Kota Kembang Bandung seolah tak pernah kehabisan cara untuk memanjakan para pencinta ruang komunal. Di sini, gaya hidup sehat tak lagi identik dengan sesuatu yang membosankan atau kaku.
Begitu melangkah masuk ke gerai Minum Rempah Indonesia (MRI), indra penciuman langsung disambut aroma hangat rempah yang menenangkan, berpadu apik dengan desain interior modern yang lazim ditemui di kedai kopi populer. Tempat ini menjadi jawaban bagi mereka yang mendambakan kesegaran seduhan herbal alami tanpa harus kehilangan momen nongkrong yang seru bersama kolega.
Baru-baru ini, suasana hangat tersebut terasa kental saat detikJabar mengunjungi salah satu gerainya di kawasan Margahayu Raya, tepatnya di Jalan Pluto Raya, Kota Bandung. Dibandingkan cabang lainnya, gerai ini tampil lebih luas dengan bangunan dua lantai. Lantai dasar dipenuhi deretan kursi dan meja yang nyaman untuk bersantai, sementara lantai dua difungsikan sebagai ruang pelatihan, lengkap dengan fasilitas penunjang seperti toilet dan mushola.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sela kunjungan tersebut, Founder Minum Rempah Indonesia, Buyung Salbi Alghifari, membagikan kisah di balik layar lahirnya jenama minuman rempah modern ini.
"MRI itu outlet minuman rempah kekinian. Dengan positioning kita untuk bantu atasi keluhan tubuh, terutama yang usia muda gitu. Maka kita juga dalam bikin menu juga disesuaikan manfaatnya dengan kebutuhan kesehatan anak muda, usia muda gitu ya," katanya.
Perjalanan MRI dimulai pada 4 Juli 2021, sebuah periode yang menantang di tengah hantaman pandemi COVID-19. Buyung mengenang bagaimana bisnis yang baru seumur jagung itu harus berhadapan dengan kebijakan PPKM yang diberlakukan pemerintah pada 21 Juli 2021. Namun, keteguhan hatinya berbuah manis.
"Outlet yang pertama itu, bukan outlet ya, lebih ke gerobak pertama. Gerobak pertama di Cibaduyut. Kemudian di bulan Maret tahun berikutnya, beberapa bulan saja, itu langsung buka jadi 6," ujarnya.
Minuman Rempah Kekinian di Bandung Foto: Wisma Putra/detikJabar |
Ekspansi MRI sempat menjangkau luar kota seperti Lampung dan Bekasi, hingga merambah kawasan Cihanjuang dan Dago. Namun, perjalanan tak selalu mulus. Beberapa cabang terpaksa gulung tikar karena kendala operasional pada sistem kemitraan (franchise) yang kala itu sepenuhnya dikelola oleh mitra.
Transformasi dan Inovasi yang Terus Tumbuh
Tak mau menyerah, Buyung bersama sang istri, Desti Nopianti, terus memutar otak. Inovasi dilakukan, termasuk mengubah konsep jualan dari sekadar gerobak menjadi gerai fisik yang menyerupai coffee shop.
"Awalnya kita enggak setting seperti ini, karena memang kan kita awalnya gerobakan. Kemudian kita dapat testimoni dari customer katanya agak sempit, enggak enak buat dine in, maka kita sedikit bikin outlet yang kecil. Tapi kemudian ya coba kita bikin outlet yang seating capacity-nya waktu itu Antapani yang pertama, itu sekitar 16 seating capacity. Kemudian diikuti DU sekitar 22, dan kemudian di Cimahi juga sekitar 16 seating capacity. Yang ini paling besar, di MRI Margahayu, 24, cuman kita masih ada lantai 2," ungkapnya.
Hingga memasuki tahun 2026 ini, MRI telah mengoperasikan 14 gerai yang tersebar di wilayah Bandung Raya. Buyung memilih untuk fokus memperkuat pasar lokal hingga tahun 2027 mendatang sebelum kembali melirik ekspansi ke luar kota. Pertumbuhan ini juga berdampak signifikan pada penyerapan tenaga kerja.
