Stasiun Solo Balapan berhenti memutar lagu Bengawan Solo yang selama ini identik dengan stasiun kereta api tersebut. Keluarga maestro keroncong Gesang Martohartono, pencipta Bengawan Solo, mengaku tidak keberatan lagu itu tetap diputar.
detikJateng menemui keponakan Gesang, Yani Effendi. Yani adalah anak dari Thoyib, adik Gesang. Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Gesang yang tidak berkeluarga tinggal bersama Thoyib dan Yani di Kemlayan, Solo.
Yani menanggapi soal lantunan Bengawan Solo yang kini berhenti diputar di Stasiun Solo Balapan. Dirinya menyebut tak ada masalah jika lagu tersebut tetap diputar seperti selama ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya pribadi sebetulnya nggak papa, nggak masalah (lagu Bengawan Solo diputar di Stasiun Solo Balapan)," katanya ditemui di kediamannya di Kemlayan, Kamis (28/8/2025).
Apalagi, kata Yani, Stasiun Solo Balapan merupakan tempat umum. Di sisi lain, Solo Balapan merupakan ikon Kota Solo dan diputar lagu yang identik dengan Kota Solo.
"Istilahnya kan, tempat umum. Ikon Solo, nggak apa-apa sebetulnya, kan di Kota Solo kan," bebernya.
Yani justru bangga, lagu milik Gesang yang sudah berusia puluhan tahun ini bisa didengar banyak orang. Mengingat, generasi sekarang yang sudah jarang mendengar lagu Bengawan Solo.
"Sebenarnya kalau saya pribadi ya, nggak masalah juga malah kita itu bangga, tapi kan orang kan sendiri-sendiri pemikirannya. Bagi saya sekarang kalau enggak di situ di mana lagi bisa diputar gitu ya," bebernya.
Ia khawatir lagu Bengawan Solo akan makin dilupakan jika tidak diputar lagi.
"Kan kalau nggak diputer kan nanti malah semakin dilupakan kan. Menurut saya gitu. Menurut saya sebetulnya nggak masalah, ini pribadi loh. Tapi nggak tahu kalau orang yang musisi yang berjiwa bisnis kan mesti mikirnya ke situ ke arah, Iya, rupiah ya," pungkasnya.
Keluarga Masih Terima Royalti
Sementara itu, Yani mengaku sampai saat ini keluarga mendiang Gesang masih menerima royalti. Ia mengatakan, urusan royalti sudah diserahkan kepada publisher.
"Royalti dapat ya, keluarga Pak Gesang dan waktu Pak Gesang masih hidup itu sudah diserahkan ke publisher di Jakarta itu, jadi kita keluarga ya tinggal terima aja sudah ada yang ngurusin. Jadi kalau ada ramai-ramai itu ya sudah itu urusan publisher-nya ya," bebernya.
Ia menyebut, dalam setahun menerima dua kali pembayaran royalti. Menurutnya, nominal royalti yang didapat juga tidak terlalu besar.
![]() |
"Royalti keluar di dibagi keluarga besar ya. Dapatnya dibagi delapan, kurang lebih ya berapa ya, sedikit. Nggak sampai Rp 100 juta nggak sampai. Setahun. Setahun dua kali itu, tahun ini sudah menerima," pungkasnya.
Tak Lagi Diputar di Stasiun Solo Balapan
Diberitakan sebelumnya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 6 memutuskan tidak lagi memutar lagu instrumental Bengawan Solo di Stasiun Solo Balapan. Lagu Bengawan Solo selama ini diputar saat kedatangan dan keberangkatan kereta api di stasiun tersebut.
Manajer Humas Daop 6, Feni Novida Saragih, membenarkan lagu Bengawan Solo tidak lagi diputar di Stasiun Solo Balapan.
"Memang untuk sementara lagu tersebut tidak diputarkan dulu," katanya dihubungi detikJateng.
Feni mengatakan, penghentian itu sudah berlangsung sejak akhir bulan Juli. Dirinya sendiri, enggan mengungkapkan alasan lagi tersebut berhenti diputar.
"Sudah sejak Juli lalu (tidak diputar). Ada evaluasi dari internal, sambil paralel sedang kita evaluasi secara internal dulu," pungkasnya.
(aku/apl)