Melihat Masjid Kajoran Klaten, Bangunan Kuno yang Bertahan Saat Gempa Besar

Melihat Masjid Kajoran Klaten, Bangunan Kuno yang Bertahan Saat Gempa Besar

Achmad Husain Syauqi - detikJateng
Minggu, 30 Nov 2025 18:04 WIB
Masjid Agung Kahuman di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes.
Masjid Agung Kahuman di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes. (Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng)
Klaten -

Masjid Agung Kahuman merupakan salah satu masjid kuno yang dimiliki Kabupaten Klaten. Masjid yang juga dikenal dengan sebutan Masjid Agung Kajoran itu pernah dilanda gempa besar dan tetap kokoh berdiri.

Meskipun usianya disebut sudah berabad-abad, masjid di Dusun Kahuman, Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes itu masih tetap difungsikan semestinya. Bangunan yang berada di tepi jalan kampung halamannya bisa menampung puluhan mobil.

Pada sisi selatan halaman masjid terdapat papan peringatan sebagai lokasi cagar budaya yang dipasang Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB, sekarang BPK). Dari kejauhan juga terlihat sebuah bedug kuno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di halaman masjid masih menyisakan kolam berbentuk U dengan tatanan batu bata kuno. Bangunan asli masjid hanya berukuran sekitar 10x10 meter, ada juga serambi, kemudian pawestren untuk jamaah wanita dan teras samping.

ADVERTISEMENT

Masjid ditopang empat tiang utama dan 12 tiang penguatnya berbentuk silinder berbahan kayu jati. Sambungan tiang maupun konstruksi atap tajugnya tidak menggunakan paku besi tetapi paku kayu atau sunduk kili.

Reng maupun usuk pada atap seluruhnya berbahan kayu. Mustoko masjid di puncak atap berbentuk tajug masih terbuat dari tembikar dengan motif sulur.

Ada lima pintu dan jendela di bangunan utama masjid. Mihrab untuk imam hanya memiliki lebar sekitar 70- 80 centimeter dengan tinggi sekitar 2 meter.

Di dekat mihrab terdapat mimbar kuno berbahan kayu jati dengan tinggi sekitar 2,2 meter, panjang 1,5 meter dan lebar 1 meter. Dinding bawah mimbar berukir motif satwa gajah dan tumbuhan.

"Yang ini (bangunan utama) masih asli semua, termasuk tiang, mihrab, mimbar, mustaka dan lainnya. Yang pernah direhab plester cuma tembok dan lantai karena sudah rapuh," ungkap Utomo, marbot masjid, Sabtu (29/11/2025) siang.

Masjid Agung Kahuman di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes.Masjid Agung Kahuman di Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes. Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng

Utomo menuturkan, Masjid Agung Kahuman konon didirikan tαΊ‘hun 1500-1600-an oleh Panembahan Agung, seorang ulama yang memiliki nama asli Maulana Mas. Panembahan Agung dimakamkan di belakang masjid.

"Ya makamnya di belakang masjid itu, ada makam Panembahan Agung dan anak-anaknya. Kalau rumah tinggalnya dimana tidak ada yang tahu, yang tersisa cuma masjid dan malamnya," tutur Utomo.

Menurut Utomo, secara bentuk, masjid Agung Kahuman sama persis dengan Masjid Golo di dekat makam Sunan Pandanaran di Bayat. Masjid sampai saat ini masih digunakan untuk salat.

"Masih digunakan untuk salat, juga salat jumatan. Mimbar juga masih dipakai untuk khutbah, cuma dulu masih bawa tongkat yang khutbah, sekarang tidak," papar Utomo.

Meskipun bangunan tua, sebut Utomo, masjid agung Kahuman masih kokoh, tidak kalah dengan masjid modern yang bertulang besi. Bahkan saat gempa besar tahun 2006 lalu, masjid itu tetap berdiri, padahal sejumlah rumah warga roboh.

"Kena gempa 2006 cuma goyang. Padahal rumah warga di sini banyak yang roboh, masjid ini malah pada untuk mengungsi sekitar dua Minggu," lanjut Utomo.

"Yang retak cuma keramik di teras. Tembok masjid tidak apa-apa," imbuhnya.

Dari catatan detikcom, gempa tersebut terjadi 27 Mei 2006 yang berpusat di DIY dengan kekuatan 6,3 magnitudo. Gempa tersebut berdampak parah di Kota Jogja, Kabupaten Bantul, Sleman, Gunungkidul, dan Klaten.

Analis Cagar Budaya dan Koleksi Museum Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung menyatakan masjid tersebut sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Tapi tahun pembangunan belum dipastikan.

"Untuk tahun pembangunannya belum diketahui secara pasti. Menurut beberapa sumber didirikan oleh Panembahan Agung," jelas Wiyan Ari.

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi menjelaskan dari bentuknya jelas masjid Agung Kahuman merupakan masjid kuno. Dari tipologinya mengacu pada arsitektur masjid Demak.

"Tipologi masjidnya sejaman dengan masjid tua di Bayat dan masjid Demak. Dengan bentuk atap tajuk disangga sokoguru jati utuh tanpa sambungan, selain itu terdapat mimbar kuno dari kayu jati diukir sulur dan motif fauna, terdapat kolam pasucen di depan masjid adalah tipikal masjid kuno," terang Hari.

"Masjid itu mungkin dibangun oleh Panembahan Agung. Apalagi dengan mustoko masjid yang masih menggunakan terakota model itu menunjukkan masjid kuno," imbuhnya.




(aap/aap)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads