jika dilihat lebih dalam, terdapat sejumlah perbedaan penting yang menjelaskan mengapa keduanya berkembang dengan arah yang berbeda.
1. Politik dan Pengakuan Internasional
Pertama, dari sisi status politik dan pengakuan internasional. Somalia diakui secara penuh sebagai negara berdaulat dan menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sebaliknya, Somaliland tidak diakui oleh negara mana pun, meskipun memiliki pemerintahan yang berfungsi secara efektif. Menurut ActionAid, salah satu alasan utama penolakan pengakuan ini adalah kekhawatiran Uni Afrika bahwa pengakuan Somaliland dapat memicu gerakan separatis lain di benua Afrika.
2. Stabilitas dan Keamanan
Somalia dikenal sebagai negara yang mengalami konflik berkepanjangan sejak 1991, dengan lemahnya pemerintahan pusat dan maraknya kelompok bersenjata. Somaliland justru relatif stabil dan aman. ActionAid mencatat bahwa wilayah ini mengalami sangat sedikit aktivitas terorisme sejak 2008, jauh berbeda dibanding wilayah Somalia lainnya.
3. Pemerintahan dan Demokrasi
Somaliland menyelenggarakan pemilu sendiri yang diawasi oleh pengamat internasional dan mendapat penilaian positif, termasuk dari Uni Eropa. Hal ini juga ditegaskan oleh David Kenning, yang menyebut bahwa Somaliland mengembangkan sistem demokrasi berbasis struktur tradisional dan klan, bukan model negara sentralistik yang dipaksakan dari luar.
Namun di balik stabilitas itu, Somaliland menghadapi tantangan besar. ActionAid mencatat bahwa wilayah ini termasuk sangat miskin, dengan pendapatan per kapita yang sangat rendah. Selain itu, dampak perubahan iklim sangat terasa, mulai dari kekeringan panjang, kelaparan, hingga krisis air. Perempuan dan anak perempuan menjadi kelompok paling rentan, dengan angka praktik sunat perempuan (FGM) yang sangat tinggi dan risiko kekerasan di kamp pengungsi internal.
Israel Akui Somaliland sebagai Negara
Dilansir Aljazeera, Israel secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka pada Jumat (26/12/2025) waktu setempat. Langkah ini menjadikan Israel sebagai negara pertama di dunia yang memberikan pengakuan formal terhadap wilayah yang memisahkan diri dari Somalia sejak 1991.
Pengakuan tersebut langsung memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Uni Afrika, Liga Arab, Dewan Kerja Sama Teluk, Organisasi Kerja Sama Islam, serta sejumlah negara menilai keputusan Israel melanggar hukum internasional dan mengancam kedaulatan serta keutuhan wilayah Somalia. Pemerintah Somalia menyebut langkah itu sebagai tindakan agresif yang dapat merusak stabilitas kawasan Tanduk Afrika.
Sementara itu, Uni Eropa menegaskan tetap menghormati integritas teritorial Somalia dan mendorong dialog antara pemerintah Somalia dan Somaliland. Di sisi lain, Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi menyambut pengakuan Israel sebagai momen bersejarah dan awal kemitraan strategis, meski hingga kini komunitas internasional secara luas masih menolak mengakui Somaliland sebagai negara berdaulat.
Setelah menyimak penjelasan lengkap di atas, apakah kamu sudah mengetahui tentang Somaliland, detikers?
(sto/ahr)











































