Waisak di Borobudur Digelar Walubi-Permabudhi, Begini Kata Menag

Eko Susanto - detikJateng
Selasa, 17 Mei 2022 07:32 WIB
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat menyampaikan sambutannya dalam Perayaan Dharmasanti Tri Suci Waisak di Taman Lumbini Candi Borobudur, Senin (16/5/2022) malam.
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat menyampaikan sambutannya dalam Perayaan Dharmasanti Tri Suci Waisak di Taman Lumbini Candi Borobudur, Senin (16/5/2022) malam. Foto: Eko Susanto/detikjateng
Magelang -

Perayaan Waisak 2566 BE di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, kemarin, diselenggarakan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi).

Menurut Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, bersatunya Walubi dan Permabudhi kali ini menunjukkan bahwa umat Buddha di Indonesia tidak bisa dipecah-pecah. Hal itu disampaikan Yaqut dalam pidato sambutannya di Perayaan Dharmasanti Tri Suci Waisak di Taman Lumbini Candi Borobudur, Senin (16/5/2022) malam.

"Hari ini kedatangan saya menunjukkan kecintaan dan rasa gembira saya. Akan menjadi tonggak dan pasti akan dicatat dalam sejarah bahwa umat Buddha Indonesia itu tidak bisa dipecah-pecah, umat Buddha di Indonesia itu pasti bersatu, WALUBI dan Permabudhi itu seiring dan sejalan," kata Yaqut.

Yaqut juga menyampaikan terima kasih kepada panitia perayaan Waisak yang tetap mematuhi anjuran pemerintah berkaitan dengan upaya pengendalian COVID-19.

"Ini kalau dilos, tidak mematuhi protokol (kesehatan), pasti akan lebih banyak yang hadir merayakan Tri suci waisak kali ini. Tapi komitmen Walubi dan Permabudhi tetap mengikuti saran pemerintah. Alhamdulillah ditaati dan hari ini hanya sebagian kecil saja umat Buddha yang bisa hadir di sini," ujar Yaqut.

"Kita bersyukur bahwa pada tahun ini, kita semua dapat kembali melakukan bakti kita sebagai umat beragama untuk menunaikan ibadah dan merayakannya secara terbuka dengan beberapa ketentuan yang tentu harus kita patuhi," imbuh Yaqut.

Yaqut berujar, umat Buddha sudah tidak asing lagi dengan kehidupan moderat, termasuk dalam menghadapi persoalan ekstrem seperti pandemi COVID-19.

"Ini juga diajarkan oleh Buddha melalui ajaran Majjhima Patipada dengan melaksanakan praktek kehidupan beragama yang berprinsip jalan tengah atau moderat, kita akan mampu menyelesaikan setiap persoalan yang serba ekstrem," tuturnya.

Sebagai umat beragama, Yaqut menambahkan, masyarakat harus yakin bahwa setiap persoalan yang terjadi hanya bisa diatasi jika manusia memiliki kedamaian dalam hidupnya.

"Kedamaian yang didasari oleh keyakinan terhadap kebenaran dan kebaikan. Kedamaian dan kebahagiaan menjadi tanggung jawab bersama. Kesulitan dan persoalan-persoalan juga harus dihadapi dan diselesaikan secara bersama," pungkasnya.



Simak Video "Respons Turis Lokal dan Asing soal Harga Tiket Candi Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/dil)