Melihat Prasasti Sarungga, Jejak Peradaban di Lereng Merbabu

Jarmaji - detikJateng
Sabtu, 18 Jun 2022 21:00 WIB
Prasasti Sarungga konon jadi penanda peradaban di Gunung Merbabu.
Prasasti Sarungga di Boyolali (Foto: Jarmaji/detikJateng)
Boyolali -

Tulisan beraksara Jawa Kuno terpahat pada sebuah batu yang berada di areal ladang penduduk di Boyolali. Batu Prasasti Sarungga ini konon menjadi penanda peradaban masyarakat di lereng timur Gunung Merapi-Merbabu ribuan tahun silam.

Pantauan detikJateng, Prasasti Sarungga ini berada di ladang milik Sarwi, warga Dukuh Wonosegoro, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Lokasinya yang dekat perengan atau tebing sungai yang cukup curam dan dekat dengan aliran sungai kecil.

Ada dua akses jalan menuju ke ladang tempat prasasti itu berada. Dari atas atau dari Jalan Cepogo-Ampel, ada jalan setapak, sedulur berjalan sekitar 50 meter kemudian akan menemukan jalan yang menurun cukup curam. Meski begitu, kondisi jalan yang masih berupa tanah ini sudah dibuat seperti anak tangga.


Akses jalan kedua yakni dari bawah atau dari Dukuh Wonosegoro. Jarak dari dukuh ini sekitar 500 meter dan ada jalan cor beton, kemudian di pertigaan ambil rute ke kiri dan masuk ke jalan tanah.

Setelah melewati rute ini, sedulur menyusuri jalan setapak yang menanjak dengan cukup terjal. Bentuk rute ini masih berupa tanah dengan ratusan anak tangga.

Prasasti Sarungga ini tampak berdempetan dengan sebatang pohon. Sekilas batu ini sama dengan batu-batu kali berukuran besar pada umumnya kecuali jika diamati akan ada tulisan beraksara Jawa. Sebagian prasasti ini pun tampak masih terpendam di dalam tanah.

"Bahwa keberadaan prasasti ini bukti otentik keberadaan partapaan di lereng timur Merbabu Boyolali di 1.121 tahun yang lalu," ujar Ketua Boyolali Heritage Society (BHS) pemerhati dan penggiat sejarah-budaya Boyolali, Kusworo Rahadyan, Sabtu (18/6/2022).

Prasasti Sarungga ini juga dikenal sebagai Prasasti Watu Tulis Wonosegoro.

"Watu Tulis Wonosegoro atau Prasasti Sarungga ini telah dilakukan penelitian dalam skripsi oleh mahasiswa Arkeologi UGM," kata Kusworo.

Kusworo menyebut dari hasil penelitian mahasiswa arkeologi UGM itu, prasasti ini bertuliskan swa sti śa ka wa rṣā tī ta 8 2 3 jye ṣṭa ma sa pa ñca mi śu kla ha wa so kā la ni ki pa ta pā n ri śa rū ṅga nā mā [...].

Tulisan aksara Jawa kuno itu telah dialihaksarakan dalam penelitian skripsi itu. Isi tulisan itu berbunyi, "Selamat tahun Śaka yang telah lalu 823 pada bulan Jyesta tanggal 5 bagian bulan terang. Haryang (hari bersiklus 6), Wagai (hari bersiklus lima), Soma (hari bersiklus tujuh atau Senin), pada saat ini (terdapat) pertapaan di Śarūṅga (yang) hendaklah dinamai....".

"Setelah kalimat 'hendaklah dinamai' itu kalimat berikutnya hilang," tutur Kusworo.

Berdasarkan penelitan itu diketahui telah dilakukan konversi penanggalan dari Saka ke Masehi. Penanggalan di prasasti tersebut setelah dikonversi dengan tahun Masehi menjadi tanggal 25 Mei 901.

"Jika ditarik ke tahun sekarang sudah 1.121 tahun silam masyarakat lereng timur Gunung Merapi-Merbabu Boyolali sudah memiliki peradaban yang luhur dan sudah ada budaya menulis. Hal ini menunjukan bahwa alangkah tingginya peradaban di wilayah ini waktu itu," ucap dia.

Kondisi Prasasti Surangga itu dibiarkan berada di ladang tanpa penutup, sehingga kehujanan maupun kepanasan. Meski begitu, Kusworo menyebut kondisi batu prasasti itu sudah lebih baik ketimbang sebelumnya.

"Tapi saat ini lebih terawat. Dirawat oleh warga di lingkungan setempat. Itu dampak acara ruwat rawat dulu (25 Mei 2022) itu masyarakat Dukuh Wonosegoro lebih peduli dalam merawat objek peninggalan," paparnya.

Dia menuturkan ada banyak peninggalan benda-benda atau situs-situs bersejarah di kawasan lereng timur Gunung Merapi-Merbabu, Boyolali.



Simak Video "Asyiknya Menyusuri Gua Sumitro di Kulon Progo"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/ams)