Keputusan operator liga memindahkan laga Persija Jakarta kontra Persib Bandung ke Stadion Segiri, Samarinda, menuai kritik tajam. Zaini Shofari, bobotoh yang juga Ketua Fraksi PPP DPRD Jawa Barat, menilai kebijakan itu mencerminkan lemahnya regulasi dan perencanaan kompetisi.
"Jadwal sudah disusun sejak awal musim, tapi menjelang akhir malah berubah. Ini membuat seolah-olah Persib atau Persija dikerjain," ujar Zaini saat ditemui di Gedung DPRD Jabar, Rabu (6/5/2026).
Ia menegaskan, alasan keamanan yang dijadikan dasar pemindahan venue seharusnya sudah diantisipasi sejak awal, bukan muncul secara mendadak ketika kompetisi hampir selesai.
"Kalau alasan keamanan, itu harusnya sudah masuk dalam perencanaan sejak awal. Tidak tiba-tiba di akhir kompetisi," katanya.
Menurutnya, pengalaman saat Persija bertandang ke Bandung di putaran pertama justru membuktikan bahwa laga berisiko tinggi bisa tetap berjalan aman jika dikelola dengan baik. Koordinasi antara pemerintah daerah, kepolisian, dan panitia pelaksana menjadi kunci utama.
"Waktu Persija datang ke Bandung, suasananya aman dan tenang. Bahkan di luar stadion tidak terjadi hal-hal yang biasanya muncul. Itu karena koordinasi berjalan baik," ujarnya.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah hingga tingkat kabupaten/kota saat itu turut berperan aktif mengurai potensi penumpukan massa dengan menyediakan titik-titik nonton bareng. Selain itu, aparat kepolisian dinilai mampu menjalankan pengamanan secara optimal dengan pendekatan yang terukur.
"Bupati dan wali kota mengatur titik-titik nobar di masing-masing daerah, sehingga penonton tidak menumpuk di satu lokasi. Polda bekerja sangat baik. Ini jadi bukti bahwa pertandingan besar seperti Persib melawan Persija bisa dikelola dengan baik," ucapnya.
Dengan pengalaman tersebut, ia mempertanyakan urgensi pemindahan venue ke Stadion Segiri, Samarinda, yang dinilai tidak netral dan justru merugikan secara psikologis maupun teknis.
"Kenapa harus ke Samarinda? Itu bukan tempat netral. Secara psikologis juga merugikan," tegasnya.
Menurutnya, inkonsistensi kebijakan seperti perubahan jadwal, venue, hingga aturan pertandingan berpotensi menghambat upaya membangun kompetisi sepak bola yang profesional.
"Kalau mau sepak bola kita maju, regulasinya harus jelas dan perencanaannya matang. Jangan berubah-ubah mendekati hari pertandingan," katanya.
Ia menambahkan, jika pemindahan venue memang tak terhindarkan, seharusnya lokasi yang dipilih tetap berada di sekitar basis kandang tim tuan rumah.
Baca juga: Mereka yang Absen di Laga Persija Vs Persib |
"Kalau terpaksa dipindah, cari yang dekat dengan home base Persija, misalnya stadion di Pulau Jawa yang tersedia. Itu lebih masuk akal," ucapnya.
Ia pun menilai keberhasilan pengamanan laga di Bandung seharusnya menjadi acuan bagi operator liga dalam mengambil keputusan ke depan. "Ini tinggal bagaimana kemauan untuk menjalankan sistem dengan baik. Contohnya sudah ada, tinggal diterapkan," ujarnya.
(bba/orb)