Volume Sampah Jateng Capai 6 Juta Ton per Hari, Tak Semua Terkelola

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Sabtu, 25 Jun 2022 21:56 WIB
Kongres Sampah 2 Provinsi Jawa Tengah di Prambanan, Klaten, Sabtu (25/6/2022).
Kongres Sampah 2 Provinsi Jawa Tengah di Prambanan, Klaten, Sabtu (25/6/2022). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Volume sampah di Jawa Tengah saat ini mencapai sekitar 6 juta ton per hari. Tak semua sampah itu terkelola. Hal itu diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng Sumarno di Klaten, Sabtu (25/6/2022).

"Di Jawa Tengah saja timbunan sampah begitu banyak, 6 juta ton per harinya. Ini baru terkelola sebesar 62, 97 persen," kata Sekda Jateng Sumarno saat Kongres Sampah 2 di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Sabtu (25/6) siang. Kongres itu untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup.

Dijelaskan Sumarno, upaya penanganan sampah terus dilakukan di Jawa Tengah. Saat ini ada program 'Tiga Ng'.


"Tiga Ng itu yang pertama ngelongi (mengurangi). Yaitu mengalihkan penggunaan barang yang tidak bisa didaur ulang secara alami," papar Sumarno.

'Ng' yang kedua, sebut Sumarno, adalah nganggo (memakai) atau reuse. Yaitu memanfaatkan sampah agar lebih bermanfaat.

"Memanfaatkan sampah agar lebih bermanfaat, misalnya menggunakan sampah untuk jadi tas, atau plastik jadi gagang pisau. Ng ketiga adalah ngolah, di Cilacap diolah jadi PLTU," imbuh Sumarno.

Di tempat yang sama, Dirjen Pengelola Sampah dan Limbah Kementerian Lingkungan Hidup Shinta Saptarina menyatakan sampah di Indonesia didominasi sampah dari rumah tangga.

"Jumlah 27,7 persen sampah dari sisa makanan, kemudian plastik sebesar 15,1 persen, (sampah) organik 12,7 persen. Sumber sampah terbesar 47 persen dari rumah tangga," ucap Shinta.

Menurut Shinta, gerakan memilah sampah seperti yang dilakukan di Jawa Tengah bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah sampah.

"Ada kebutuhan tinggi dari industri daur ulang plastik dan kertas. Jumlah kebutuhannya 65,7 juta ton per tahun. Sayangnya (sampah) belum terpilah, padahal sangat dibutuhkan industri," jelas Shinta.

Di Indonesia saat ini, kata Shinta, hanya ada 11,5 juta ton plastik dan 8 juta ton kertas. Walhasil, Indonesia masih mengimpor setiap tahun untuk kebutuhan industri.

"Indonesia masih mengimpor 3,47 juta ton per tahun. Seharusnya sampah itu dilihat sebagai sumber daya bukan sesuatu yang dibuang," sebut Shinta.



Simak Video "Ekspedisi Pencinta Lingkungan Berburu Jaring Hantu di Laut Hawaii "
[Gambas:Video 20detik]
(dil/dil)