Fenomena Desa Kretin di Lemahbang Wonogiri: Tetap Nyoblos Saat Pilkades

Muhammad Aris Munandar - detikJateng
Rabu, 25 Mei 2022 09:09 WIB
Suasana di Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri. Foto diambil pada Jumat (20/5/2022).
Suasana di Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri. Foto diambil pada Jumat (20/5/2022). Foto: Muhammad Aris Munandar/detikJateng
Wonogiri -

Puluhan warga Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, menderita kretin. Mereka memiliki keterbatasan fisik maupun mental lantaran kekurangan asupan yodium.

Meski demikian, ternyata partisipasi para penderita kretin di desa itu saat hajatan politik, baik pilades maupun pemilu juga cukup tinggi.

"Mereka (penderita kretin di Lemahbang) aktif dan antusias saat Pemilu. Mereka turut berpartisipasi, termasuk pemilihan kepala desa (Plikades)," kata Kepala Desa Lemahbang, Sugito, kepada detikJateng, Rabu (25/5).


Menurut dia, dari 41 penderita kretin di Lemahbang, sekitar 70 persen dari mereka aktif dalam pemilihan umum. Bagi mereka yang tidak ikut berpartisipasi saat pemilu dikarenakan sudah tidak bisa berjalan atau mengalami sakit. Sehingga tidak mampu datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Biasanya mereka (penderita kretin) diantar ke TPS, ada keluarga yang mengantar. Sebelumnya petugas atau panitia memberi pemahaman kepada keluarganya. Sesuai dengan aturan, saat mencoblos didampingi oleh salah satu keluarganya," kata Sugito.

Di sisi lain, dalam hajatan politik pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga berupaya memberikan fasilitas agar penderita kretin tetap bisa ikut berpartisipasi.

Ketua KPU Wonogiri, Toto Sihsetyo Adi, mengatakan secara umum fungsi KPU melayani seluruh pemilih dalam kondisi apapun, termasuk para penderita kretin, difabel maupun pemilih yang memiliki keterbatasan.

Menurutnya, penderita kretin diperlakukan dengan diberi fasilitas dan dipermudah aksesnya untuk memilih, baik saat pendataan Daftar Pemilih Tetap (DPT) maupun saat mencoblos. Bahkan, TPS menyediakan alat khusus untuk membantu mereka mencoblos. Sehingga bisa mengakses lebih mudah.

"Dari awal kan sudah ada datanya, TPS mana saya yang ada pemilih difabel atau kretin. Sehingga harus dipersiapkan. Tapi secara umum setiap TPS harus ramah difabel, itu instruksi wajib," kata Toto.

Seperti diketahui, saat ini ada 41 warga di Desa Lemahbang yang mengalami kretin. Diduga, kondisi itu dipicu oleh rendahnya kandungan yodium pada air tanah di desa yang terhitung terpencil itu.

Beruntung, sejak sekitar tahun 2000, bayi yang terlahir kretin sudah semakin berkurang. Namun masih ada puluhan bayi yang stunting sehingga penanganan kesehatan di desa itu membutuhkan perhatian serius.



Simak Video "Keterangan Kemenkes soal Kasus Cacar Monyet Pertama di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/ahr)