Polisi menangkap massa aksi yang diduga rusuh dilakukan di Jalan Pahlawan sekitar Mapolda Jateng, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Sudah ada 283 orang yang saat ini ditangkap.
Pantauan detikJateng pukul 17.30 WIB, tampak para polisi masih berjaga di sepanjang Jalan Pahlawan. Beberapa dari mereka mengenakan seragam dan ada yang berhelm. Sementara sebagian besar lainnya mengenakan pakaian hitam dan ojek online (ojol).
Mereka terlihat menangkapi massa yang berlarian maupun menggunakan motor. Beberapa dari mereka tampak masih berada di bawah umur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabid Humas Polda Jateng, Kobes Artanto pun membenarkan adanya penangkapan di Jalan Pahlawan tersebut. Ia menyebut, orang-orang yang ditangkap dibawa menuju Mapolda Jateng untuk menjalani pemeriksaan oleh penyidik.
"Sampai dengan saat ini 283 pelaku anarko," kata Artanto saat dihubungi awak media, Sabtu (30/8/2025).
Artanto menyebut penangkapan itu buntut kericuhan yang terjadi usai aksi yang digelar mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip).
"Karena tadi pada saat jam pertama kan siang itu kan pelaksanaan unjuk rasa dari Undip itu kan berjalan ramai, lancar, sesuai dengan aturan," jelasnya.
"Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan setelah salat zuhur siang ini, ternyata ada kelompok anarko yang siap untuk melakukan aksi anarkis," lanjutnya.
Karena situasi dinilai semakin ricuh, tambah Artanto, pihak kepolisian pun langsung membubarkan massa dengan gas air mata dan melakukan penangkapan yang tengah terjadi di Jalan Pahlawan.
"Penangkapan itu masih berlangsung sampai sekarang. Kita menangkap itu sudah memonitor maksud dan kegiatan dia itu apa, sudah kita ketahui. Jadi pada saat mereka melarikan diri, kita tangkap. Tidak sembarang orang kita tangkap," jelasnya.
"Mereka kelompok anarkis yang memang terprovokasi melakukan aksi anarkis, misalkan pelemparan batu dan sebagainya. Kalau saya lihat campuran, ada anak, dewasa," lanjutnya.
Para pengendara yang melintas di Jalan Pahlawan dan mengambil gambar sempat diberhentikan dan diminta untuk menghapus gambar dan video yang diambilnya. Awak media juga diminta untuk tidak mendokumentasikan hal tersebut. Namun, Artanto menyebut, wartawan diperbolehkan meliput peristiwa tersebut.
"Pada prinsipnya boleh-boleh saja. Monggo aja," ujarnya.
Saat beberapa orang yang terlihat masih pelajar itu melarikan diri, orang-orang itu langsung mengejar. Saat tertangkap, merena langsung bersorak. Tak jarang pula mereka terlihat memukul massa yang ditangkap.
Warga sekitar dan pedagang juga ikut berkerumun dan melihat penangkapan tersebut di sepanjang jalan. Sekitar pukul 17.52 WIB, suasana tak begitu mencekam meski polisi masih berjaga.
Arus lalu lintas yang mulanya terhambat karena motor, mobil, hingga bus diberhentikan untuk menyisir massa, sudah mulai kembali normal.
(apu/ams)