Ironi RTH Tenjoresmi: Pohon Rindang, Fasilitas Usang dan Lapuk

Ironi RTH Tenjoresmi: Pohon Rindang, Fasilitas Usang dan Lapuk

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Kamis, 30 Jul 2026 06:00 WIB
Kondisi RTH Tenjoresmi Sukabumi
Kondisi RTH Tenjoresmi Sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Terik matahari yang menyengat di pesisir Teluk Palabuhanratu seolah luruh begitu kaki melangkah memasuki Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tenjoresmi. Terletak di Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, kawasan ini menawarkan atmosfer yang kontras dengan hawa pesisir yang gersang. Angin laut yang berembus pelan menyelinap di antara dahan-dahan pohon yang menjulang tinggi, menciptakan keteduhan yang menenangkan.

Masyarakat setempat lebih akrab menyebutnya Taman Bunga, meski papan nama resminya tegas bertuliskan RTH Tenjoresmi. Jika menilik sejarahnya, kawasan ini bukan sekadar taman biasa. Ia adalah monumen keberhasilan reboisasi yang dimulai pada medio 2004 hingga 2007 melalui proyek Yamaha Forest. Kolaborasi antara PT Yamaha, Pemkab Sukabumi, dan akademisi IPB kala itu berhasil mengubah puluhan hektar lahan perbukitan Citepus menjadi benteng hijau penahan erosi dan pemulih resapan air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keberhasilan vegetasi tersebut kemudian mendorong pemerintah daerah untuk menyulapnya menjadi ruang publik pada kurun 2013-2015. Hingga akhirnya, pada 2016, RTH Tenjoresmi resmi beroperasi sebagai paru-paru kota sekaligus destinasi eduwisata. Kini, memasuki tahun 2026, dua dekade setelah bibit pertama ditanam, pohon-pohon itu telah menjelma menjadi raksasa hijau. Kanopi daun ketapang kencana saling bertautan, memayungi tanah yang berselimut guguran daun cokelat keemasan.

Namun, di balik kemegahan alamnya, terselip pemandangan yang menyayat hati. Keasrian pohon-pohon peneduh itu berbanding terbalik dengan kondisi fasilitas publik yang kian merana. RTH Tenjoresmi tampak seperti permata yang mulai kusam dan terlupakan.

ADVERTISEMENT

Luka pada Landmark dan Gazebo yang Runtuh

Di gerbang utama, ornamen jangkar putih besar masih berdiri tegak, bersanding dengan tulisan "RUANG TERBUKA HIJAU TENJORESMI" yang melingkar di tembok batu. Sekilas, semuanya tampak baik-baik saja. Namun, begitu masuk lebih dalam, kerusakan mulai terlihat di mana-mana.

Salah satu yang paling mencolok adalah patung penyu ikonik yang kini kehilangan kepalanya. Patung berwarna cokelat dengan corak tempurung jingga-hitam itu tampak mengenaskan; bagian lehernya patah, menyisakan struktur semen putih yang terekspos. Seolah-olah sang penyu 'terpenggal' di tengah kesunyian taman.

Kondisi RTH Tenjoresmi SukabumiKondisi RTH Tenjoresmi Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Kondisi serupa menimpa deretan gazebo kayu yang tersebar di area taman. Dari tujuh unit yang ada, mayoritas kini tak lagi layak huni. Papan lantai kayunya jebol dan lapuk, menyisakan lubang menganga yang memperlihatkan tumpukan sampah di bawah kolongnya. Fasilitas bermain anak pun tak luput dari degradasi, kerangka panjatan dan seluncuran kini pudar dan berkarat, sementara jalur paving block tertutup serasah daun kering yang tak tersapu bersih.

Kondisi ini memicu keprihatinan pengunjung. Eneng Liza (34), warga lokal yang rutin berkunjung untuk sekadar melepas penat, menyayangkan kerusakan yang terjadi.

"Sebenarnya tempat ini enak banget buat ngadem, apalagi Palabuhanratu kan udaranya panas. Pohonnya rindang dan tempatnya luas. Tapi sedih lihat gazebonya pada rusak begitu, lantainya bolong-bolong sampai takut kalau anak-anak mau naik," ujar Siti.

"Mending kalau cuma kotor tinggal disapu, ini mah udah pada runtuh. Harusnya diservis sama pemerintah biar warga juga nyaman kalau mau bawa keluarga ke sini," lanjutnya.

Dedikasi Rian di Tengah Keterbatasan

Meski fasilitas fisik mulai rontok, napas kehidupan di taman ini masih terjaga berkat dedikasi delapan petugas kebersihan. Salah satunya adalah Rian Dani, pria asal Segaranten yang sudah tiga tahun terakhir menggantungkan hidupnya di sini.

"Tugas harian ya babad rumput, ngangkat sampah dari tiap tong sampah, ngebersihin jalur jogging track, sama memilah sampah organik dan non-organik," tutur Rian.

Kondisi RTH Tenjoresmi SukabumiKondisi RTH Tenjoresmi Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Rian dan rekan-rekannya bekerja dalam dua sif, memastikan taman tetap bisa dinikmati meski dalam kondisi terbatas.

"Shift pagi dari jam 07.00 sampai jam setengah 12, entar mulai lagi jam setengah 2 sore. Personilnya ada 8 orang. Kalau hari kerja sama aja, tapi biasanya ramai pengunjung itu Sabtu dan Minggu. Tapi tiap hari juga sebenarnya ada aja yang rame, pagi-pagi banyak yang olahraga, entar sore ada lagi yang datang buat berteduh ngadem," ungkapnya.

Selain faktor usia bangunan, Rian juga menyoroti perilaku pengunjung yang kurang disiplin dalam menjaga kebersihan.

"Kalau sampah plastik sama bungkus makanan itu dari pengunjung. Harapan saya mah pengunjung bisa tertib buang sampahnya ke tong sampah. Jangan di mana aja duduk di situ, sampah ditinggal di situ. Buanglah, melangkah sedikit lah. Banyak yang merasa 'ah ada petugas ini', jadi diabaikan," kata Rian.

Terkait kerusakan infrastruktur, Rian membenarkan bahwa lebih dari separuh gazebo sudah tidak bisa digunakan sama sekali.

"Gazebo semuanya itu awalnya ada 7 unit. Sekarang sisa 3 yang bisa dipakai, yang 4 lagi rusak total, udah gak bisa dipakai lagi," beber Rian.

Menurutnya, kerusakan ini murni karena faktor usia dan ketiadaan rehabilitasi sejak pertama kali dibangun.

Kondisi RTH Tenjoresmi SukabumiKondisi RTH Tenjoresmi Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

"Kerusakannya karena terlalu lama, belum ada rehabilitasi. Bagus kalau ini dipercantik lagi. Mudah-mudahan aja gazebo-gazebonya dipercantik lagi, direhabilitasi biar pengunjung juga makin nyaman," harap Rian.

Kini, RTH Tenjoresmi berdiri membisu di tepi pantai. Sebuah warisan hijau dari semangat reboisasi dua dekade silam yang kini merindukan uluran tangan pemerintah. Tanpa perbaikan segera, taman ini dikhawatirkan hanya akan menjadi puing kenangan yang perlahan hilang ditelan waktu.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menikmati Kesegaran Kelapa Pasca Berenang di Sukabumi"
[Gambas:Video 20detik] (sya/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads