Tragedi Kanjuruhan yang Memberi Pelajaran

Tragedi Kanjuruhan yang Memberi Pelajaran

Oris Riswan Budiana - detikJabar
Selasa, 04 Okt 2022 22:42 WIB
Ngoper bersama M Farhan.
Ngoper bersama M Farhan. (Foto: Ilustrasi Rindy Nurjanah/detikJabar)
Bandung -

Tragegi Kanjuruhan memberi banyak pelajaran bagi publik. Dari insiden mengerikan ini publik dibuat membuka mata bahwa sepak bola Indonesia tidak baik-baik saja.

Dampak yang kini dirasakan, kompetisi sepak bola di Indonesia dihentikan sementara, khususnya Liga 1 dan Liga 2. Di saat bersamaan penuntasan tragedi itu juga terus diupayakan pihak-pihak terkait.

Mantan Direktur PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) M Farhan menyebut tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang itu harus segera dituntaskan. Semuanya harus dibuka agar publik tak dibuat bingung dengan fakta yang sebenarnya terjadi.


"Tentu harus dilakukan penyelidikan ke arah penyidikan untuk tahu siapa pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban. Sebagai konsekuensi hukum, harus ada orang yang dijadikan tersangka dan harus mengikuti proses hukum tersebut," ujar Farhan dalan live Instagram Ngobrolin Persib (Ngoper) bersama detikJabar, Selasa (4/10/2022).

Ia sendiri berharap adanya tragedi itu tak berujung pada dibekukannya sepak bola profesional di Indonesia. Sebab, ada banyak pihak yang menggantungkan hidup di sana.

Namun, upaya penyelamatan dan perbaikan sepak bola harus dilakukan. Sehingga, ke depan diharapkan sepak bola bisa terus bergulir tanpa menimbulkan masalah lagi.

Farhan juga berharap Indonesia tak disanksi FIFA seperti yang pernah dialami beberapa tahun lalu. Sebab, saat disanksi, sepak bola Indonesia mati suri dan banyak elemen yang hidup di dalamnya berada dalam kesulitan luar biasa.

"Semoga sih tidak (disanksi FIFA)," tutur pria yang kini menjadi anggota DPR RI itu

Perlunya Pengelolaan Stadion oleh Klub

Farhan mengamini jika Tragedi Kanjuruhan benar-benar membuka kesadaran publik. Semua diajak untuk merenung dan sama-sama memperbaiki sepak bola nasional.

"Kita tuh harus melihat bahwa kejadian ini langsung saja membangkitkan kesadaran bahwa kita harus melakukan pembenahan. Pembenahan secara administrasi, pembenahan secara teknis, pembenahan secara edukasi kepada penonton, industri sepak bola dan aparat," jelasnya.

Salah satu yang disorotinya adalah soal pengelolaan stadion. Sebab, selama ini pengelolaan stadion dilakukan oleh pemerintah daerah (pemda). Klub hanya berstatus sebagai penyewa saat menggelar laga kandang.

Ia berharap setiap pemda mengizinkan stadion di daerahnya dikelola oleh klub. Sehingga, ada kendali penuh dari klub yang mengelola stadion jika menggelar laga.

"Sekarang ini kan stadion yang dikelola klub baru ada di Gianyar (oleh Bali United), yang lain nggak ada, semua nyewa. Akibatnya apa? Apabila klub perlu membuat sistem atau membangun sistem pintu elektronik, sistem loket, sistem penjagaan, sistem CCTV-nya sifatnya semua sementara, karena nyewa. Sehingga tidak bisa optimal," jelas Farhan.

(orb/bbn)