Pushidrosal Sebut Pantura Jateng Mengalami Pendangkalan Tinggi

Angling Adhitya Purbaya - detikJateng
Rabu, 03 Agu 2022 17:51 WIB
Banjir rob rendam kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah. Banjir disebabkan oleh tingginya pasang air laut serta tanggul yang jebol di kawasan itu
Ilustrasi. Banjir rob rendam kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Banjir disebabkan oleh tingginya pasang air laut serta tanggul yang jebol di kawasan itu. (Foto: ANTARA FOTO/AJI STYAWAN)
Semarang -

Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) melakukan survei di perairan Jawa Tengah sisi Utara. Ditemukan pendangkalan yang cukup tinggi sejak tahun 1900-an hingga saat ini.

Hal itu diungkapkan Komandan Pushidrosal Laksamana Madya TNI AL Nurhidayat saat bertemu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ia mengatakan survei dilakukan 50 hari dan saat ini masih berlangsung ke arah timur.

"Kami izin menghadap Pak Gubernur intinya sowan bahwa kami melakukan survei di pantai di wilayah beliau dari Tegal, Pekalongan, sekarang Batang dan sentuh Semarang akan berlanjut sampai Jepara," kata Nurhidayat di kantor Gubernur Jateng, Semarang, Rabu (3/8/2022).


Ia menyampaikan beberapa kondisi terkait arus laut, angin, bahkan kondisi pendangkalan yang tinggi. Nurhidayat menyebut pada tahun 1900-an di pinggir Laut Jawa kedalaman 7 meter saat ini mengalami pendangkalan dan hanya tersisa 1 meter.

"Sangat tinggi pendangkalannya. Dulu 1900-an itu 7 meter sekarang tinggal sedikit. Tinggi sedimentasinya," jelas Nurhidayat.

Selain soal pendangkalan, ia juga menjelaskan beberapa kondisi perairan termasuk yang berpotensi arusnya bisa dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik. Pushidrosal juga akan membantu pemetaan jika dibangun pelabuhan baru.

"Jangan sampai (pelabuhan) Patimban kembali terulang. Patimban dibuat perusahaan tapi tidak dipetakan sehingga pelaut tidak masuk," ujarnya.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan data pendangkalan di Jateng dulu dibuat oleh Belanda pada tahun 1800-an. Sehingga data dari Pushidrosal bisa untuk peringatan.

"Kami sampaikan terima kasih ternyata data kita out of date kalau 1800-an itu survei terakhir di titik Pantura kita survei terakhir 1800-an. Kedalaman dulu 7 jadi 1 meter itu warning. Kita share data ada dari ITB, BMKG, Undip yang meneliti maka di-overlay akan bagus," jelas Ganjar.

Ia juga menyambut baik kedatangan Pushidrosal karena data yang rinci soal kondisi laut itu bisa memudahkan perencanaan pembangunan. Ia juga menyebut Pushidrosal bisa bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sehingga akan ada lebih banyak data yang bisa digunakan.

"Jadi kalau membangun itu, akurasi data itu bagian dari perencanaan dan kata manajemen kalau perencanaan baik, 50 persen berhasil," imbuh Ganjar.



Simak Video "Ganjar Bantah Isu Dirinya Dilarang PDIP ke Luar Daerah"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/rih)