Menengok Kota Solo 125 Tahun Lalu dari Catatan Scidmore, Petualang Amerika

Dinda Listy - detikJateng
Kamis, 17 Feb 2022 15:59 WIB
Naga di kamandungan Keraton Solo, Jumat (31/12/2021).
Ilustrasi, Keraton Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Kota Solo hari ini merayakan hari jadinya yang ke-277 tahun. Wajah Solo pernah diabadikan dalam buku jurnalis maupun fotografer asal Amerika, Eliza Ruhamah Scidmore lewat bukunya.

"Di Solo, kota kedua terbesar di pulau ini, orang benar-benar mencapai pusatnya Jawa asli - Jawa-nya orang Jawa - lebih dekat dibanding di mana pun," tulis Eliza Ruhamah Scidmore dalam bukunya Taman Surga Dari Timur (2019:213).

Scidmore (1856-1928) merupakan penulis, jurnalis, dosen, fotografer, dan ahli bumi asal Amerika. Dia memulai kariernya sebagai penulis perjalanan pada 1883. Setelah menerbitkan buku pertamanya pada 1885, yang mendokumentasikan perjalanannya ke Alaska, Scidmore tinggal cukup lama di Asia selatan dan timur.

Pada 1897, staf sekaligus anggota dewan di National Geographic ini menjelajahi Pulau Jawa pada masa kolonial yang melahirkan buku keempatnya, Java, the Garden of the East (1898). Edisi digital terjemahan buku ini diterbitkan Desa Pustaka Indonesia (2019).


Tak seperti penulis panduan wisata yang sekadar mengulas tempat-tempat menarik, Scidmore juga banyak menerjemahkan teks-teks Belanda untuk mengungkap pengetahuan spesial di Jawa yang pada masa itu belum banyak dikenal masyarakat internasional.

Dalam petualangannya ke Pulau Jawa, Scidmore berangkat dari Singapura dengan menumpang kapal uap yang berlabuh di Jakarta. Dia baru tiba di Solo setelah sebelumnya mengunjungi sejumlah daerah, dari Bogor hingga Candi Borobudur dan Prambanan.

Di Solo, Scidmore menginap di Hotel Slier. Kini, hotel ternyaman di Jawa menurut Scidmore itu sudah tak berbekas. Di atas bekas lahannya kini berdiri Kantor Pos Pusat Solo dan Bank Indonesia Perwakilan Solo.

Seperti kunjungan sebelumnya di beberapa daerah, Scidmore mengawali catatan 'Solo: Kota Para Susuhunan' dari sisi sejarah. "Sultan Jogja, yang juga disebut raja, dan Susuhunan dari Solo adalah yang terakhir tunduk pada perebut kekuasaan dari negeri seberang (hal.212)."

Namun, menurut Scidmore, kerajaan Islam tua (Mataram) di Solo itu diperkecil menjadi sebuah keraton atau kerajaan berbenteng seluas satu mil persegi dengan raja yang layaknya 'pensiunan' pemerintah Belanda. "Ia hanya merupakan bayang-bayang raja-raja hebat yang terdahulu, yang juga nenek moyangnya," tulisnya.

Sebagai pembayar upeti kepada Belanda, Scidmore menuliskan, raja pada masa itu menikmati 'kebebasan yang dilindungi dan diawasi' dan menerima 'penasihat saudara tua' dalam bentuk gubernur provinsi dari Belanda.

Kesaksian Scidmore secara tidak langsung dikonfirmasi Dr J Stroomberg dalam bukunya Hindia Belanda 1930 (2020). Stroomberg menyebut adanya 'Perjanjian Ringkas' antara pemerintah kolonial dengan pemerintahan pribumi atau kerajaan pada 1918. Perjanjian itu mewajibkan para raja melaksanakan seluruh peraturan dan tata tertib dari pemerintah.

Perjanjian itu juga mengatur adanya bendahara kerajaan, institusi yang memisahkan keuangan kerajaan dengan keuangan pribadi raja. Sebelumnya, raja pribumi bebas menikmati pendapatan dari berbagai sumber. "Para raja sekarang menerima upah, bagian yang layak dari konsesi, atau yang serupa dengan hal itu," (Stroomberg, 2020:106).

Konon Solo punya jalan yang luas dan rindang

Tak hanya nyinyir tentang kondisi politik kekuasaan pada 1897, Scidmore juga menceritakan keindahan Kota Solo pada masa itu. Menurut dia, Solo memiliki jalan-jalan luas dengan pohon perindang yang indah. Beberapa jalan memiliki selokan yang dalam di tiap sisinya, lengkap dengan jembatan-jembatan kecil penghubung ke muka rumah yang berjajar di tepinya.

Di jalanan Solo pada masa itu juga berseliweran kereta-kereta mewah yang ditarik kuda-kuda besar dari New South Wales. Selain itu, Scidmore juga mengisahkan adanya deretan istana mengagumkan, benteng-benteng pertahanan, pasukan-pasukan yang berbaris, hingga para prajurit yang sedang bersantai.

"Mudah bagi kami untuk melihat bahwa Solo adalah sebuah asrama garnisun besar, lebih seperti barak daripada sebuah kerajaan," tulis Scidmore dalam bukunya.

Asrama garnisun ini diduga Benteng Vastenburg yang masih kokoh berdiri sampai sekarang. Selain menyusuri jalanan Kota Solo, merekam aktivitas pribumi dengan pena dan kamera fotonya, Scidmore ternyata juga berkesempatan menjejakkan kaki ke 'taman tersembunyi' di balik Pura Mangkunegaran.

Scidmore menyebut 'taman tersembunyi' itu mengingatkannya pada taman yang pernah disinggahinya di Eropa. Seperti apa ya?



Simak Video "Gibran Siap Bikin Regulasi Setop Kuliner Daging Anjing"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/mbr)