Minuman Manis Ternyata Lebih Berbahaya dari Dessert

Minuman Manis Ternyata Lebih Berbahaya dari Dessert

Tim detikFood - detikJabar
Sabtu, 15 Agu 2026 22:30 WIB
Mascarcope dessert with layered chocolate, decorated with strawberries, served in a crystal glass
Ilustrasi dessert (Foto: Getty Images/iStockphoto/JCDphoto)
Bandung -

Kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman manis sering menjadi pilihan cepat saat tubuh lelah atau pikiran sedang tertekan. Rasa manis memang mampu memberi efek nyaman dalam waktu singkat. Namun di balik itu, ada risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele.

Menariknya, tidak semua konsumsi gula memberikan dampak yang sama bagi tubuh. Cara mengonsumsi gula, apakah dalam bentuk makanan padat atau minuman? Ternyata berpengaruh besar terhadap risiko yang ditimbulkan.

Minuman manis yang selama ini dianggap praktis dan menyegarkan justru disebut sebagai sumber gula paling berbahaya. Fakta ini terungkap dari sejumlah penelitian terbaru yang menyoroti dampak konsumsi gula terhadap kesehatan jantung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir detikFood yang mengutip Food and Wine, berikut penjelasan para peneliti terkait perbedaan dampak gula dari minuman dan makanan:

ADVERTISEMENT

1. Peringatan Konsumsi Gula Sudah Ada Sejak Lama

Isu bahaya gula tambahan sebenarnya bukan hal baru. Sejak tahun 1977, para ahli telah mengingatkan pentingnya membatasi asupan gula harian karena berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan.

Sayangnya, peringatan tersebut tidak sepenuhnya diikuti. Dalam beberapa dekade terakhir, konsumsi gula tambahan justru meningkat hingga 30 persen. Pada 2020, pemerintah kembali menegaskan batas aman konsumsi gula untuk mencegah risiko penyakit kronis.

2. Studi Besar Soroti Risiko Gula dari Minuman

Penelitian dari Lund University mengungkap fakta mengejutkan. Para peneliti menganalisis data hampir 70 ribu responden dari dua studi jangka panjang di Swedia.

Dalam penelitian tersebut, konsumsi gula dibagi menjadi tiga kategori, yaitu gula dari topping, camilan manis, dan minuman berpemanis.

Hasilnya menunjukkan bahwa gula dalam bentuk cair, terutama dari minuman manis, memiliki dampak paling tinggi terhadap kesehatan dibandingkan gula dari makanan padat.

3. Berkaitan dengan Penyakit Jantung

Konsumsi minuman manis diketahui berkorelasi dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Beberapa di antaranya termasuk stroke iskemik, gagal jantung, hingga gangguan irama jantung.

Tak hanya itu, kebiasaan ini juga dikaitkan dengan risiko aneurisma aorta perut. Para peneliti menyimpulkan bahwa minuman manis memberikan efek yang lebih buruk bagi jantung dibandingkan konsumsi kue atau pastry.

4. Gula Cair Lebih Sulit Dikontrol

Salah satu alasan utama mengapa minuman manis lebih berbahaya adalah karena efek kenyangnya lebih rendah.

"Gula cair membuat rasa kenyang lebih rendah," ujar Suzanne Janzi, peneliti dan kandidat doktor (PhD candidate) di Lund University, Swedia.

Akibatnya, seseorang cenderung mengonsumsi lebih banyak tanpa disadari. Minuman manis juga lebih sering dikonsumsi dalam aktivitas sehari-hari, berbeda dengan dessert yang biasanya hanya dinikmati pada momen tertentu.

"Konteks konsumsi sangat berpengaruh," jelas Janzi.

5. Dessert Sesekali Masih Bisa Ditoleransi

Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan bahwa konsumsi camilan manis dalam jumlah wajar dan tidak terlalu sering justru tidak selalu berdampak buruk.

"Asupan gula sangat rendah belum tentu bermanfaat," kata Janzi.

Peneliti menduga, pola makan secara keseluruhan menjadi faktor penting. Artinya, bukan hanya jumlah gula yang dikonsumsi, tetapi juga sumber dan frekuensi konsumsinya yang menentukan dampak terhadap kesehatan.


Artikel ini telah tayang di detikFood. Baca selengkapnya di sini.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads