'Spiderman' Pemecah Rekor Dunia Panjat Tebing Itu Berasal dari Batang

Robby Bernardi - detikJateng
Minggu, 29 Mei 2022 17:23 WIB
SALT LAKE CITY, UTAH - MAY 28: Kiromal Katibin of Indonesia looks on during the speed climbing practice before qualifications of the IFSC Climbing World Cup at Industry SLC on May 28, 2021 in Salt Lake City, Utah. (Photo by Andy Bao/Getty Images)
Atlet panjang Indonesia, Kiromal Katibin. (Foto: Getty Images/Andy Bao)
Batang -

Nama Indonesia kembali berkibar pada kualifikasi kejuaraan dunia World Cup International Federation of Sport Climbing (WC IFSC) 2022 Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat, pada Jumat (27/05) waktu setempat. Atlet panjat Indonesia, Kiromal Katibin (21), memecahkan rekor baru di kategori men's speed, dengan catatan waktu 5,10 detik.

Pemuda yang akrab dipanggil Kiki ini merupakan warga Kauman, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Berbagai perlombaan dia menangkan hingga akhirnya terpilih untuk mengikuti Pelatnas di tahun 2020.

Jarak rumah Kiki dengan mess olahraga panjat tebing di Batang, memang sangat dekat, hanya lima langkah. Tinggal begitu dekat dengan komunitas panjat membuat Kiki sejak kecil jatuh cinta pada cabang olahraga ini.


Pelatih Kiki, Yusnita, mengaku senang mendengar kabar Kiki mencatatkan rekor baru. "Ya saya mendengar kabar kalau Kiki pecahkan rekor kembali. Kita senang, orangtua Kiki juga senang," ujar perempuan yang akrab disapa Mbak Nita ini saat dihubungi detikJateng, Minggu (29/5/2022).

Menurut Yusnita, Kiki memecahkan rekor dalam ajang yang sama sejak setahun yang lalu. Rekor kedua sepekan yang lalu, dan kembali mencetak rekor kembali, Jumat kemarin.

"Ya mungkin ini bagian dari catatan sejarah dunia ya. Satu-satunya atlet yang bisa mencetak rekor dunia tiga kali ini," kata Yusnita.

Yusnita menceritakan bagaimana awal mulanya Kiki masuk ke dunia panjat. Dikatakannya, Kiki bergabung dengan dirinya sejak umur delapan tahun, bersama kakaknya yang saat itu kakaknya duduk di bangku SMP.

"Jadi awalnya, saat itu, atlet panjat tebing Batang, kok sebagian besar dari luar kota, seperti suami saya dari Kudus. Saya sama suami berpikir untuk mencari bibit-bibit atlet asli Batang. Kita keluar masuk kampung menawarkan anak-anak. Salah satunya Kiki dan kakaknya," kata Nita.

"Saya melatih dengan yang anak-anak suka, untuk latihan. Saat itu masih nyeker (tidak bersepatu) ya. Aku punya sepatu saja buat gantian sama anak-anak," ungkap Yusnita.

Sejak latihan dan akhirnya bertahan secara terus menerus, Yusnita melihat potensi pada diri Kiki. "Kiki ini salah satu anak yang punya antusias tinggi, anaknya senang juga. Mereka latihan saat itu nyeker. Tidak ada sepatu. Kebetulan saya mantan atlet, beberapa peralatan saya hibahkan sepatu, harness, tali, kita pakai latihan bergantian. Dengan keterbatasan, saya yakin pasti akan ada jalannya," kata Yusnita.

"Kiki adalah salah satu produk by design, long time athlete development. Sudah kita latih sejak anak-anak dan memang bertanding untuk menang. Alhamdulillah, itu semua tercapai hingga sampai ke ranah internasional," ucapnya.

Atlet panjang Indonesia, Kiromal Katibin (21) bersama pelatihnya, Yusnita.Atlet panjang Indonesia, Kiromal Katibin (21) bersama pelatihnya, Yusnita. Foto: dok. istimewa

Untuk menjadi seperti Kiki saat ini, dikatakan Yusnita, dibutuhkan latihan 8 ribu hingga 10 ribu jam latihan atau sekitar 8-12 tahun.

Performa Kiki di kelas speed akan terjadi pada usia ke 24 atau 24. Sehingga bisa jadi menurut Yusnita Kiki akan kembali memecahkan rekor baru kembali, mengingat usia Kiki saat ini masih 21 tahun menuju 22 tahun pada Agustus mendatang.

"Sekarang usianya 21. Tahun kemarin, saat pecahkan rekor usia masih 20 tahun. Performa Kiki akan ketemu di usia 24 atau 25,. Kematangan fisik maupun psikis, saat usia itu. Harapannya memang begitu bisa memecahkan rekor kembali," ungkapnya.

Nita menjelaskan setiap kali pulang dari kejuaraan dan mendapatkan medali, kebiasaan Kiki selalu mengalungkan medalinya ke dirinya. "Kebiasaan Kiki setelah bertanding biasanya dia selalu by call ngabari saya. Dan kebiasaannya lagi, sampai di Batang, medalinya pasti dikalungkan ke saya," ucap Nita.

Ia berharap, Kiki akan membawa nama harum tanah kelahirannya, Kabupaten Batang dan Bangsa Indonesia. "Semoga bisa berjalan terus, semangat kita, semangat Kiki," katanya.

Sementara itu, ibunda Kiki, Kuat Susanti (54) merasa bangga anak keduanya kembali menang dalam kejuaraan panjat dunia. Ia senantiasa berdoa untuk kemenangan saat Kiki bertanding.

"Bangga banget saya bersyukur pada Allah, sudah dikasih titipan anak bisa seperti ini. Ya terharu. Saya selalu berdoa. Alhamdulillah. Kemarin, saat mau berangkat pamitan, sampai juga ngabari," kata Santi.

Ia juga berterimakasih pada sosok Yusnita, yang telah membimbing kedua anaknya, salah satunya Kiki yang saat ini berhasil dalam kancah dunia. "Diajak latihan sama Mba Nita sejak kecil. Yang lain pada mainan kelereng, layangan, Kiki dan kakaknya berlatih terus," ucapnya.

Ia terus berdoa dengan prestasi anaknya ini, ia tetap berdoa agar Kiki tetap menjadi orang sukses untuk masa depanya. "Ya harapanya Kiki bisa jadi orang sukses," katanya.

Sebelumnya diberitakan, Kiromal Katibin, atlet andalan panjat tebing Indonesia kembali pecahkan rekor baru tercepat di sesi kualifikasi kejuaraan dunia panjat tebing di AS.

Rekor tercepat itu dicatatkan Kiromal Katibin pada kualifikasi kejuaraan dunia World Cup International Federation of Sport Climbing (WC IFSC) 2022 Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat di kategori men's speed pada Jum'at, (27/05) waktu Amerika Serikat.

Kiromal Katibin yang dijuluki Spiderman Indonesia, berhasil mencatatkan waktu 5,10 detik lebih cepat dari rekor sebelumnya yaitu 5,17 detik ketika berlaga di kejuaraan yang sama di Seoul, Korea Selatan awal Mei lalu. Hal ini membuat Kiromal Katibin semakin mempertegas predikatnya sebagai manusia tercepat di dunia.



Simak Video "Aksi 'Spiderman' Indonesia Kiromal Katibin Saat Pecahkan Rekor Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/aku)