Apa Kabar Filateli Saat Surat Langsung Sampai Lewat Japri?

Bayu Ardi Isnanto - detikJateng
Minggu, 07 Agu 2022 21:41 WIB
Prangko seri prajurit Keraton Solo yang diluncurkan Kemenkominfo, Kamis (4/8/2022).
Prangko seri prajurit Keraton Solo yang diluncurkan Kemenkominfo, Kamis (4/8/2022). Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng
Solo -

Meski pernah menjadi tren di masa lalu, filateli atau mengoleksi prangko kini mungkin menjadi suatu kegiatan yang sudah tak lagi dikenali. Berkirim surat sudah tergantikan dengan japri.

Era digital memang membuat banyak hal berubah, termasuk dalam surat-menyurat. Mulai dari e-mail, milis, hingga kini muncul berbagai aplikasi seperti WhatsApp dan media sosial (medsos) sudah menggantikan surat berprangko.

Sebagai contoh, dalam acara pengenalan filateli kepada pelajar di salah satu hotel di Solo pada Jumat (5/8), hampir seluruh peserta tidak mengetahui bentuk prangko. Fungsinya pun tidak lagi diketahui.


Di sisi lain, prangko saat ini masih terus diproduksi. Terakhir, Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama PT Pos Indonesia meluncurkan prangko seri prajurit Keraton Kasunanan Surakarta dan ASEAN Para Games XI.

Manajer Filateli PT Pos Indonesia, Ria Marantika, mengakui bahwa penjualan prangko memang jauh menurun dibandingkan sebelum era digital. Namun dia menyebut masih ada saja orang yang rutin membeli prangko.

"Sudah sangat jarang orang mengirim surat pakai prangko, kalau pun ada yang mengirim surat biasanya langsung tanpa prangko. Tapi masih ada orang-orang yang masih suka bersurat pakai prangko, mengoleksi prangko, bertukar kartu pos, biasanya mereka membentuk komunitas," kata Ria saat dihubungi detikJateng, Minggu (7/8/2022).

Menurutnya, kegiatan filateli ini masih rutin digelar oleh tiap komunitas. Bahkan saat ini tengah digelar pameran filateli berkelas dunia di Jakarta.

"Sekarang masih banyak komunitas filateli yang masih eksis. Mereka sering mengundang kami jika ada kegiatan," ujarnya.

Sementara itu, anggota kelompok kerja (pokja) penerbitan prangko, Tjahjaning Seno, menjelaskan bahwa prangko sebetulnya memiliki banyak fungsi. Yang paling terlihat memang fungsi untuk dikoleksi.

"Prangko ini ketika dikoleksi, nantinya bisa dijual kembali. Prangko-prangko lama ini pernah terjual bisa sampai miliaran rupiah. Bisa dicek di marketplace, ada prangko yang dijual jutaan rupiah. Padahal dari PT Pos menjualnya cuma Rp 5 ribu, Rp 10 ribu," kata Seno dalam acara sosialisasi filateli di Solo, Jumat (5/8) lalu.

Namun selain dikoleksi, prangko rupanya memiliki fungsi lain. Antara lain sebagai penanda sejarah, bahkan sebagai bentuk kedaulatan negara.

"Contohnya saat ini sedang ada ASEAN Para Games, kita cetak dalam prangko sebagai pengingat bahwa Indonesia pernah menggelar acara tersebut," ujar dia.

"Prangko juga bisa menunjukkan kedaulatan negara, seperti untuk mengklaim sesuatu. Misalnya dulu Malaysia pernah membuat prangko Pulau Sipadan dan Ligitan, kemudian asam jawa yang diklaim itu milik mereka. Indonesia juga pernah membuat prangko Reog Ponorogo, itu juga menunjukkan klaim kebudayaan kita," katanya.

Plt Direktur Pos Ditjen Penyelenggara Pos dan Informatika (PPI) Kemenkominfo Gunawan Hutagalung mengatakan pihaknya masih terus membuat terobosan agar prangko tidak punah. Salah satunya melalui program prangko prisma.

"Dengan prangko prisma ini, masyarakat bisa mendesain sendiri prangko yang dikehendaki. Nanti kita yang cetak. Dan ini peminatnya banyak. Kami juga rutin menyosialisasikan kegiatan filateli kepada pelajar, agar kegiatan ini tidak punah," pungkasnya.



Simak Video "Warga Solo Masih Bisa Nonton Siaran TV Analog Hari Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/rih)