Diterpa Hoax Menara Goyang, Apa Kabar Pembangunan Masjid Sriwedari Solo?

Bayu Ardi Isnanto - detikJateng
Minggu, 05 Jun 2022 09:15 WIB
Luhut Panjaitan tinjau pembangunan masjid di Taman Sriwedari Solo
Konstruksi Masjid Taman Sriwedari. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Jakarta -

Pengunjung Car Free Day (CFD) di Kota Solo sempat digegerkan dengan isu menara Masjid Taman Sriwedari yang dikabarkan bergoyang pada Minggu pekan lalu (29/5). Hoax tersebut beredar cepat sehingga membuat warga di sekitar Sriwedari berlarian.

Kenyataannya, menara itu masih berdiri kokok di tempatnya. Panitia pembangunan masjid maupun kontraktor memastikan bangunan itu dalam kondisi baik-baik saja.

Menara yang menjulang tinggi itu memang baru setengah jadi. Bangunan itu belum dicat sehingga masih sewarna semen. Tidak terlihat kelanjutan pembangunan masjid itu selama beberapa waktu terakhir.


Pembangunan masjid yang diprediksi akan menghabiskan biaya Rp 180 miliar itu memang tidak menggunakan anggaran pemerintah. Panitia pembangunan mengandalkan sumbangan dari masyarakat dan pihak swasta.

Beberapa waktu terakhir sumbangan yang diterima semakin seret. Pembangunan menjadi tersendat bahkan mandek.

Status lahan yang masih dalam sengketa dianggap menjadi salah satu penyebab seretnya sumbangan dari masyarakat.

"Kemungkinan memang (masyarakat) takut mau membantu pembangunan tapi lahannya masih sengketa. Yang awalnya siap membantu, kemudian belum jadi," kata Ketua Pembangunan Masjid Taman Sriwedari Solo, Achmad Purnomo saat ditemui, Jumat (3/6/2022).

Kondisi itu membuat kontraktor yang melaksanakan pembangunan itu juga memilih menghentikan pekerjaannya untuk sementara. Pembangunan masjid yang sudah mencapai 85 persen itu berhenti.

Forum Ulama Solo Raya dan komunitas Solo Madani Indonesia Jaya meminta agar pihak-pihak yang bersengketa atas lahan Sriwedari berbesar hati demi mendukung pembangunan masjid tersebut.

"Kami ingin mencari solusi agar masjid ini tetap dibangun sampai selesai tanpa adanya saling klaim. Pemkot Solo klaim (tanah ini) miliknya, ahli waris juga demikian," kata Ketua Solo Madani Indonesia Jaya, Yusuf Suparno usai menengok kondisi Masjid Taman Sriwedari, Jumat (3/6/2022).

Dengan keikhlasan kedua pihak, Yusuf berharap masjid nantinya tetap bisa dimanfaatkan untuk masyarakat, entah siapapun nanti yang akan memenangkan sengketa. Dia khawatir masjid tersebut akan dinilai sebagai masjid dhirar karena berada di tanah sengketa.

"Maka kedua pihak harus sama-sama ikhlas atas pendirian masjid ini, supaya tidak terkesan masjid dhirar karena di tanah sengketa. Dalam syariat itu tidak boleh," ujarnya.

Diketahui, lahan Sriwedari yang luasnya mencapai 11 hektar itu memang menjadi sengketa antara Pemkot Solo dengan ahli waris Wiryodiningrat sejak sekitar 40 tahun lalu. Sengketa itu sudah menghasilkan belasan putusan pengadilan.

Namun hingga kini masing-masing pihak masih terus mengklaim tanah yang berada di pusat kota tersebut.

Di dalam lahan tersebut terdapat sejumlah bangunan penting seperti Stadion Sriwedari, Museum Keris, gedung Wayang Orang hingga Museum Radya Pustaka. Belakangan, Masjid Taman Sriwedari juga dibangun di lahan tersebut.



Simak Video "Warga Solo Masih Bisa Nonton Siaran TV Analog Hari Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/ahr)