Kisah Arimbi Pevoli Asal Semarang 'Si Bocah Terbang' Hasil Digembleng Ayah

Kisah Arimbi Pevoli Asal Semarang 'Si Bocah Terbang' Hasil Digembleng Ayah

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Rabu, 15 Okt 2025 15:17 WIB
Arimbi Syifana Andayani, pevoli muda asal Semarang yang kini bergabung dalam klub Tajawali O2C di Bandung.
Arimbi Syifana Andayani, pevoli muda asal Semarang yang kini bergabung dalam klub Tajawali O2C di Bandung. Foto: Dok Instagram @arwimbi
Semarang -

Nama Arimbi Syifana Andayani, pevoli muda asal Semarang, tengah jadi sorotan publik. Dia sudah tampil di ajang Livoli Divisi Utama 2025 di usianya yang baru 13 tahun.

Sang ibunda, Yani (49), menceritakan perjalanan panjang sang anak yang kini dijuluki 'bocah terbang' karena kemampuan melompatnya yang luar biasa.

"Sekarang dia ikut Rajawali O2C di Bandung, Jawa Barat. Sudah hampir satu setengah tahun, ikut latihan sama Coach Octavian," kata Yani saat dihubungi detikJateng, Rabu (15/10/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Yani, bakat voli Arimbi sudah terlihat sejak kecil. Arimbi disebut kerap menonton pertandingan voli bersama ayahnya, Soleman Lasno, yang dulunya merupakan atlet voli.

"Dulu waktu masih kecil Arimbi suka ikut ayahnya melatih di salah satu klub voli cowok di Semarang.

ADVERTISEMENT

Ayahnya mantan atlet voli, kalau saya suka aja sama voli. Jadi dia ikut-ikutan main bola dibiarin sama ayahnya. Kalau kata pelatih yang udah sepuh 'udah biarin dulu biar senang dulu'," jelasnya.

Arimbi Syifana Andayani, pevoli muda asal Semarang yang kini bergabung dalam klub Tajawali O2C di Bandung.Arimbi Syifana Andayani, pevoli muda asal Semarang yang kini bergabung dalam klub Tajawali O2C di Bandung. Foto: Dok Instagram @arwimbi

Digembleng Ayah Lompat Palang

Awalnya Arimbi disebut hanya main-main, tapi lama-lama ternyata Arimbi tampak menggemari olahraga satu itu. Dari situ ia kemudian mulai dilatih passing dan mengikuti klub voli perempuan di Semarang.

"Ditanya sama ayahnya, 'kamu mau jadi pemain voli?'. Terus bilang 'iya', dijawab 'kalau jadi pemain voli harus nurut sama ayah karena latihannya nanti berat'. Anaknya mau," ungkapnya.

Sejak kecil, Arimbi pun sudah disiplin berlatih. Di luar jadwal latihan klub yakni seminggu tiga kali, ia rutin digembleng sang ayah di rumah. Mulai dari lari sprint di tanjakan, lompat palangan, hingga pukul bola pasir.

"Umur 7 tahun itu dia udah bisa spike walaupun masih kayak gitu lah, masih belajar. Pokoknya dia kebanyakan latihan sendiri di rumah sama ayahnya digembleng lari di tanjakan lapangan bola, lompat palangan tinggi. Makanya dia sekarang viralnya bocah terbang, karena loncatnya dia tinggi," ungkapnya.

Perjuangan Arimbi menembus klub besar tak mudah. Awalnya ia sempat takut ketika diminta Coach Oktavian ikut ke Bandung dan bergabung dalam klub Rajawali O2C. Kala itu, Arimbi masih duduk di kelas 5 SD.

"Dia pertama nggak mau, ngomong 'saya takut' sampai Juli 2023 Arimbi bilang 'aku mau nyoba ke Bandung', akhirnya kita anterin ke sana. Di sana kurang lebih 1 bulan, coach bilang, 'nggak usah pulang, langsung pindah aja ke sini'," terangnya.

"Anaknya masih nggak mau, takut, akhirnya kita pulang. Arimbinya pulang nyelesain kelas 6-nya. Terus dia mikir-mikir, akhirnya mau SMP-nya di sana," lanjutnya.

Kini, Arimbi pun tinggal di asrama O2C tanpa ditemani keluarga. Terkadang, saat pertandingan jauh, ayah ibunya hanya bisa menonton dari YouTube.

