Slogan 'Viking Bonek Satu Hati' Diistirahatkan!

Slogan 'Viking Bonek Satu Hati' Diistirahatkan!

Bima Bagaskara - detikJabar
Kamis, 05 Mar 2026 10:26 WIB
Ada Dilan hadir sebelum Persib Bandung vs Persebaya Surabaya di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Ilustrasi Viking-Bonek. Foto: Wisma Putra
Bandung -

Pertandingan antara Persebaya Surabaya melawan Persib Bandung pada 2 Maret 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo berakhir imbang 2-2. Empat gol tercipta, tensi tinggi terasa sepanjang 90 menit, dan kedua tim harus puas berbagi angka dalam lanjutan Super League 2025/26.

Namun cerita pertandingan itu tak berhenti di peluit panjang wasit. Ada kisah lain yang tumbuh di luar lapangan, tentang persaudaraan dua kelompok suporter dan sebuah slogan yang kini diistirahatkan.

Dalam laga tandang tersebut, bukan hanya skuad Persib yang datang ke Surabaya. Perwakilan Viking Persib Club, kelompok suporter terbesar Persib juga hadir. Namun kehadiran mereka bukan untuk menyaksikan pertandingan di stadion.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka datang membawa pesan lama yang diwariskan para pendahulu yakni menjaga dan merawat silaturahmi dengan Bonek, suporter Persebaya Surabaya. Kedua kelompok suporter ini memang dikenal dekat sejak lama.

ADVERTISEMENT

"Kehadiran perwakilan Viking Persib Club di Surabaya merupakan bentuk amanat dan pesan moral dari para pendahulu kami, khususnya almarhum Ayi Beutik. Beliau berpesan agar persaudaraan antara Bandung dan Surabaya tetap dijaga. Niat kedatangan kami adalah untuk mempererat silaturahmi dan menjaga hubungan baik antarsuporter, bukan untuk menciptakan konflik," tulis Viking Persib Club dalam pernyataan resminya, Kamis (5/3/2026).

Namun, realita di lapangan berkata lain. Viking menyebut terjadi insiden yang melibatkan oknum suporter dan berujung pada korban luka serta kerugian materiel. Korban dalam hal ini merupakan anggota Viking Surabaya.

"Kami mengecam keras segala bentuk kekerasan fisik, intimidasi, perusakan, dan tindakan anarkis yang dilakukan oleh oknum suporter di Surabaya. Akibat insiden tersebut mengakibatkan adanya korban luka serta kerugian materil. Tindakan tersebut merupakan pelanggaran hukum dan tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apapun," jelas keterangan itu.

Tak hanya itu, Viking juga menyayangkan adanya dugaan provokasi hingga penyerangan ke hotel tempat perwakilan mereka menginap.

"Kami sangat menyayangkan adanya pihak-pihak yang tidak menghendaki terjaganya hubungan baik tersebut, sehingga terjadi provokasi hingga penyerangan ke hotel tempat perwakilan kami menginap. Tindakan tersebut mencederai semangat persaudaraan yang selama ini berusaha kami rawat," ungkap Viking.

Selama ini, Viking mengaku memilih menahan diri dari berbagai provokasi. Sikap diam itu, kata mereka, bukan bentuk kelemahan, melainkan komitmen merawat persaudaraan dan menjaga kondusifitas antar suporter.

"Selama ini kami memilih untuk tidak membalas berbagai bentuk provokasi yang dilakukan oleh oknum suporter lawan, sikap tersebut bukanlah bentuk kelemahan, melainkan wujud komitmen kami dalam menjaga amanat pendahulu dan mempertahankan kondusivitas. Namun perlu ditegaskan bahwa diam kami bukan berarti kami tidak mencatat setiap penghinaan, ancaman, dan serangan yang terjadi terhadap organisasi maupun anggota kami," katanya.

Hingga akhirnya, keputusan besar pun diambil. Viking secara resmi untuk mengistirahatkan slogan yang sangat identik dengan hubungan Bandung-Persebaya yakni 'Viking Bonek Satu Hati'. Mereka menilai, slogan itu sudah tak lagi relevan.

"Dengan mempertimbangkan situasi dan realita yang terjadi akhir-akhir ini, serta demi menjaga keselamatan dan kehormatan organisasi, Viking Persib Club menyatakan untuk menjaga jarak dan mengistirahatkan slogan 'Viking Bonek Satu Hati' karena kami menilai slogan tersebut sudah tidak lagi relevan dengan kondisi yang terjadi saat ini, sehingga butuh waktu untuk sama-sama merefleksikan diri kembali terhadap apa yang menjadi cita-cita dari slogan tersebut," tegas Viking.

Keputusan 'mengistirahatkan' slogan ini bukan sekadar perubahan simbolik. Ia menjadi penanda bahwa relasi yang dulu dibanggakan kini tengah memasuki fase evaluasi. Di akhir pernyataannya, Viking mengingatkan esensi rivalitas dalam sepak bola yang sejatinya hanya ada selama 90 menit

"Rivalitas cukup 90 menit di dalam lapangan, setelah itu kita tidak hilang akal dan tetap waras. Rivalitas bukan menjadi pembenaran untuk melakukan tindakan brutalitas yang malah berlanjut menjadi tindakan pidana di luar sepak bola. Kita tidak sedang mewariskan kebencian kepada generasi penerus," tutup Viking.

(bba/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads