Spot Nongkrong Estetik ala Jepang di Bandung yang Jadi Surganya Matcha

Spot Nongkrong Estetik ala Jepang di Bandung yang Jadi Surganya Matcha

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Minggu, 19 Jul 2026 07:30 WIB
Menu di Cafe de Ruru Bandung
Menu di Cafe de Ruru Bandung. Foto: Nur Khansa Ranawati
Bandung -

Bandung seolah tak pernah kehabisan ide untuk menghadirkan tempat nongkrong dengan tema unik. Di tengah tren minuman matcha, terdapat satu tempat anyar yang tengah banyak diburu pencinta teh hijau asal Jepang tersebut.

Lokasinya berada tepat di seberang Taman Foto Bandung dan tak jauh dari salah satu pusat oleh-oleh, tepatnya di Jalan Anggrek Nomor 24. Cafe de Ruru, demikian nama kafe bernuansa Jepang tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suasana ala Jepang sudah terasa sejak memasuki area kafe. Sebuah zen garden kecil menyambut di bagian depan. Interiornya didominasi furnitur kayu dengan warna-warna hangat, sementara area duduk tatami menjadi salah satu sudut favorit pengunjung.
Di bagian tengah kafe terdapat area bar sekaligus kasir yang menjadi pusat perhatian.

Pasalnya, di spot tersebut pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan setiap gelas matcha yang dipesan. Bubuk matcha dituang ke dalam mangkuk, kemudian di-whisk menggunakan chasen atau pengocok bambu khas Jepang. Semua pesanan dibuat satu per satu secara manual.

ADVERTISEMENT

Supervisor Cafe de Ruru, Lala mengatakan cara tersebut dipertahankan agar aroma dan karakter setiap matcha yang dibuat tetap menonjol. Busa halus yang terbentuk dari proses whisk manual juga menghasilkan tekstur yang lebih lembut saat diminum.

"Pembuatan matchanya di-whisk manual satu-satu jadi matchanya lebih wangi dan rasanya lebih keluar," ujarnya pada detikJabar belum lama ini.

Seluruh bubuk matcha yang digunakan pun berasal dari Jepang. Jenisnya pun beragam, mulai dari Yame, Kagoshima hingga daerah lainnya.

"Cafe de Ruru matcha pakai dari berbagai matcha Jepang, dari Yame, Kagoshima, dan banyak yang lain. Ada ceremonial matcha, kita semuanya sudah termasuk ceremonial," jelasnya.

Pengunjung juga bisa memilih berbagai jenis karakter matcha yang tersedia sesuai selera. Ada yang memiliki rasa lebih nutty, lebih pahit, hingga karakter yang lebih ringan. Pengunjung bahkan dapat mengganti jenis bubuk matcha dengan varian premium.

"Setiap bubuk matcha punya karakteristik masing-masing. Ada yang nutty, ada yang cenderung pahit, ada yang agak manis. Bisa dipilih sesuai karakter konsumen. Bisa juga custom atau upgrade ke bubuk yang lain, harganya beda-beda," jelas Lala.

Salah satu varian premium yang cukup banyak dipilih adalah Saemidori asal Kagoshima. Matcha ini memiliki warna hijau yang lebih cerah dengan rasa yang lebih pekat dan tekstur yang lebih halus.

"Yang paling mahal tentu ceremonial. Yang Saemidori dari Kagoshima, warnanya lebih cantik hijaunya, rasanya lebih pekat, lebih smooth," katanya.

Untuk menu, Lala menjelakan, cold whisk matcha masih menjadi minuman yang paling banyak dipesan. Berbeda dengan racikan pada umumnya, Cafe de Ruru menggunakan susu penuh saat proses whisk sehingga menghasilkan tekstur yang lebih creamy.

"Kalau yang klasik cold whisk ini lebih ke tekniknya. Kita pakai full susu buat nge-whisk matchanya, jadi hasilnya lebih creamy dan nge-blend," ujar Lala.

Pilihan lainnya juga cukup beragam. Ada ube foam matcha latte dengan foam ubi yang lembut, peach berry matcha latte yang memadukan homemade peach jam dan strawberry jam, hingga beragam kreasi matcha lain dengan tingkat rasa yang bisa disesuaikan.

Bagi pengunjung yang tidak menyukai matcha, tersedia juga pilihan minuman lain. Ada Es Kopi Si Maung, Mont Blanc, aneka mocktail, hingga minuman berbahan semangka.

Uniknya Mochi Jumbo Khas Jepang

Selain matcha, warabi mochi menjadi menu yang paling sering terlihat di hampir setiap meja pengunjung. Dessert ini hadir dalam porsi besar sehingga cukup dinikmati bersama teman atau keluarga.

Penyajiannya pun berbeda dari warabi mochi yang biasa ditemui di Jepang. Sembilan mochi bulat berukuran besar disusun di atas tumpukan es serut dalam mangkuk jumbo.

Di sampingnya tersedia dua pelengkap khas Jepang, yakni kinako atau bubuk kedelai panggang dan kuromitsu atau sirup gula merah khas Jepang. Pengunjung juga mendapat kartu kecil berisi urutan cara menikmati warabi mochi.

Saat dicicipi tanpa pelengkap, tekstur mochinya terasa sangat kenyal dengan rasa yang ringan dan tidak terlalu manis. Sensasi dingin dari es serut membuat dessert ini terasa menyegarkan.

Rasa berubah ketika mochi dicelupkan ke dalam kuromitsu. Sirup gula merah khas Jepang itu memberi rasa manis yang halus.

Baluran kinako kemudian menambah aroma gurih seperti kacang sangrai. Di akhir gigitan, muncul hint matcha yang tipis dan tertinggal di lidah.

Lala mengatakan menu tersebut terinspirasi dari pengalaman pemilik Cafe de Ruru saat berlibur ke Jepang. Warabi mochi kemudian dimodifikasi agar lebih cocok dinikmati di cuaca Bandung.

"Inspirasinya datang dari owner yang liburan di Jepang. Mereka coba dessert warabi, terinspirasi dengan rasanya yang manis dan cocok dipairing dengan matcha. Dimodifikasi dengan suasana Bandung yang cerah jadi kita kasih es biar segar," katanya.

Kuromitsu dan kinako sengaja dipilih karena menjadi pelengkap yang umum digunakan saat menyantap warabi mochi di Jepang. Keduanya juga dinilai mampu menyeimbangkan karakter matcha.

"Kita sajikan dengan es serut, ada kuromitsu Japanese brown sugar dan kinako. Tamu bakal bisa experience makan mochinya dicelupin. Lebih asyik karena porsinya banyak," ujar Lala.

Menurutnya, pengalaman menjadi hal yang ingin ditawarkan Cafe de Ruru kepada setiap pengunjung. Bukan hanya menikmati segelas matcha, tetapi juga melihat proses penyeduhannya dan mengenal karakter setiap bubuk matcha yang digunakan.

"Open bar kita menawarkan experience yang berbeda untuk tamu. Mereka bisa melihat langsung pembuatan matchanya. Di-whisk satu per satu, jadi lebih eksklusif, rasanya lebih keluar dan matchanya lebih wangi," pungkasnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads