Pada 1986, seorang penyelam Jepang bernama Kihachiro Aratake menyelam di perairan sekitar Pulau Yonaguni, pulau paling barat di Jepang. Saat itu, ia hanya berniat mencari lokasi baru untuk kegiatan penyelaman.
Namun, penyelaman tersebut justru membawanya pada sebuah penemuan tak terduga. Di kedalaman sekitar 25 meter di bawah permukaan laut, Aratake menemukan struktur batuan raksasa yang tampak sangat tidak biasa. Formasi batu itu terlihat memiliki bentuk persegi panjang dengan sudut-sudut tegas. Dari kejauhan, bentuknya bahkan menyerupai piramida bertingkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir detikInet, yang membuatnya semakin menarik, beberapa bagian batuan tampak seperti memiliki undakan menyerupai tangga, seolah-olah dipahat dengan sengaja.
"Saat itu sekitar 35 tahun yang lalu. Saya sedang mencari titik penyelaman dan menemukannya secara kebetulan," kata Aratake kepada BBC pada 2022.
Penemuan itu membuatnya terharu sekaligus tak percaya.
"Saya sangat emosional ketika menemukannya. Setelah menemukannya, saya menyadari bahwa ini akan menjadi harta karun Pulau Yonaguni," ujarnya.
Sebagai direktur asosiasi pariwisata lokal, Aratake menyadari bahwa temuan tersebut bukan sekadar lokasi penyelaman biasa. Ia kemudian menghubungi para ilmuwan dari Universitas RyΕ«kyΕ«s untuk menyelidiki struktur misterius tersebut.
Sejak saat itu, monumen bawah laut Yonaguni mulai menarik perhatian peneliti dan memunculkan berbagai teori mengenai asal-usulnya.
Sebagian orang meyakini struktur itu adalah peninggalan manusia purba yang tenggelam akibat perubahan permukaan laut ribuan tahun lalu.
Teori yang lebih berani bahkan diajukan oleh Masaaki Kimura, ahli biologi kelautan dari Universitas RyΕ«kyΕ«s. Dalam bukunya Mu Tairiku Wa Ryukyu ni Atta (1997), ia berpendapat bahwa wilayah tersebut mungkin merupakan bagian dari Benua Mu yang hilang, sebuah benua hipotetis yang sering dikaitkan dengan legenda Lemuria.
Spekulasi lain juga bermunculan. Ada yang menduga struktur tersebut dibangun sekitar 10.000 hingga 14.000 tahun lalu. Jika benar, usia itu berarti monumen tersebut bisa jadi berasal dari masa sebelum peradaban manusia yang diketahui mampu membangun struktur besar.
Tak mengherankan jika sebagian orang kemudian mengaitkannya dengan legenda kota Atlantis yang hilang. Namun, seperti banyak teori spektakuler lainnya, klaim tersebut membutuhkan bukti ilmiah yang kuat.
Para ahli geologi justru memiliki penjelasan yang lebih sederhana. Menurut mereka, alam sering kali mampu menciptakan struktur yang tampak sangat simetris dan geometris hingga menyerupai buatan manusia.
Contoh fenomena serupa dapat dilihat pada kolom heksagonal di Giant's Causeway di Irlandia atau pola heksagon raksasa di kutub planet Saturnus.
Robert Schoch, profesor sains dan matematika dari Boston University yang pernah menyelam langsung di lokasi tersebut, termasuk di antara ilmuwan yang meragukan bahwa struktur itu buatan manusia.
"Saya tidak yakin bahwa salah satu fitur atau struktur utama adalah tangga atau teras buatan manusia, tetapi semuanya alami," ujarnya kepada National Geographic.
Menurut Schoch, batuan di wilayah tersebut merupakan batu pasir yang memiliki pola pecah alami. Proses geologi membuat batuan itu retak mengikuti bidang tertentu sehingga menghasilkan sudut tajam dan garis lurus.
"Ini adalah geologi dasar dan stratigrafi klasik untuk batu pasir, yang cenderung pecah di sepanjang bidang dan memberi Anda tepi yang sangat lurus, terutama di daerah dengan banyak patahan dan aktivitas tektonik," jelasnya.
Setelah membandingkan pola pelapukan dan erosi di pantai Pulau Yonaguni dengan struktur yang ada di dasar laut, Schoch semakin yakin bahwa keduanya terbentuk melalui proses yang sama.
Ia bahkan menemukan cekungan dan rongga alami yang bentuknya sangat mirip dengan 'lubang tiang' yang sebelumnya diduga sebagai bekas konstruksi manusia.
"Di permukaan, saya juga menemukan cekungan dan rongga yang terbentuk secara alami yang tampak persis seperti 'lubang tiang' yang diduga oleh beberapa peneliti," katanya.
Seiring waktu, banyak ilmuwan akhirnya sepakat bahwa Monumen Yonaguni kemungkinan besar merupakan formasi geologi alami.
Meski demikian, bentuknya yang unik tetap membuat lokasi ini menjadi salah satu situs penyelaman paling menarik di Jepang. Perairan Yonaguni sendiri juga dikenal sebagai habitat berbagai spesies hiu, yang justru menambah daya tarik bagi para penyelam.
Terlepas dari apakah ia merupakan peninggalan peradaban kuno atau sekadar karya alam, Monumen Yonaguni tetap menjadi pemandangan bawah laut yang memikat, sebuah misteri yang terus mengundang rasa penasaran.
Artikel ini sudah tayang di detikInet
(ask/dir)











































