Perayaan Natal identik dengan sosok Santa Claus, pria berjanggut putih, berpakaian merah, menaiki kereta luncur yang ditarik rusa terbang, dan membagikan hadiah kepada anak-anak. Figur ini telah menjadi simbol Natal di seluruh dunia, bahkan hampir semua dekorasi, ornamen, hingga iklan saat Natal menampilkan Santa Claus.
Namun, tahukah detikers bahwa sosok yang begitu akrab dengan anak-anak ini berakar dari seorang uskup Kristen abad ke-4 bernama Santo Nicholas?
Dikutip dari laman The University Of Queensland, Santo Nicholas hidup di kota Myra, Yunani Kuno (sekarang Turki Selatan) dan dikenal karena kebaikan hatinya terutama karena suka membantu orang-orang yang kurang mampu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, bagaimana asal usul Santa Claus sehingga menjadi ikon Natal sampai saat ini?
Siapa Sebenarnya Santo Nicholas?
Menurut laman USA Today nama "Santa Claus" sendiri berasal dari bahasa Belanda, Sint Nikolaas, yang kemudian disingkat menjadi Sinter Klaas.
Sinter Klaas berasal dari Santo Nicholas, yang lahir sekitar tahun 280 M. Ia dikenal karena kebaikannya.
Santo Nicholas dijuluki 'pelindung anak-anak dan pelaut' karena sering membantu orang lain, mulai dari memberi koin di sarung tangan anak-anak, membantu orang yang kurang mampu, hingga memberikan mahar bagi mereka yang akan menikah.
Karena itu masyarakat merayakan hari peringatannya pada 6 Desember, bertepatan dengan tanggal kematiannya, dan secara tradisi hari itu dianggap waktu yang baik untuk melakukan pembelian besar atau menikah.
Dikutip dari laman Britannica, beberapa legenda menyebutkan bahwa pada hari peringatan itu, Santo Nicholas akan datang dengan mengenakan jubah uskup berwarna merah dan memberikan hadiah bagi anak-anak yang berperilaku baik, sementara anak-anak nakal hanya mendapat batu bara atau kentang.
Meski beberapa budaya masih merayakan Hari Santo Nicholas pada 6 Desember, sosok Santa Claus kini lebih umum dikaitkan dengan Natal dan telah menjadi ikon yang dikenal di seluruh dunia.
Asal-usul Santo Nicholas hingga Menjadi Santa Claus Ikon Natal
Dikutip dari laman MOAS Museum of Art and Sciences, tradisi Sinterklaas dibawa oleh imigran Belanda ke pantai timur Amerika pada awal 1800-an. Dari sinilah berkembang versi Amerika dari Santa Claus dan Kota New York mulai menunjukkan minatnya terhadap Santo Nicholas.
Santo Pelindung Kota New York
Pada 1804, John Pintard mendirikan New York Historical Society dan mempromosikan Santo Nicholas sebagai santo pelindung kota. Ia menugaskan seniman Alexander Anderson membuat gambar Santo Nicholas yang dibagikan pada pertemuan peringatannya yang pertama.
Dalam penggambaran ini, Santo Nicholas tetap religius dan berwibawa, memberi hadiah di kaus kaki dekat perapian, dan menghargai kebaikan anak-anak. Meski Hari Santo Nicholas tidak berkembang seperti yang diharapkan Pintard, gambar ini menjadi fondasi citra Santa di masa depan.
Santo Nicholas Mulai Riang
Setelah sekian tahun masyarakat hidup dengan citra Santa Clause karya Pintard, hal tersebut mulai berubah setelah Washington Irving menulis fiksi satir Knickerbocker's History of New York.
Ia menggambarkan bahwa pada malam Hari Santo Nicholas, kaus kaki anak-anak dipenuhi hadiah, dan setiap rumah dipenuhi keceriaan. Inilah pertama kali Santo Nicholas muncul sebagai sosok riang.
Pada 1822, puisi Clement Moore, A Visit from St. Nicholas (dikenal sebagai The Night Before Christmas), memperkuat citra Santa yang gembira, menaiki kereta luncur untuk memberikan hadiah kepada anak-anak baik yang terinspirasi dari tradisi Irving dan budaya New Amsterdam.
Santa Claus Modern
Pada 1862, kartunis Thomas Nast menggambar Santa Claus untuk Harper's Weekly. Nast, yang juga dikenal menciptakan simbol gajah dan keledai politik, memengaruhi versi Santa modern. Ia menggambarkan Santa sebagai pria gemuk dengan janggut, dan secara bertahap mengubah warna mantelnya menjadi merah.
Nast menempatkan Santa di Kutub Utara, lengkap dengan bengkel mainan dan buku besar berisi daftar anak-anak nakal maupun baik. Ia terus menggambar Santa selama 30 tahun, membentuk citra yang kita kenal hingga kini.
Pada 1920-an, Coca-Cola mulai menggunakan gambar Santa karya Nast dalam iklan mereka. Pada 1930, ilustrator Haddon Sundblom diminta mengembangkan citra Santa yang hangat, realistis, dan ramah. Terinspirasi puisi Moore, Sundblom menciptakan versi Santa modern: pria gemuk, montok, riang, dan tampak manusiawi. Selama 35 tahun berikutnya, lukisan-lukisan Sundblom membantu membentuk citra Santa Claus seperti yang dikenal sampai sekarang.
Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(par/par)











































