Slogan 'Viking Bonek Satu Hati' yang Kini 'Diistirahatkan'

Round-up

Slogan 'Viking Bonek Satu Hati' yang Kini 'Diistirahatkan'

Bima Bagaskara - detikJabar
Jumat, 06 Mar 2026 11:00 WIB
Ada Dilan hadir sebelum Persib Bandung vs Persebaya Surabaya di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Suporter Persib dan Persebaya (Foto: Wisma Putra)
Bandung -

Pertandingan antara Persebaya Surabaya melawan Persib Bandung pada 2 Maret 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo berakhir dengan skor imbang 2-2. Empat gol tercipta, tensi pertandingan terasa tinggi sepanjang 90 menit, dan kedua tim akhirnya harus puas berbagi angka dalam lanjutan Super League Indonesia 2025/26.

Namun kisah pertandingan itu ternyata tak berhenti saat peluit panjang berbunyi. Di luar lapangan, ada cerita lain yang berkembang, tentang hubungan dua kelompok suporter besar dan sebuah slogan persaudaraan yang kini untuk sementara diistirahatkan.

Dalam laga tandang tersebut, bukan hanya skuad Persib yang datang ke Surabaya. Perwakilan Viking Persib Club, kelompok suporter terbesar Persib, juga hadir di Kota Pahlawan. Namun kehadiran mereka bukan untuk menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedatangan mereka membawa pesan lama yang diwariskan para pendahulu, menjaga silaturahmi dengan Bonek, kelompok suporter Persebaya Surabaya. Hubungan kedua kelompok suporter ini memang telah lama dikenal dekat, bahkan menjadi simbol persaudaraan antarkota di dunia sepak bola Indonesia.

"Kehadiran perwakilan Viking Persib Club di Surabaya merupakan bentuk amanat dan pesan moral dari para pendahulu kami, khususnya almarhum Ayi Beutik. Beliau berpesan agar persaudaraan antara Bandung dan Surabaya tetap dijaga. Niat kedatangan kami adalah untuk mempererat silaturahmi dan menjaga hubungan baik antarsuporter, bukan untuk menciptakan konflik," tulis Viking Persib Club dalam pernyataan resminya, Kamis (5/3/2026).

ADVERTISEMENT

Namun situasi di lapangan ternyata tidak sepenuhnya berjalan sesuai harapan. Dalam pernyataannya, Viking menyebut adanya insiden yang melibatkan oknum suporter hingga menyebabkan korban luka dan kerugian materiel. Korban dalam hal ini merupakan anggota Viking Surabaya.

"Kami mengecam keras segala bentuk kekerasan fisik, intimidasi, perusakan, dan tindakan anarkis yang dilakukan oleh oknum suporter di Surabaya. Akibat insiden tersebut mengakibatkan adanya korban luka serta kerugian materil. Tindakan tersebut merupakan pelanggaran hukum dan tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apapun," jelas keterangan itu.

Viking juga menyoroti adanya dugaan provokasi hingga penyerangan ke hotel tempat perwakilan mereka menginap.

"Kami sangat menyayangkan adanya pihak-pihak yang tidak menghendaki terjaganya hubungan baik tersebut, sehingga terjadi provokasi hingga penyerangan ke hotel tempat perwakilan kami menginap. Tindakan tersebut mencederai semangat persaudaraan yang selama ini berusaha kami rawat," ungkap Viking.

Selama ini, Viking mengaku memilih menahan diri dari berbagai provokasi. Sikap diam itu, menurut mereka, bukan bentuk kelemahan, melainkan upaya menjaga amanat para pendahulu dan merawat hubungan baik yang telah lama dibangun.

"Selama ini kami memilih untuk tidak membalas berbagai bentuk provokasi yang dilakukan oleh oknum suporter lawan, sikap tersebut bukanlah bentuk kelemahan, melainkan wujud komitmen kami dalam menjaga amanat pendahulu dan mempertahankan kondusivitas. Namun perlu ditegaskan bahwa diam kami bukan berarti kami tidak mencatat setiap penghinaan, ancaman, dan serangan yang terjadi terhadap organisasi maupun anggota kami," katanya.

Situasi tersebut akhirnya mendorong lahirnya sebuah keputusan penting. Viking secara resmi memilih untuk mengistirahatkan slogan yang selama ini sangat identik dengan hubungan Bandung dan Surabaya: "Viking Bonek Satu Hati."

"Dengan mempertimbangkan situasi dan realita yang terjadi akhir-akhir ini, serta demi menjaga keselamatan dan kehormatan organisasi, Viking Persib Club menyatakan untuk menjaga jarak dan mengistirahatkan slogan 'Viking Bonek Satu Hati' karena kami menilai slogan tersebut sudah tidak lagi relevan dengan kondisi yang terjadi saat ini, sehingga butuh waktu untuk sama-sama merefleksikan diri kembali terhadap apa yang menjadi cita-cita dari slogan tersebut," tegas Viking.

Keputusan untuk "mengistirahatkan" slogan tersebut bukan sekadar perubahan simbolik. Ia menjadi penanda bahwa hubungan yang dulu dikenal hangat kini tengah memasuki masa evaluasi. Bukan berarti persaudaraan itu benar-benar berakhir, melainkan memberi ruang bagi kedua pihak untuk merenungkan kembali makna dari hubungan yang selama ini dijaga.

Di akhir pernyataannya, Viking mengingatkan kembali esensi rivalitas dalam sepak bola, bahwa pertandingan seharusnya hanya berlangsung di dalam lapangan.

"Rivalitas cukup 90 menit di dalam lapangan, setelah itu kita tidak hilang akal dan tetap waras. Rivalitas bukan menjadi pembenaran untuk melakukan tindakan brutalitas yang malah berlanjut menjadi tindakan pidana di luar sepak bola. Kita tidak sedang mewariskan kebencian kepada generasi penerus," tutup Viking.

(bba/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads