Butter tteok belakangan ikut meramaikan tren kuliner di Bandung. Kudapan khas Korea Selatan berbahan dasar tepung beras ini mulai bermunculan di sejumlah coffee shop toko bakery.
Teksturnya yang renyah di bagian luar dan kenyal di dalam membuat banyak orang penasaran untuk mencicipinya. Tak sedikit pula yang memilih menikmatinya bersama secangkir kopi, sehingga butter tteok perlahan menjadi salah satu camilan yang banyak dicari.
Di tengah tren tersebut, Coma Coffee Matter menjadi salah satu coffee shop yang menghadirkan butter tteok ke dalam daftar menunya. Kafe yang berlokasi di Jalan Kacapiring Nomor 7, Kota Bandung ini selama ini dikenal lewat racikan berbagai menu kopinya, termasuk dirty latte yang banyak digemari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun kini, pengunjung juga bisa ngopi sambil menikmati empat varian rasa butter tteok. Mulai dari cheese, ube alias ubi ungu, red bean, hingga matcha. Menu anyar tersebut hadir berdampingan dengan deretan menu baru lain, mulai dari minuman hingga makanan berat.
Manajer Sales Marketing Coma Coffee Matter, Chansay mengatakan, butter tteok di Coma memiliki karakter yang cukup berbeda. Setiap potongannya dibuat lebih buttery dengan lapisan luar yang lebih crispy dibanding butter tteok pada umumnya. Bahkan, ia menyebut cita rasanya mirip dengan butter tteok yang pernah ia cicipi di kafe milik orang Korea.
"Variannya sekarang lebih banyak, terus lebih buttery juga, luarnya crispy. Kalau dibandingkan butter tteok yang ada di Bandung, ini salah satu yang paling enak. Saya pernah mencoba di Jakarta, di kafe punya orang Korea, dan rasanya mirip banget sama yang di sini. Jadi ini sudah mirip sama yang asli di Korea," katanya ketika ditemui detikJabar belum lama ini.
Butter tteok di Coma Coffee Matter Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar |
Kudapan ini disajikan hangat dengan aroma butter yang langsung tercium begitu tiba di meja. Bagian luarnya terasa renyah, sementara bagian dalamnya tetap kenyal khas tteok sehingga menghasilkan paduan tekstur yang kontras.
Sebagai pelengkap, butter tteok disajikan bersama saus karamel. Rasa gurih dari butter berpadu pas dengan manisnya saus karamel tanpa terasa berlebihan.
Selain butter tteok, Coma juga memperluas pilihan bakery yang selama ini menjadi salah satu menu favorit pelanggan. Kini tersedia salt bread caramel, salt bread milky cheese, salt bread chicken floss, hingga soft sourdough choco parmegiano. Seluruh bakery diproduksi setiap hari agar tetap segar saat disajikan kepada pengunjung.
"Best seller kita memang bakery, terutama salt bread. Variannya sekarang cukup banyak dan semuanya kita produksi sendiri," ujar Chansay.
Pilihan Kopi Kian Beragam
Meski menghadirkan berbagai menu baru, kopi tetap menjadi identitas utama Coma. Dirty latte masih menjadi salah satu menu yang paling banyak dicari pelanggan. Rasanya yang creamy dan gurih membuat menu ini bahkan jadi favorit wisatawan luar kota.
Menurut Chansay, karakter dirty latte Coma terletak pada keseimbangan rasa antara kopi dan susu. Teknik penyajiannya juga menjadi salah satu faktor yang membuat cita rasanya konsisten.
"Yang ngebedain dirty latte kita itu kopinya balance sekali sama susunya. Teknik bikin dirty latte juga memang agak susah. Alhamdulillah kita punya resep yang memang kalau sama susu itu, sama kopi itu perfect rasanya," ujarnya.
Di luar menu andalan tersebut, Coma juga memperkenalkan lima minuman baru, yakni berrycano, black apple, matcha blanc, mont blanc, dan butterscotch biscoff. Masing-masing menawarkan karakter rasa yang berbeda.
Black apple menjadi salah satu menu yang paling menarik perhatian detikJabar. Saat tegukan pertama, rasa apel yang segar langsung mendominasi.
Kopi di Coma Coffee Matter Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar |
Beberapa saat kemudian, karakter kopi arabika dengan sentuhan fruity mulai muncul di bagian akhir sehingga rasa kopi tidak langsung menutupi kesegaran buah. Rasanya ringan dan menyegarkan, bahkan terasa cocok bagi orang yang tidak menyukai kopi.
Berbeda dengan black apple, berrycano menawarkan perpaduan rasa manis buah beri dengan karakter kopi yang tetap bold. Sentuhan pahit di bagian akhir membuat rasa kopinya tetap terasa tanpa menghilangkan kesegaran buah beri.
Bagi pencinta minuman dengan tekstur creamy, mont blanc dan butterscotch biscoff bisa menjadi pilihan. Mont blanc menghadirkan karakter kopi yang lembut dengan tekstur yang ringan, sedangkan butterscotch biscoff menawarkan aroma karamel yang cukup kuat dan meninggalkan sensasi menyerupai rhum.
Sementara itu, matcha blanc melengkapi pilihan minuman nonkopi. Teksturnya creamy dengan rasa matcha yang cukup kuat, tetapi tidak meninggalkan rasa pahit berlebih. Foam tipis di bagian atas memberi sedikit sentuhan manis sehingga keseluruhan rasanya tetap seimbang.
Tak berhenti di kopi dan bakery, Coma kini juga memperluas pilihan makanan berat. Salah satu menu yang baru diperkenalkan adalah nasi telur barendo.
Menu ini menyajikan seporsi nasi hangat bersama telur barendo dan sambal hijau juga bumbu rempah. Aroma rempah langsung tercium sejak pertama kali dihidangkan. Rasanya mengingatkan pada cita rasa masakan Minang dengan sedikit sentuhan bumbu ala India.
Menurut Chansay, keputusan menghadirkan lebih banyak menu bercita rasa Indonesia berangkat dari respons pelanggan terhadap menu ayam bawang yang lebih dulu diluncurkan. Sambutan yang positif membuat Coma mulai mengembangkan lebih banyak hidangan dengan cita rasa lokal.
"Kita sekarang merambah menu Indonesia karena waktu kemarin release ayam bawang ternyata jadi best seller. Akhirnya kita menyimpulkan kalau orang-orang yang datang ke Coma ternyata lidahnya masih suka makanan Indonesia, cuma kita modifikasi lagi supaya lebih menarik," katanya.
Meski demikian, Coma tidak meninggalkan menu bergaya Jepang yang sudah lebih dulu hadir. Ke depan, mereka bahkan berencana menghadirkan menu sarapan dengan konsep peranakan agar pilihan makanan semakin beragam. Sehingga, pengunjung memiliki lebih banyak pilihan saat datang ke Coma.
"Kalau menurut aku semua kalangan bisa datang ke Coma. Mau work from cafe, meeting, nongkrong, atau makan sama keluarga juga bisa. Weekend juga banyak wisatawan dari Jakarta yang datang buat nyobain dirty latte, butter tteok sampai bakery kita," tutup Chansay.


