Proyek Masjid Sriwedari Mandek, Pihak Bersengketa Diminta Ikhlas

Bayu Ardi Isnanto - detikJateng
Minggu, 05 Jun 2022 18:28 WIB
Pembangunan Masjid Taman Sriwedari di Solo dimulai, Senin (5/2/2018).
Pembangunan Masjid Taman Sriwedari di Solo dimulai, Senin (5/2/2018). Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo -

Pembangunan Masjid Taman Sriwedari Solo hingga kini masih terkendala masalah dana hingga status lahan. Namun, di luar dua permasalahan utama tersebut, banyak dukungan mengalir agar pembangunan masjid itu tetap dilanjutkan.

Forum Ulama Solo Raya dan komunitas Solo Madani Indonesia Jaya meminta Pemkot Solo dan ahli waris Sriwedari bersepakat untuk menyelesaikan pembangunan Masjid Taman Sriwedari. Mereka juga meminta masalah sengketa lahan Sriwedari disampingkan supaya masjid dapat segera dimanfaatkan.

"Kami ingin mencari solusi agar masjid ini tetap dibangun sampai selesai tanpa adanya saling klaim. Pemkot ngeklaim miliknya, ahli waris juga demikian," kata Ketua Solo Madani Indonesia Jaya, Yusuf Suparno, usai menengok kondisi Masjid Taman Sriwedari, Jumat (3/6/2022) lalu.


Dengan keikhlasan kedua pihak tentang siapa yang akan memenangkan sengketa, Yusuf berharap, masjid itu dapat lekas dimanfaatkan masyarakat.

"Maka kedua pihak harus sama-sama ikhlas atas pendirian masjid ini, supaya tidak terkesan masjid dhirar (membahayakan) karena di tanah sengketa. Dalam syariat itu tidak boleh," ujarnya.

Menara Masjid Taman Sriwedari Solo, Minggu (5/6/2022).Menara Masjid Taman Sriwedari Solo, Minggu (5/6/2022). Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikjateng

Yusuf mengaku sudah menemui pihak ahli waris untuk membahas hal tersebut. Dia ingin ada kesepakatan berupa memorandum of understanding (MoU) antara pihak-pihak yang bersengketa agar berkomitmen menyelesaikan pembangunan masjid.

"Kita ingin nanti ada MoU agar semua pihak mendukung pembangunan masjid ini," harapnya.

Pada awal pembangunan masjid itu dulu, dukungan juga datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah. Ketua MUI Jawa Tengah, Ahmad Darodji, saat itu berharap agar lahan sengketa tersebut diwakafkan untuk masjid.

"Siapapun pemiliknya, kami harap bisa segera diwakafkan. Pembangunan masjid ini kan baik," kata Darodji di Balai Kota Surakarta, Kamis (8/2/2018) silam.

Dalam kesempatan lain, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Surakarta, Suyanto, mengatakan keberadaan masjid di tengah kota itu sudah lama dirindukan masyarakat.

"Kita support upaya pemkot membangun masjid, ini harus terealisasi. Masjid merupakan pusat strategis untuk membina masyarakat yang islami," kata Suyanto saat jumpa pers di kawasan Ketelan, Banjarsari, Solo, Jumat (9/2/2018).

Saat itu Suyanto juga meminta pihak Pemkot Surakarta dan ahli waris RMT Wiryodiningrat dapat menjalin komunikasi yang baik. Harapannya, mereka legawa dan mewakafkan tanah itu kepada umat Islam.

"Syukur bisa klir. Dan harapan kami adalah ada proses legawa untuk mewakafkan tanah untuk masjid. Langkah itu sangat memberi harapan besar bagi masyarakat Surakarta," katanya waktu itu.

Diberitakan sebelumnya, pembangunan masjid di kawasan heritage Sriwedari itu saat ini mandek. Panitia kesulitan mengumpulkan sumbangan yang menjadi satu-satunya sumber untuk membiayai pembangunan.

Penyebabnya, lahan Sriwedari disengketakan oleh Pemkot Solo dan kelompok ahli waris Wiryodiningrat yang sama-sama merasa memiliki hak atas lahan tersebut.

Sejatinya, sengeketa tersebut sudah berjalan selama lebih kurang 40 tahun silam. Namun persoalan kian meruncing beberapa waktu terakhir, saat pengadilan memerintahkan pengosongan lahan tersebut.



Simak Video "Kebo Bule Keraton Solo Terindikasi PMK"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/ahr)