Cerita Wartawan Sumedang Jadi Komentator Piala Dunia

Nur Azis - detikJabar
Selasa, 02 Agu 2022 08:00 WIB
Iwan Bahari.
Iwan Bahari. (Foto: Nur Azis/detikJabar)
Sumedang -

Peranan komentator sangat penting dalam menghidupkan dan memeriahkan tayangan sepak bola di televisi. Apa jadinya tayangan sepakbola tanpa seorang komentator ? Sepi!

Namun terkadang, sebagian orang ada yang beranggapan seorang komentator adalah orang yang "sotoy" alias sok tahu.

Padahal menjadi komentator sepak bola tidak mudah. Selain harus memiliki wawasan juga pengalaman dalam hal public speaking.


Seperti yang diungkapkan wartawan Radio PR FM, yakni Iwan Bahari yang pernah menjadi komentator pertandingan sepak bola Piala Dunia bertajuk Kampung Bola di salah satu stasiun televisi swasta sekitar tahun 2006.

Iwan pun membagikan pengalamannya saat ia terpilih menjadi komentator pada ajang tersebut. Saat itu, ia sebelumnya harus berjibaku menjalani proses seleksi bersama ribuan kontestan lainnya.

"Jadi pada ajang bertajuk Kampung Bola Piala Dunia waktu itu, dibuka kesempatan menjadi seorang komentator, dimana sebelumnya harus menjalani proses seleksi dan interview bersama ribuan orang yang daftar dari seluruh Indonesia, tempatnya saat itu di Sabuga ITB Bandung," ungkap Iwan kepada detikjabar, belum lama ini.

Setelah menjalani proses seleksi yang panjang itu, Iwan pun singkat cerita lolos ke tahap berikutnya, yakni berupa proses seleksi secara maraton dimana ia harus berhadapan dengan wakil dari daerah-daerah lainnya.

"Jadi proses seleksi pertama saya lolos bersama tiga orang wakil dari Bandung dan harus berhadapan dengan wakil Jakarta, Surabaya, Cirebon dan wakil daerah lainnya," terangnya.

Pada tahap ini, lanjut Iwan, setiap kontestan harus menjalani proses seleksi dengan sistem gugur, yakni berupa simulasi menjadi komentator. Tahapan ini menjadi penentu terpilih atau tidaknya ia untuk jadi komentator.

"Jadi di sana ada TV besar yang menampilkan pertandingan sepak bola Piala Dunia, kita seolah-olah jadi komentatornya. Saya kebetulan waktu itu kebagian Brazil menghadapi Belanda, tahap ini sistem gugur, kalau tidak mampu langsung out," paparnya.

Setelah menjalani seluruh rangkaian proses seleksi, Iwan mengaku ada sedikit perasaan galau akan terpilih atau tidaknya. Pasalnya, setelah itu para kontestan hanya tinggal menunggu keputusan atau panggilan dari Jakarta.

Namun seperti kata pepatah, usaha tidak pernah mengkhianati hasil, Iwan pun akhirnya mendapat panggilan dari Jakarta.

"Pas datang ke Jakarta, ternyata saya tuh di tes lagi dan di interview lagi, 'benar tidak sih Iwan ini layak jadi komentaror', saya waktu itu harus menerangkan tentang semua tim sepak bola dunia secara garis besarnya," terangnya.

Dengan modal wawasan dan pengalamanya menjadi seorang penyiar radio, Iwan pada akhirnya dinyatakan lolos dan layak menjadi seorang komentar pada ajang tersebut.

"Setelah saya pulang ke Bandung, keesokan harinya saya ditelepon untuk siap-siap shooting menjadi komentator dengan hostnya saat itu Hendra Sujono dengan didampingi satu orang komentator lagi, yaitu Binder Sings, saat itu saya kebagian pertandingan tim dari Eropa yang ditayangkan secara live," tuturnya.

Menurut Iwan, salah satu modal menjadi seorang komentator bola tentunya adalah wawasan tentang sepak bola. Namun selain itu, dibutuhkan juga pengalaman lain seperti bagaimana cara bertutur pada saat menjelaskan tim-tim yang akan bermain.

"Jadi setelah kita diberi line up pemain, kita harus bisa memprediksi dan menganalisis kaitannya dengan pelatih dan pemain-pemain yang akan tampil, siapa yang akan mencetak gol dan tim mana yang diprediksi akan menang," ujarnya.

Iwan sendiri mempersiapkannya dengan membaca tentang profil setiap tim yang lolos pada Piala Dunia waktu itu. "Sebanyak 32 tim yang lolos paling tidak secara garis besar saya hapal pemain-pemainnya, prestasinya dan sejarah singkatnya," terangnya.

Pengalaman Siaran di Radio

Iwan sendiri diketahui cukup lama dalam dunia kepenyiaran di Radio. Ia awalnya meniti karier di stasiun radio bertajuk olahraga dan musik, yakni Radio Paramuda Bandung pada tahun 1996 - 2000.

"Jadi dulu itu setiap penyiar radio harus bisa juga menjadi seorang reporter lapangan, kalau dulu harus double bisanya," ucapnya.

Kemudian saat masih menjadi seorang penyiar radio, Iwan pernah bekerja di radio Lita pada 2003. Hingga akhirnya, Iwan bergabung dengan radio bertajuk khusus berita, yakni Radio PR FM.

"Awal masuk Radio PR FM saya hanya membantu report (reportase) aja, baru setelah tahun 2009, PR FM ada perubahan manajemen dimana radio ini jadi khusus berita dan sesekali musik, saya pun akhirnya ditugaskan di Sumedang menjadi reporter Radio PR FM," terangnya.

(ors/ors)