Mata Air Cikahuripan yang Kerap Didatangi Calon Kades-Caleg

Mata Air Cikahuripan yang Kerap Didatangi Calon Kades-Caleg

Irvan Maulana - detikJabar
Senin, 03 Okt 2022 08:00 WIB
Mata Air Cikahuripan di Karawang.
Mata Air Cikahuripan di Karawang. (Foto: Irvan Maulana/detikJabar)
Karawang -

Mata Air Cikahuripan di Desa Cintawargi, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang jadi sumber air yang penting bagi warga di tiga desa. Tapi mata air ini jadi salah satu lokasi untuk tujuan wisata religi.

Seperti namanya, Cikahuripan berasal dari bahasa Sunda berarti air kehidupan. Jika musim kemarau tiba, sumber mata air yang berasal dari akar pohon inilah yang menghidupi sekitar 10 ribu warga Desa Cintawargi, Cintalanggeng, dan Cintalaksana, di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang.

Sesepuh Kampung Cikahuripan, Ustadz Adom Domiri mengatakan, sumber mata air ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Namun keberadaannya belum begitu diketahui dan dimanfaatkan orang di masa itu.


"Zaman dulu, hanya orang-orang yang tahu khasiat dan berniat mandi di sini saja yang tahu dan memanfaatkan mata air ini," kata Adom, saat ditemui di mata air Cikahuripan, Minggu (2/10/2022).

Ia menuturkan, orang-orang yang mandi di sana bukan hanya sekadar mandi. Mandi di sana dijadikan sebagai syarat berdasarkan petunjuk guru spiritualnya, yakni untuk mencapai hajat atau sesuatu yang hendak diusahakan.

"Seperti halnya orang yang hendak menjalani usaha, biar lancar gitu, atau ada juga orang yang mencalonkan diri sebagai pejabat, biasanya dia menjalankan ritual ziarah di maqom atau petilasan Mbah Anom, lalu mandi di sini," kata dia.

Maqom Mbah Anom yang dimaksud adalah makam Raden Anom Wirasuta yang merupakan Bupati kedua Karawang, ia dilantik menjadi Bupati di usia 44 tahun, menggantikan sang ayah Raden Adipati Singaperbangsa yang merupakan Bupati pertama.

"Maqom Mbah Anom di atas, tak jauh dari sini, hanya berjarak 1,5 kilometer," imbuhnya.

Biasanya, kata Adom, kebanyakan peziarah justru datang dari luar daerah, seperti dari Banten, Bekasi, Purwakarta, hingga Cianjur. Mereka warga dari luar daerah yang justru meyakini kemanjuran berziarah dan mandi di mata air Cikahuripan.

"Warga sini yah, biasa saja, mereka hanya mandi, kadang sengaja bawa jerigen ngambil air untuk keperluan di rumah," ujar dia.

Banyaknya warga di luar daerah yang ziarah ke makam Bupati dan mandi di Mata Air Cikahuripan, biasanya dimulai pada awal hingga akhir bulan Mulud, Mulud sendiri merupakan bulan Rabiul Awal, dimana Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

"Rangkaian proses ziarah itu dimulai dari tawasul di makam, biasanya berlangsung selama satu minggu. Setelah tawasul dan menginap di makam, para peziarah biasanya mandi di sini dan diakhiri dengan berdzikir hingga subuh," ungkapnya.

Seluruh rangkaian proses ritual dari mulai ziarah, tawasul, mandi hingga dzikir dilakukan pada tengah malam hingga subuh dan berlangsung selama sepekan. Para peziarah biasanya akan membawa bekal cukup untuk menginap di pelataran makan.

Hal itu, kata Adom bisa disebut ampuh. Sebab menurut penuturannya, berdasarkan testimoni atau cerita dari orang-orang yang penah melakukan proses ritual tersebut, bisa dikatakan mencapai keberhasilan.

Tak hanya itu, kata Adom, pada saat musim pencalonan kepala desa hingga pemilu, biasanya para kandidat juga melakukan proses ritual tersebut. Entah kebetulan atau tidak, ada yang akhirnya terpilih.

"Ada beberapa calon kades yang juga sudah terbukti terpilih, beberapa anggota DPRD di Karawang dulunya juga ziarah ke sini," kata dia.

Kendati demikian, dikatakan Adom, tidak dibenarkan jika berziarah karena meminta sesuatu, "Yang benar tentu saja minta hanya pada Allah, berziarah ini boleh dikatakan hanya sebagai syariat, atau jalan untuk bermahabah kepada orang-orang alim terdahulu," pungkasnya.

(orb/orb)