Beda Fasilitas antara Ferdy Sambo dengan Hoegeng Saat Berpangkat Irjen

Tim detikJateng - detikJateng
Rabu, 10 Agu 2022 19:38 WIB
Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso selama hidupnya dikenal sebagai Kapolri yang berintegritas. Hoegeng juga memiliki sisi lain yang gemar melukis dan bermusik
Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso selama hidupnya dikenal sebagai Kapolri yang berintegritas. Hoegeng juga memiliki sisi lain yang gemar melukis dan bermusik. Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Solo -

Sebelum dibunuh, Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J telah menempuh perjalanan jauh Jakarta-Magelang untuk urusan keluarga mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo. Beda nasib dengan Brigadir J, berikut kisah Soedharto Martopoespito, mantan sekretaris Jenderal (Purn) Drs Hoegeng Imam Santoso.

Pesan Terakhir Brigadir J

Dikutip dari detikX, Brigadir J atau Yoshua mengirim pesan ke grup WhatsApp yang diberi nama Keluarga pada Sabtu (2/7/2022) pukul 14.46 WIB. "Abang berangkat ke Magelang dulu ya," tulis Yoshua - detikX menyelaraskan dengan baku tata kalimat dalam pesan ini.

Saat ibunya menanyakan ada keperluan apa ke Magelang, Yoshua menjawab, "Mbak D (nama anak Kadiv Propam Mabes Polri Irjen Ferdy Sambo) masuk sekolah, Ma. Di SMA Taruna Nusantara, Magelang."


Setelah mengantarkan Irjen Sambo dan istrinya ke Magelang, pada Jumat pukul 10.46 WIB (8/7/2022), Yoshua kembali mengabarkan kepada keluarganya via grup WhatsApp bahwa dia akan segera menuju Jakarta. Menurut pihak keluarga, itulah pesan terakhir Yoshua sebelum dinyatakan meninggal dunia.

Kisah Hoegeng Menurut Sekretarisnya

Dikutip dari laman kepustakaan-presiden.perpusnas, riwayat karier terakhir Jenderal (Purn) Dr Hoegeng Imam Santoso ialah sebagai Kapolri periode 1968-1971. Adapun riwayat hidup Hoegeng sebagai polisi berawal dari pendidikan Ajun Inspektur Polisi di Pekalongan pada 1943.

Pria kelahiran Pekalongan 14 Oktober 1921 ini juga disebutkan pernah menjabat sebagai Menteri Iuran Negara (1966-1967) dan Deputi Operasi Menpangak (1967-1968).

Meski Hoegeng sudah meninggal dunia pada 14 Juli 2004, kisah hidupnya yang bersahaja sebagai pejabat masih terkenang hingga kini. Popularitas Hoegeng pada era sekarang tak lepas dari humor satire Gus Dur mengenai 'tiga polisi jujur di Indonesia'.

Ada beberapa karya yang mengulas kisah hidup Hoegeng, salah satunya buku berjudul Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan karya Suhartono (Penerbit Buku Kompas, 2013).

Buku yang digarap dengan cara kerja jurnalistik itu berawal dari perkenalan penulis dengan Soedharto Martopoespito, mantan sekretaris Hoegeng saat menjadi Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet pada Maret-Juli 1966.

Dalam buku tersebut dituliskan berbagai kisah hidup Hoegeng yang patut diteladani. Salah satunya ialah kebiasaan Hoegeng yang tak mau menikmati fasilitas, termasuk pengawalan pribadi.

Saat menjadi menteri, Hoegeng yang saat itu masih menyandang pangkat Inspektur Jenderal diceritakan beberapa kali menolak tawaran fasilitas untuk dirinya. Termasuk di antaranya ialah fasilitas pengawalan, baik pengawal pribadi di kantor maupun di rumah.

Kepada asistennya, Hoegeng saat itu menyatakan bahwa dirinya tetap bisa bekerja dengan baik meskipun tanpa pengawalan. Tak hanya fasilitas pengawalan, sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet, Hoegeng sebenarnya juga akan mendapatkan jatah satu mobil dinas dan satu mobil untuk keluarga.

Namun, Hoegeng hanya menerima mau menerima mobil dinas. Sedangkan mobil untuk keluarga langsung dia tolak. Kepada sekretarisnya, Hoegeng menyatakan sudah punya mobil dinas jeep Willis dari korpsnya di kepolisian dan satu mobil dinas sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet.



Simak Video "Siang-Malam Jaksa dan Polisi Kebut Berkas Ferdy Sambo Cs"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/ahr)