Namun, karena Arimbi juga ikut serta dalam Livoli Divisi Utama 2025 babak Final Four yang bergulir di GOR Ki Magetan, Jawa Timur, kedua orang tuanya itu berkesempatan menonton Arimbi.

"Di Magetan kan ini event tertingginya bola voli. Jadi kesempatan lah, kita ingin nonton langsung. Ayahnya kebetulan dapat cuti, akhirnya kita langsung ke Magetan," ujarnya.

"Pikirnya saya jemput ke Magetan sekalian membawa Arimbi pulang. Ternyata nggak boleh karena setelah Livoli Arimbi ada TC yang lain lagi. Ya udahlah untungnya kita ke Magetan bisa ketemu," lanjutnya.

Selama setahun setengah di Bandung, lanjut Yanie, perkembangan fisik pun Arimbi terlihat pesat. Gadis yang dulunya kurus itu bertumbuh menjadi lebih kekar dan mandiri.

"Dulu berangkat beratnya 48 kg tingginya 171 cm. Sekarang beratnya 60 kg, tingginya 176 cm. Badannya sudah atlet banget," ungkapnya bangga.

Arimbi Syifana Andayani, pevoli muda asal Semarang yang kini bergabung dalam klub Tajawali O2C di Bandung.Arimbi Syifana Andayani, pevoli muda asal Semarang yang kini bergabung dalam klub Tajawali O2C di Bandung. Foto: Dok Instagram @arwimbi

"Kalau dulu manja banget, sekarang sudah mandiri. Di sana semua diurus sendiri, dari sekolah sampai latihan," sambungnya.

Arimbi sendiri diposisikan sebagai opposite hitter, posisi yang kerap jadi tumpuan serangan tim. Menurutnya, hal itu tak hanya karena Arimbi memiliki postur tubuh yang tinggi.

"Outside sama opposite kan sama-sama bola tinggi, nggak ada bedanya, cuma beda di posisi aja. Ayahnya dulu itu kalau ngedrill Arimbi itu harus bisa semua bola," jelasnya.

"Makanya dia usia berapa tahun, dia bola-bola variasi itu sudah bisa Makanya coach kadang kalau Arimbi pertandingan di kelompok usianya, kadang dia diposisikannya ganti-ganti," tambahnya.

Baca Lawan Sang Megatron di halaman selanjutnya....

Lawan Sang Megatron

Meski masih sangat muda, Arimbi sudah dipercaya tampil di level senior. Ia juga pernah bertanding melawan idolanya, yakni Megawati Hangestri Pertiwi, seorang atlet bola voli putri Indonesia yang dikenal dengan julukan 'Megatron'.

"Kemarin waktu lawan Mega di Bank Jatim, habis main itu dia bilang 'aku tremor'. Aku tanya 'kenapa? Kamu takut?', katanya 'iya, bloknya tinggi-tinggi'. Dia masih umur segitu kawannya udah melanglang buana ke mana-mana," jelasnya.

Menurutnya, ha itu bisa menjadi pengalaman baik untuk Arimbi. Yanie dan suaminya pun tak henti memberi dukungan bagi Arimbi.

"Pokoknya kita kan tetap ngasih support biar dia nggak insecure di lapangan sama kakak-kakaknya yang lawannya notabene kebanyakan pemain Timnas. Kita menguatkan, alhamdulillah ya berani," tuturnya.

Yanie mengaku sudah sejak kecil Arimbi menonton pertandingan voli dan berburu foto dengan para pemain. Banyak foto pemain voli yang terpampang di kamarnya.

"Sebenarnya dia banyak sih yang diidolakan. Kayak yang dari luar negeri juga banyak. Dia senang lihat postur-posturnya, lihat mainnya. Salah satunya yang diidolakan Megawati. Sebenarnya banyak foto sama atlet-atlet. Dulu kecilnya dia senang ngejar atlet-atlet buat minta foto," ungkapnya.

Sebagai orang tua, Yanie hanya berharap tekad dan kerja keras Arimbi berbuah hasil. Sebelumnya, Arimbi bercita-cita masuk Livoli dan kini sudah terkabul. Ia berharap seluruh cita-cita buah hatinya bisa tercapai.

"Cita-citanya jadi pemain Proliga dan masuk timnas. Ya semoga tercapai. Kan setiap anak voli pasti pengin sampai ke sana," harapnya.

Halaman 2 dari 2
(afn/apl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads