Mengenang 52 Tahun Bung Karno Wafat dari Kisah Patung Pancoran

Tim detikHOT - detikJateng
Selasa, 21 Jun 2022 12:01 WIB
Aktivis dari Greenpeace Indonesia bentangkan spanduk Orang Baik Pilih Energi Baik di dua patung ikonik Jakarta. salah satunya Patung Dirgantara di Pancoran.
Aktivis dari Greenpeace Indonesia bentangkan spanduk 'Orang Baik Pilih Energi Baik' di dua patung ikonik Jakarta. salah satunya Patung Dirgantara di Pancoran. Foto: Grandyos Zafna
Solo -

Pada 21 Juni, 52 tahun lalu. Edhie Sunarso sedang bersemangat menuntaskan pengerjaan tahap akhir Monumen Patung Dirgantara, Jakarta. Sebab, proyek monumen yang kini lebih dikenal dengan sebutan Patung Pancoran itu sempat mangkrak setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965.

"Waktu finishing (naik) ke atas, memang dia tidak mempercayakan karyanya kepada tim. Dia ingin betul seluruh karyanya finishing dengan baik," kata pengajar ISI Yogyakarta, Kuss Indarto, pada Juli 2017, dikutip dari detikHOT. Kuss Indarto mendengar kisah itu dari putra Edhi.

Saat berada di puncak monumen tersebut, Kuss mengatakan, maestro patung kesayangan Bung Karno itu melihat rombongan polisi dan ambulans di bawahnya. Setelah mendapat kabar dari rekan kerjanya bahwa iring-iringan itu membawa jenazah Bung Karno, Edhi pun tak dapat menahan air matanya.


"Katanya Bung Karno mau dimakamkan di Blitar. Jadi Pak Edhi turun (dari puncak Monumen Dirgantara), lalu cari kendaraan dan langsung ke Blitar untuk ikut melayat," kata Kuss mengenangkan peristiwa bersejarah itu kepada detikHOT.

Wajar jika Edhi Sunarso menyimpan duka mendalam saat itu. Sebab, dia teringat perjuangan Presiden Soekarno yang tetap bertekad untuk menyelesaikan pembangunan monumen di akhir masa kepemimpinannya itu.

Mengingat, Bung Karno saat itu sedang berstatus sebagai tahanan politik dan sakit-sakitan usai dilengserkan pada 1967. Meski demikian, Bung Karno tetap mengupayakan kelanjutan pembangunan monumen yang dimulai sejak 1964 itu.

Termasuk saat Bung Karno memberikan uang Rp 1,7 juta untuk menambal kekurangan pembangunan monumen itu, dikutip dari buku 'Soekarno Poentja Tjerita' karya @SejarahRI (Bentang, 2016).

Belakangan, Edhi Sunarso baru tahu kalau uang itu ternyata hasil dari penjualan mobil pribadi Bung Karno.

Meski uang dari Bung Karno itu sebenarnya juga belum cukup untuk menyelesaikan patung perunggu setinggi 11 meter itu, Edhie tetap bersikeras agar patung itu selesai tuntas seperti keinginan Bung Karno.

Edhi Sunarso pun rela tombok hingga dililit utang, sebagaimana dikisahkan dalam buku 'Soekarno Poentja Tjerita'. Kisah itu dibenarkan oleh Kuss Indarto.

"Yang melunasi patung adalah Pak Edhi sendiri, dan baru dilunasi pas masa Bu Megawati di tahun 2003. Saat Bung Karno lengser, dia sampai menjual sedan kodoknya, tapi ya dananya tetap kurang," tutur Kuss Indarto kepada detikHOT.

Untuk diketahui, Monumen Patung Dirgantara itu adalah karya patung perunggu pertama Edhi Sunarso. Meski demikian, Bung Karno tetap mempercayakan pengerjaannya kepada Edhi yang sebelumnya juga membuat Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Hari ini, 21 Juni 2022, genap 52 tahun Bung Karno wafat. Dari kisah monumen Patung Dirgantara itu, kita tahu betapa besarnya rasa percaya Bung Karno atas bangsanya untuk mencipta segala sesuatu sendiri, tak melulu mengandalkan dari luar.



Simak Video "Cerita Zulfan Lindan Soal Telepon Bush dan Kekalahan Megawati di 2004"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/mbr)