Tak banyak orang yang tahu, di balik jalur lintasan Palabuhanratu menuju Banten ada sebuah pantai yang seolah sengaja disembunyikan alam. Dari arah jalan raya, aksesnya hanya berupa jalan tanah dengan turunan dan tanjakan tajam.
Motor bisa masuk, tetapi pengendara mesti lihai menahan rem dan menjaga keseimbangan. Satu kesalahan kecil bisa berakibat tergelincir.
Namun begitu sampai di ujung jalur, rasa lelah langsung terbayar. Pemandangan yang muncul benar-benar berbeda dari pantai kebanyakan. Hamparan bebatuan bulat berwarna abu-abu menutupi seluruh permukaan.
Bukan pasir, melainkan kerikil-kerikil halus yang memberi sensasi unik ketika diinjak kaki. Suaranya berderak lembut, berpadu dengan deburan ombak yang menghantam batu karang besar di tepian laut.
Di sepanjang garis pantai, pohon pandan laut tumbuh menjulang dengan akar-akar yang menjuntai ke tanah. Dedaunan lebat dari pepohonan lain menambah kesan rimbun, menciptakan semacam kanopi alami yang membuat siapa pun betah berlama-lama.
Beberapa bangku kayu sederhana diletakkan di antara pepohonan, seolah mengundang pengunjung untuk duduk, melepaskan lelah, dan menikmati panorama laut.
Pengelolaan pantai ini masih sangat sederhana. Pengurus lokal bahkan berharap tidak ada pedagang yang berjualan di area ini, agar suasana tetap tenang dan alami. Pengunjung yang sudah mengetahui tempat ini biasanya membawa makanan dari luar lalu menikmatinya sambil duduk di bawah pepohonan.
Sebuah kotak kertas sederhana bertuliskan "untuk kebersihan" disediakan pihak pengurus. Tarifnya seikhlasnya, termasuk untuk biaya masuk dan parkir kendaraan.
Sebuah spanduk kecil dengan tulisan "Jagalah Kebersihan di Tempat Ini" terpasang di batang pohon. Peringatan sederhana itu menjadi simbol bahwa lokasi ini dijaga bukan dengan aturan kaku, melainkan dengan kesadaran bersama.
Bagi warga lokal, pantai ini ibarat anugerah tersembunyi. Seperti yang diungkapkan Dani (32), seorang warga Palabuhanratu yang mengaku tidak sengaja menemukan tempat ini saat hendak mencari jalan pintas.
(sya/yum)