"Awal saya yang bikin sendiri, yang dorong gerobak, sama ada satu yang bantu karyawan gitu, sama istri konten kreator. Sekarang cabang sudah banyak, karyawan juga," ujarnya.
Kini, struktur organisasi MRI semakin solid. "Sekarang ya, sekarang di MRI untuk di head office ada 23 orang, di lapangan ada sekitar 80-an. Dari total mungkin mau 100 lebih. Alhamdullilah," tambahnya.
Membangun Ekosistem Minuman Rempah
Membangun budaya minum rempah di tengah gempuran tren kopi di Bandung bukanlah perkara mudah. Buyung mengakui adanya perbedaan skala pasar yang sangat mencolok.
"Wah, kalau dibandinginnya sama kopi tentu saya pikir jauh berbeda. Jauh, dari sisi market size juga, yang saya tahu itu berbeda sekali, jauh sekali angkanya. Dan saya rasakan juga begitu, walaupun MRI punya 14 outlet dan kita sudah berjalan 5 tahun, tapi kita tuh baru berkembang dengan cukup baik tuh di 2,5 tahun ke belakang," ujarnya.
Minuman Rempah Kekinian di Bandung Foto: Wisma Putra/detikJabar |
Mendapatkan pelanggan setia menjadi tantangan tersendiri yang harus ditaklukkan dengan konsistensi.
"Artinya 2 tahun setengah pertama itu berdarah-darah lah. Masa-masa percobaan, sampai sekarang pun untuk mengakuisisi satu market gitu ya, jadi customer gitu, jadi loyal customer juga itu juga jadi tantangan sih," paparnya.
Meski penuh tantangan, angka penjualan menunjukkan tren positif. Rata-rata satu gerai mampu menjual sekitar 170 hingga 200 cup per hari. Angka ini melonjak drastis dibandingkan masa awal perintisan.
"Pokoknya waktu itu sales sekitar Rp200 ribu per hari lah. Rp200 ribu kalau dulu harganya Rp12.000 gitu ya, atau Rp15.000 ya berarti kan cuman 15 cup gitu ya. Sekarang alhamdullilah," tambahnya.
Racikan Khusus untuk Lidah Muda
Salah satu kunci keberhasilan MRI terletak pada riset mendalam terhadap selera konsumen. Mereka berhasil memformulasikan minuman rempah yang tidak hanya sehat, tetapi juga enak dinikmati.
"Ya, kalau saya riset customer, customer MRI gitu ya, kita memang minuman rempah yang kemudian rasanya kita sesuaikan, kita riset banget nih disesuaikan dengan, pertama manfaatnya dulu. Yang kedua, rasanya disesuaikan dengan selera anak muda yang memang rata-rata mereka enggak terlalu jamu atau minuman rempah yang pahit atau pahang gitu. Nah, itu yang membedakan MRI dengan minuman rempah lainnya. Dan itu pun saya dengar dari customer juga," jelas Buyung.
Minuman Rempah Kekinian di Bandung Foto: Wisma Putra/detikJabar |
Menu di MRI dikelompokkan berdasarkan kebutuhan tubuh, seperti Immun Booster Series untuk daya tahan tubuh dan Energy Booster. Kekayaan rasa ini lahir dari puluhan jenis bahan alami.
"Bahan rempah kita di sini hampir ada 30-an lah ya, 30-an jenis rempah-rempah yang kita pakai di sini. Ya yang paling populer jahe, gitu ya, kencur, kunyit, temulawak, sereh, kapulaga, cengkeh, bunga lawang, banyak lah" tuturnya.
Untuk melengkapi pengalaman bersantai, MRI juga menyajikan kudapan pendamping seperti sourdough cream cheese, sourdough choco cheese, hingga triple cheese yang siap memanjakan lidah pengunjung.



