Ketua Perkumpulan Driver Ambulans Solo Raya (Pedas), Dwi Ardiya Indranata, mengungkapkan kesaksiannya saat dua rekannya menjadi sasaran dugaan kekerasan aparat pada demonstrasi di Kota Solo semalam. Dwi menerangkan dua rekannya itu mengalami luka-luka.
Dwi menyebutkan dua rekannya yang diduga menjadi sasaran kekerasan aparat yakni Dika dan Raditya.
"Ini ada dua driver yang tadi ada insiden dengan kepolisian atau Brimob, yang tadi terjadi baku hantam, ada kekerasan dari pihak kepolisian," kata Dwi kepada awak media, Sabtu (30/8/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dwi menerangkan, Dika dan Raditya saat itu hendak mengevakuasi massa yang membutuhkan bantuan. Namun, aparat mencegat kedua relawan tersebut saat sampai di sekitar Lapas Solo pada pukul 19.15 WIB.
"Dari ambulans Mas Mantri, mau evakuasi pendemo yang mungkin ada yang sesak napas atau jatuh pingsan, dari pihak kepolisian memblokade tidak boleh masuk. Salah satu driver digeret keluar, dan di situ ada video dan bukti autentik bahwa driver atas nama Dika dianiaya pihak kepolisian," jelasnya.
Dwi menyebut Dika mendapatkan luka parah di bagian kepala lantaran diduga diserang aparat. Sementara Raditya mengalami luka ringan. Keduanya pun dilarikan ke rumah sakit berbeda.
"Mas Dika yang parah, luka robekan di kepala sekitar 10 sentimeter, jahitannya sekitar 12-an. Saat ini di RS PKU, dan ini masih proses CT Scan. Kalau yang di RS Panti Waluyo luka ringan saja," jelasnya.
Dwi menjelaskan pihaknya melaporkan dugaan kekerasan tersebut ke pihak Propam. Laporan tersebut ditindaklanjuti oleh polisi, sedangkan biaya pengobatan akan ditanggung Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani.
"Ada respons baik, kami sudah lapor ke Propam, dan dari Pak Wakapolresta Bapak Sigit menanggapi apa yang kita sampaikan, apa yang kita laporkan. Beliau menerjunkan langsung yang sakit di RS, dua personel. Biaya sudah ter-back up oleh ibu Wakil Wali Kota Solo. Beliau (Sigit), setelah pengamanan demo ini langsung mencari petugas, dan update ke saya langsung," jelas dia.
Solidaritas ambulans sempat menggeruduk Mapolresta Solo usai adanya rekan mereka yang diduga menjadi korban kekerasan aparat kepolisian. Mereka memarkir puluhan ambulans di depan Mapolresta Solo sebagai wujud solidaritas. Beberapa perwakilan dari mereka pun beraudiensi dengan polisi.
Detik-detik Peristiwa
Seorang relawan ambulans, Naufal, menerangkan awal mula peristiwa itu terjadi. Awalnya mereka hendak menuju daerah Lapas Kelas I A yang tak jauh dari Bundaran Gladak. Namun, belum sampai di lokasi, Naufal menerangkan, petugas kepolisian diduga memberhentikan ambulansnya.
"Tadi untuk kejadiannya mau mengevakuasi yang ada di Lapas, ada pendemo yang terkena gas air mata, setelah kita ingin datang ke tempat langsung diberhentikan oleh anggota dan kita dibuka," kata Naufal dihubungi awak media, Jumat (29/8).
Naufal mengungkap Dika diduga dipukul setelah ditarik keluar. Sementara Raditya juga diduga menjadi sasaran kekerasan.
"Satu rekan saya dari driver ambulans Sumantri atas nama Dika ditarik keluar dan dipukul, langsung dipukul ada satu rekan kita Mas Radit, saya kurang tahu dari organisasi mana tapi saya 100% relawan dia juga dipukul," bebernya.
"Saat ini 2 korban dibawa ke PKU dan sebelum ke PKU saya menyupir dan teman saya Mas bangkit. Kunci dicabut oleh rekan-rekan aparat dan diambil terus lari kita kejar kita, juga dikejar lagi akhirnya kuncinya dikasihkan kita bawa rekan kita yang kepalanya bocor ke PKU Muhammadiyah Surakarta," lanjutnya.
Naufal memastikan, dirinya dan rekan tenaga medis lainnya mengenakan rompi saat bertugas guna menunjukkan mereka adalah tenaga medis.
"Rekan saya tadi sudah menggunakan paramedik, di belakang juga sudah ada tulisan rescue di mana kita benar-benar dari tim medis. Kita sudah dicek oleh polisi, kita sudah tidak ada barang-barang tajam kita benar-benar 100% ingin mengevakuasi pendemo yang kena sasaran," tuturnya.
Polisi Janji Usut
Sementara itu, Wakapolresta Solo, AKBP Sigit, menuturkan kepada relawan bakal mengambil tanggung jawab penuh atas korban.
"Langsung saya tugaskan tiga orang untuk menjaga sampai selesai, sampai sembuh," kata Sigit dalam video yang diterima detikJateng dari pihak relawan.
Dia menegaskan anggotanya yang diduga terlibat pemukulan itu bakal ditindaklanjuti. Sigit menyebutkan, ada satu anggota yang tampak dalam video.
"Nanti akan berkembang. Langsung setelah kegiatan, setelah demo ini, langsung kita tindak lanjuti, langsung kita tindak, sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia," tegasnya.
Sigit pun kembali menegaskan dirinya akan bertanggung jawab. Dia juga menyatakan, sinergi antara pihaknya dan relawan ambulans se-Solo Raya tidak boleh goyah.
"Kalau ada masalah langsung kita tindak lanjuti dengan Provos, Propam, maupun yang bersangkutan," tuturnya.
(ams/ams)