Ironi Status Warisan Dunia Geopark Ciletuh Tercoreng Aksi Pungli

Ironi Status Warisan Dunia Geopark Ciletuh Tercoreng Aksi Pungli

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Sabtu, 12 Mar 2022 11:22 WIB
Suasana Puncak Darma
Foto: detik
Sukabumi -

Dunia pariwisata di kawasan Geopark Ciletuh Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi diguncang aksi pungli. Keluhan wisatawan viral di media sosial, kekesalan dengan maraknya pungutan nyaris di sejumlah titik wisata bikin gerah warganet.

Tidak mudah mendapatkan penilaian oleh UNESCO tersebut, seperti diketahui saat ini Indonesia memiliki enam Geopark yang masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark (UGG), alias jaringan geopark dunia. Dengan jumlah itu Indonesia pun menjadi negara di Asia Tenggara dengan jumlah UNESCO Global Geopark terbanyak.

Data diperoleh, enam geopark yang masuk UNESCO Global Geopark itu adalah, Rinjani, Gunung Sewu, dan Batur, serta Geopark Belitung, Kaldera Toba dan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. Untuk Geopark Ciletuh-Palabuhanratu saat ini tengah kembali berjuang mendapatkan status tersebut, antara bulan April - Mei nanti UNESCO akan kembali melakukan penilaian.


"(Penilaian) antara April - Mei," kata Kepala Dinas Pariwisata Sigit Widarmadi kepada detikJabar, Sabtu (12/3/2022).

Sigit menjelaskan Pemerintah Kabupaten Sukabumi selama ini sudah concern menjalankan beberapa rekomendasi yang disampaikan oleh pihak asesor geopark. Ketika pemerintah concern, Sigit berharap seluruh lapisan masyarakat juga ikut peduli demi mempertahankan status Geopark Ciletuh-Palabuhanratu jadi destinasi wisata kelas dunia.

"Memang sudah seharusnya seluruh stake holder juga masyarakat peduli. Geopark kan sudah standar penilaian internasional, kita menyiapkan perilaku internasional, sok lah lebih giat sosialisasi ke depan (kita) turun ke lapangan," ungkap Sigit.

Sigit juga mengikuti informasi kaitan viralnya wisatawan yang mengaku 'digetok' pungli selama berkunjung ke Sukabumi, menurut Sigit ada retribusi parkir bahkan hingga senilai Rp 100 ribu menurutnya hal itu ada di bawah wewenang Dinas Perhubungan (Dishub).

"Tentang retribusi, yang viral kemarin ada retribusi parkir sampai Rp 100 ribu dan bukan retribusi tapi kwitansi cap desa, saya tidak bermaksud menyudutkan tapi ini jadi catatan untuk kita ada kewenangan yang harus dibahas lagi dan disosialisasikan ke masyarakat," ujar Sigit.

Sigit berharap masyarakat tidak memanfaatkan situasi keramaian pengunjung, kepada pengunjung Sigit berharap agar selalu menanyakan tiket resmi ketika berkunjung ke objek wisata.

"Kesadaran masyarakat untuk tidak memanfaatkan situasi seperti itu, pengunjung juga sudah menjadi kewajiban menanyakan tiketnya kalau enggak jelas ya sudah mending enggak usah dibayar tapi kan jadi kapok kasihan juga harusnya semua bijak menyikapi hal ini," pungkas Sigit.



Simak Video "Melihat Sakralnya Upacara HUT ke-152 Kabupaten Sukabumi"
[Gambas:Video 20detik]
(sya/yum)