Kabar Internasional

FOMO, 30 Orang Tewas dalam Kerumunan di Benteng Lafferriere

Muhammad Lugas Pribady - detikJabar
Senin, 13 Apr 2026 21:00 WIB
Tragedi memilukan terjadi di Benteng Laferriere, Haiti, pada Sabtu (11/4/2026). Sebanyak 30 wisatawan dilaporkan tewas akibat insiden desak-desakan yang terjadi di kawasan benteng bersejarah tersebut. (Foto: Getty Images/Hudson Louis)
Haiti -

Setidaknya 30 orang dilaporkan meninggal dunia dalam insiden desak-desakan yang dipicu fenomena fear of missing out (FOMO) di Citadelle Laferrière, Haiti Utara, Sabtu (11/4/2026). Peristiwa itu terjadi saat sebuah acara kumpul-kumpul anak muda digelar di benteng bersejarah tersebut.

Melansir The Haitian Times, Senin (13/4), laporan kepolisian menunjukkan kronologi kejadian bermula ketika pengunjung berdatangan setelah acara bertajuk 'Citadel Vibe 3.0' dipromosikan luas di media sosial, terutama TikTok.

Salah satunya dilakukan oleh influencer bernama Dope Fresh yang mengajak pengikutnya untuk datang ke lokasi. Ia kemudian melanjutkan kegiatan ke kawasan lain di Cap-Haïtien, dekat dengan benteng tersebut.

Pada hari pelaksanaan, jumlah pengunjung dilaporkan jauh melampaui kapasitas benteng hingga terjadi kerumunan di luar area. Mereka saling berebut untuk masuk ke dalam lokasi.

Kondisi diperparah karena akses keluar-masuk hanya melalui satu pintu, sehingga menimbulkan antrean panjang dan penumpukan massa di titik tersebut.

Situasi berubah menjadi kacau saat pergerakan massa di dalam lokasi tidak lagi terkendali. Wakil Wali Kota Cap-Haïtien, Patrick Almonord, mengatakan kepanikan terjadi di tengah kerumunan hingga korban berjatuhan.

"Gerakan di tengah kerumunan menyebabkan kepanikan yang sangat parah. Jumlah korban sementara sekitar 30 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Angka-angka ini masih dapat berubah," kata Almonord.

Benteng Laferriere di Haiti utara Foto: Getty Images/Lukas Bischoff

Saksi mata menyebutkan banyak orang mulai kesulitan bernapas akibat padatnya kerumunan. Peserta acara, Fabiola Jules, menerangkan situasi tersebut sebagai lautan manusia yang pada suatu titik membuat orang sulit bernapas hingga kepanikan pun terjadi.

"Ada ribuan dari kami di sana. Pada satu titik, orang-orang tidak bisa bernapas lagi. Itu adalah kepanikan total," kata Fabiola.

Kesaksian serupa juga disampaikan oleh seorang influencer yang berada di lokasi, Marco Photo.

"Orang-orang saling mendorong untuk keluar, banyak yang kesulitan bernapas dan tidak ada cukup ruang untuk bergerak hingga orang-orang terjebak," kata Marco Photo melalui unggahan di Facebook-nya.

Laporan awal menunjukkan korban diduga meninggal akibat sesak napas karena kepadatan ekstrem dan buruknya sirkulasi udara di dalam benteng. Kondisi hujan dan permukaan yang licin disebut turut memperburuk keadaan.

Tim gabungan dari pemerintah kota dan Perlindungan Sipil langsung dikerahkan untuk melakukan evakuasi. Korban luka dibawa ke rumah sakit terdekat, termasuk Rumah Sakit Sacré-Cœur de Milot.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih menyelidiki penyebab pasti insiden tersebut, termasuk aspek perizinan acara. Tragedi ini juga memicu sorotan terhadap pengelolaan kerumunan serta sistem keamanan dalam kegiatan berskala besar di lokasi wisata bersejarah.

Artikel ini telah tayang di detikTravel. Baca selengkapnya di sini.




(upd/yum)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork